Gaya Kepemimpinan : Pengertian, Indikator-indikator, dan Tipe-tipe Gaya Kepemimpinan

Gaya Kepemimpinan : Pengertian, Indikator-indikator, dan Tipe-tipe Gaya Kepemimpinan

Pengertian Gaya Kepemimpinan

Dalam melakukan kegiatan menggerakan atau memberikan motivasi kepada bawahannya, berbagai cara dapat dilakukan oleh seorang pemimpin yakni dengan melakukan tindakan-tindakan yang selalu terarah pada pencapaian tujuan organisasi. Cara atau teknik seseorang dalam menjalankan kepemimpinan disebut gaya kepemimpinan.

Adapun gaya kepemimpinan menurut Malayu Hasibuan (2012:170) yaitu :

1). Kepemimpinan Otoriter

Kepemimpinan otoriter adalah jika kekuasaan atau wewenang, sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau kalau pimpinan itu menganut system sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya ditetapkan sendiri oleh pemimpin, bawahan tidak diikut sertakan untuk memberikan saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Orientasi kepemimpinan ini difokuskan hanya untuk peningkatan produktivitas kerja karyawan dengan kurang memperhatikan perasaan dan kesejahteraan bawahan. Pimpinan menganut system menajemen tetutup (closed menagement) kurang menginformasikan keadaan perusahaan pada bawahannya.

2). Kepemimpinan Partisipatif

Kepemimpinan Pertisipasif adalah apabila dalam kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan kerja sama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi para bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar merasa ikut memiliki perusahaan. Pemimpin dengan gaya partisipasif akan mendorong kemampuan bawahan mengambil keputusan. Dengan demikian, pemimpin akan selaiu membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar.

3). Kepemimpinan Delegatif

Dalam kepemimpinan Delegatif ini apabila seorang pemimpin mendelegasikan wewenang kepada bawahan dengan agak lengkap. Dengan demikian, bawahan dapat mengambil keputusan dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa dalam melaksanakan pekerjaannya. Pemimpin tidak peduli cara bawahan mengambil keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan kepada bawahan. Disini pimpinan menyerahkan tanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan kepada bawahan dalam anti pimpinan menginginkan agar para bawahan bisa mengendalikan diri mereka sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Pimpinan tidak akan membuat peraturan-peraturan tentang pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan itu dan hanya sedikit melakukan kontak dengan bawahannya.

4). Kepemimpinan Situasional

Modal kepemimpinan ini dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard yang pada awalnya memang mengacu pada pendekatan teori situasional yang menekankan perilaku pemimpin dan merupakan modal prektis yang dapat digunakan manajer, tenaga pemasaran, guru, atau orangtua untuk membuat keputusan dari waktu ke waktu secara efektif dalam rangka mempengaruhi orang lain. Fokus pendekatan situasional terhadap pemimpin terletak pada perilaku yang diobservasi atau perilaku nyata yang terlihat, bukan pada kemampuan atau potensi kepemimpinan yang dibawa sejak lahir. Penekanan pendekatan situasional adalah pada perilaku pemimpin dan anggota/pengikut dalam kelompok dan situasi yang variatif.

Menurut House Robbins yang dikutip oleh Donni dan Suwatno (2011:158), gaya kepemimpinan dapat dibagi menjadi empat yaitu

a). Kepemimpinan Direktif

Kepemimpinan ini membuat bawahan agar tahu apa yang diharapkan pimpinan dari mereka, menjadwalkan kerja untuk dilakukan, dan memberi bimbingan khusus mengenai bagaimana menyelesaikan tugas.

b). Kepemimpinan yang mendukung

Kepemimpinan ini bersifat ramah dan menunjukkan kepedulian akan kebutuhan bawahan.

c). Kepemimpinan Partisipatif

Kepemimpinan ini berkonsultasi dengan bawahan dan menggunakan saran mereka sebelum mengambil keputusan.

d). Kepemimpinan Berorientasi pada Prestasi

Kepemimpinan ini menetapkan tujuan yang mendukung dan mengharapkan bawahan untuk berprestasi pada tingkat tertinggi mereka.

Indikator-indikator Gaya Kepemimpinan

Untuk dapat membedakan seorang pemimpin dalam berinteraksi dengan orang lain maka dapat dilihat melalui indikator-indikator gaya kepemimpinan menurut (Hasibuan, 2007:170) :

1). Pengambilan keputusan

  1. Diambil sendiri oleh pimpinan
  2. Diambil bersama-sama antara pemimpin dengan karyawan
  3. Diambil oleh mayoritas suatu karyawan

b). Perilaku pemimpin

  1. Memberikan pengarahan kepada karyawan
  2. Perhatian yang sungguh-sungguh kepada karyawan
  3. Memberikan imbalan yang sesuai dengan prestasi kerja karyawan

3). Orientasi kepemimpinan

  1. Berorientasi tugas
  2. Berorientasi hubungan
  3. Berorientasi tugas dan hubungan

Tipe-tipe Gaya Kepemimpinan

Ada tiga gaya kepemimpinan klasik yaitu :

1). Gaya kepemimpinan Otoriter (Authoritarian)

Pemimpin memusatkan kekuasaan dan keputusan-keputusan pada diri pemimpin sendiri. Pemimpin memegang wewenang sepenuhnya dan memikul tanggung jawab sendiri. Para bawahan hanya diberi informasi secukupnya untuk melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin.

