Macam-macam Pupuk Organik

Macam-macam Pupuk Organik

Pupuk Organik Padat

a). Pupuk Kandang

Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Hampir semua kotoran hewan dapat digunakan sebagai pupuk kandang. Hewan yang kotorannya sering digunakan untuk pupuk kandang adalah yang biasa dipelihara masyarakat. Hewan yang sering dipelihara biasanya dari jenis mamalia dan unggas. Kotoran kambing, domba, sapi, dan ayam merupakan pupuk kandang yang paling sering digunakan. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga bisa berupa cair yang berasal dari air kencing hewan (urin) (Parnata, 2004).

b). Pupuk Hijau

Pupuk hijau adalah pupuk yang berasal dan tanaman. Bagian yang sering dipakai untuk pupuk hijau adalah daun, tangkai, dan batang yang masih muda. Bahan-bahan ini mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman terutama nitrogen. Semua jenis tanaman bisa dijadikan sebagai pupuk hijau. Namun, tanaman yang paling bagus untuk pupuk hijau adalah yang akarnya bersimbiosis dengan mikroorganisme pengikat nitrogen (legum). Selain itu, tanaman tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut.

  1. Sistem perakarannya dangkal dan memiliki akar serabut.
  2. Daum lebat tetapi berbatang tidak terlalu keras.
  3. Bagian daun lunak sehingga mudah terurai oleh mikroorganisme (Parnata, 2004).

c). Kompos

Pupuk organik lainnya yang sering dipakai adalah kompos. Kompos merupakan sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan, dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi. Sebenarnya, pupuk kandang dan pupuk hijau merupakan bagian dari kompos. Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos di antaranya jerami dan sekam padi, tanaman pisang, gulma, sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa. Bahan dari ternak yang sering digunakan untuk kompos diantaranya kotoran ternak, urin, pakan ternak yang terbuang, dan cairan biogas. Tanaman air yang sering digunakan untuk kompos diantaranya ganggang biru, gulma air, enceng gondok, dan azola (Parnata, 2004).

d). Humus

Humus merupakan hasil dekomposisi (penghancuran) tumbuhan berupa daun, akar, cabang, ranting, dan batang secara alami. Proses dekomposisi ini dipengaruhi oleh cuaca di atas permukaan tanah dan dibantu oleh mikroorganisme tanah. Dari pengertian diatas sebenarnya humus hampir sama dengan pupuk hijau. Perbedaannya terletak pada prosesnya. Humus terbentuk secara alami dan sebagian besar terjadi di hutan, tetapi pupuk hijau terbentuk dengan melibatkan campur tangan manusia. Humus berwarna cokelat sampai hitam. Humus memiliki daya ikat dan daya serap yang lebih baik dibandingkan dengan kompos. Humus asli yang merupakan hasil proses alam sulit ditemukan dipasaran. Di pasaran, pupuk ini diperdagangkan dengan menambah unsur makro N, P, dan K (Parnata, 2004).

e). Pupuk Organik Buatan

Pupuk organik buatan adalah pupuk organik yang diproduksi di pabrik dengan menggunakan peralatan yang modern. Pupuk organik buatan umumnya merupakan campuran beberapa jenis bahan organik. Pencampuran beberapa jenis bahan organik ini bertujuan untuk meningkatkan kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Adanya peningkatan kandungan unsur hara menyebabkan efektivitas dan efisiensi penggunaan pupuk buatan lebih meningkat. Selain itu, dengan kuantitas yang lebih sedikit dan pada pupuk organik alami akan mendatangkan manfaat yang lebih besar bagi tanaman. Pupuk organik buatan yang sering ditemui di pasaran adalah kascing (Parnata, 2004).

Pupuk Organik Cair

Pupuk organik cair adalah pupuk yang kandungan bahan kimianya maksimum 5 %. Karena itu, kandungan NPK pupuk organik cair relatif rendah. Jika ada pupuk organik yang kandungan NPK 10-10-10 dapat dipastikan pupuk tersebut palsu. Pupuk organik cair memiliki beberapa keuntungan. Pertama, pupuk tersebut mengandung zat tertentu seperti mikroorganisme mati dan zat tidak bisa aktif. Jika dicampur dengan pupuk organik padat, pupuk organik cair dapat mengaktifkan unsur hara yang ada dalam pupuk organik padat (Parnata, 2004).