2). Gaya kepemimpinan Demokratis (Democratic)

Pemimpin mendelegasikan wewenangnya secara luas. Pembuatan keputusan selalu dirundung dengan para bawahan, sehingga pemimpin dan bawahan bekerja sebagai suatu tim. Pemimpin memberi informasi sebanyak-banyaknya kepada bawahan tentang tugas dan pekerjaan mereka.

3). Gaya kepemimpinan Bebas (Laissez-Faire)

Pemimpin hanya berpartisipasi minimum, para bawahannya menentukan sendiri tujuan yang akan dicapai dan menyelesaikan sendiri masalahnya.

Seperti juga gaya di atas. Theo Heiman mengemukakan :

a). Pemimpin Autokratik (the autocratic leader)

b). Pemimpin Partisipatif (the participative leader)

c). Pemimpin Bebas (the Free-rein leader)

Ketiga gaya kepemimpinan tersebut di atas dijabarkan lebih sempit adalah sebagai berikut :

I).  Kepemimpinan Autokratik

Karakteristiknya adalah sebagai berikut :

  1. Kekuasaan dan hak pemimpin berdasarkan pada wewenang posisinya
  2. Semua keputusan dibuat oleh pemimpin
  3. Pemimpin menggunakan bales jasa (reward) dan hukuman (punishment) untuk mengendalikan pare bawahan
  4. Pekerjaan dirumuskan secara rinci dan standar kerja diterapkan secara kaku.

Gaya ini tepat di dalam situasi sebagai berikut :

  1. Para bawahan tidak punya pengalaman kerja
  2. Keadaan darurat, keputusan harus segera dibuat
  3. Diperlukan tindakan penertiban dan sebagainya

Pada umumnya reaksi para bawahan adalah sebagai berikut :

  1. Menolak baik pemimpin maupun metode dalam perintahnya
  2. Takut dan sangat tergantung pada pemimpin
  3. Mencari “mampu” dengan mengikuti perintah pemimpin
  4. Bawahan  yang “mampu” menjadi frustasi karena tidak dapat menunjukkan kemampuannya.

II). Kepemimpinan Demokratik/Partisipatif

Karakteristiknya adalah sebagai berikut :

  1. Mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab kepada para bawahan sebagai suatu “team work” sesuai dengan keterampilan dan pengalaman yang dimiliki para bawahan
  2. Lebih menekankan pada pencapaian tujuan atau hasil daripada kerja atau kegiatannya
  3. Perhatian pada produksi dan karyawan besar serta medorong kerja sama kelompok untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas yang lebih besar
  4. Merumuskan sasaran kelompok kemudian memberikan kebebasan di dalam pencapaiannya
  5. Menerima tanggung jawab penuh di dalam membuat semua keputusan akhir.

Gaya ini tepat di dalam situasi sebagai berikut

  1. Para bawahan sudah terlatih dan berpengalaman
  2. Para bawahan mampu bekerja mandiri dengan sedikit kontak langsung dengan supervisor
  3. Kelompok kerja telah teruji dapat bekerja sama dan melaksanakan kerja dengan tim secara baik

Pada umumnya reaksi para bawahan terdapat gaya kepemimpinan ini adalah sebagai berikut :

  1. Para bawahan menghormati atasan tidak hanya karena posisinya tetapi juga pribadinya
  2. Para bawahan merasa dapat bekerja sama dengan pemimpinnya serta merasakan suasana kerja yang hormonis

III). Kepemimpinan Bebas (Free-rein atau Laisser Faire)

Karakteristiknya adalah sebagai berikut :

  1. Pemimpin memberi kebebasan para bawahan untuk membentuk kelompok kerja mereka
  2. Pembuatan keputusan dilakukan melalui diskusi terbuka, kreativitas individu dan semua pandangan dihormati
  3. Pembuatan keputusan ditentukan dengan ukuran mayoritas

Gaya ini tepat untuk situasi sebagai berikut :

  1. Kelompok terdiri dari orang ahli yang sudah berpengalaman dan ingin membuat keputusan sendiri
  2. Kelompoknya kecil dan punya banyak kesempatan berinteraksi di antara para anggota terutama dalam pemecahan masalah yang dihadapi
  3. Punya banyak waktu di dalam pengambilan keputusan

Pada umumnya reaksi para bawahan terdapat gaya kepemimpinan ini adalah sebagai berikut :

  1. Para bawahan merasakan suasana kerja yang bebas dan informal sehingga setiap individu dapat memecahkan sendiri masalah-masalah kerja yang ada
  2. Ada perasaan kurang “aman” sehingga menimbulkan frustasi karena kurangnya wewenang dan tanggung jawab pembuatan keputusan yang spesifik
  3. Kurangnya perilaku kohesif dapat menimbulkan klik-klik yang menghambat pencapaian tujuan.