Secara tradisional, petani telah banyak memanfaatkan pupuk organik cair dari urin hewan. Pads saat ini, telah beredar pupuk organik cair hasil pengolahan bioteknologi. Beberapa produknya adalah Mukti Sari Asri, Organik Soil Treatment (OST), Bio Fertilizer Pro, Super Natural Nutrision, Kompos dan Bio Sugih (Parnata, 2004).

a). Pupuk kandang cair

Pupuk kandang cair merupakan pupuk cair yang berasal dari urin ternak. Mengumpulkan kotoran cair ternak harus dilakukan dengan baik agar pengaplikasiannya mudah. Pengumpulan dan penggunaan pupuk kandang cair dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. Dasar kandang dan tempat memandikan ternak harus terbuat dari semen agar cairan urin atau air bekas memandikan tidak terbuang. Cairan ini akan ditampung di dalam bak. Kotoran cair ini bisa digunakan bersama-sama dengan kotoran padat, kompos, atau pupuk hijau. Pemberian pupuk kandang cair paling baik dilakukan pada masa vegetatif dan masa perkembangbiakan, sebab masa tersebut, tanaman sedang banyak membutuhkan nutrisi. Sebagian nutrisi dalam pupuk kandang cair akan langsung diserap tanaman dan sebagian lagi akan terurai. Penguraian pupuk kandang cair berlangsung relatif cepat (Parnata, 2004).

b). Biogas

Proses biogas sebenarnya merupakan gabungan dari fermentasi bahan organik cair dengan bahan organik padat. Behan-bahan organik ini berasal dan manusia, hewan dan tumbuhan. Semua bahan organik dimasukkan ke dalam tangki yang telah dirancang khusus. Dalam tangki ini akan terjadi proses fermentasi. Fermentasi biogas bahan organik sebanyak 1 kg akan menghasilkan gas metana sebanyak 0,20-0,38 m3. Sisa hasil fermentasi sebanyak 30-60 % berupa bahan organik yang dapat digunakan sebagai pupuk. Proses biogas memiliki kemampuan mempertahankan kandungan nitrogen dan fosfor organik yang lebih baik daripada proses pengomposan (Parnata, 2004).

Hasil biogas dari residu limbah padat atau cair sebanyak 90 kg nitrogen per hektar yang diaplikasikan pada tanaman padi akan menghasilkan padi sebanyak 6 ton per hektar. Hasil yang diperoleh ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil padi yang dipupuk dengan pupuk kimia sebanyak 30-60 kg nitrogen per hektar. Selain itu, penggunaan limbah biogas secara rutin mampu meningkatkan produksi padi secara kontinu. Sementara itu, penggunaan pupuk kimia yang terus menerus cenderung menurunkan produksi (Parnata, 2004).

Takaran pemakaian biogas yang ekonomis adalah 30 kg nitrogen per hektar. Pemakaian sebanyak ini akan menghasilkan produksi padi sebesar 4,4 ton per hektar. Keunggulan biogas adalah tidak ditemuinya residu biogas di lahan. Keadaan ini berbeda dengan pupuk kimia yang cenderung meninggalkan residu yang berbahaya (Parnata, 2004).

c). Pupuk cair dari limbah organik

Bukan hanya limbah padat yang bisa dipakai pupuk, limbah cair organik juga bisa dipakai sebagai pupuk. Limbah cair banyak mengandung unsur hara (NPK) dan bahan organik lainnya. Limbah cair organik bisa diubah menjadi asam humat yang dapat memperbaiki struktur dan kualitas tanah. Pupuk cair dari limbah organik dapat langsung dipakai sebagai pupuk dasar dan pupuk setelah tanaman tumbuh (Parnata, 2004).

d). Pupuk cair dari limbah kotoran manusia

Pemanfaatan kotoran manusia untuk pupuk bisa dilakukan dengan pengolahan yang sederhana tanpa melalui proses biogas. Kandungan kotoran manusia terdiri dari (66-80%), senyawa organik (88-97%), nitrogen (5-7%), fosfor (3-5,4%), kalium (1-2, 5 %), karbon (40-55%), kalsium (4-5%), dan C/N rasio 5-10 (Parnata, 2004).

Loading...
error: Content is protected !!