Pengertian Tembaga (Cu)

Pengertian Tembaga (Cu)

Tembaga (Cu) dalam sistem periode unsur termasuk logam golongan IB dengan nomor atom 29. Logam ini mudah ditempa sehingga mudah dibentuk, tidak reaktif secara kimiawi. Densitas pada 200C adalah 8,92 g cm-3, meleleh pada suhu 10830C dan mendidih pada suhu 25700C. Cu dalam bentuk ion memiliki bilangan oksidasi +1 dan +2. Cu merupakan konduktor panas dan listrik yang sangat baik (setelah perak) karena itu logam Cu banyak digunakan dalam bidang elektronika. Kehadiran sejumlah kecil pengotor, seperti arsen dapat mempengaruhi konduktivitasnya. Cu dapat diekstrak dari bijih sulfidanya melalui proses termal yaitu pirometalurgi atau dengan proses pelarutan air yaitu hidrometalurgi.

Tembaga (Cu)

Tembaga merupakan salah satu logam berat yang banyak pemanfaatannya, hal ini berkaitan dengan sifat Cu yang siap pakai, tahan karat, konduktor listrik yang bagus dan tidak magnetik. Oksida tembaga (CuO) banyak digunakan sebagai katalis, baterai, dan elektroda. Turunan senyawa tembaga karbonat banyak dipakai sebagai pigmen, insektisida, fungisida dan pewarna kuningan. Senyawa kloridanya digunakan dalam bidang metalurgi, fotografi, pemurnian air dan aditif bahan makanan.

Tembaga digolongkan ke dalam logam berat essensial, artinya meskipun tembaga merupakan logam berat beracun, unsur logam ini dibutuhkan tubuh dalam jumlah sedikit. Cu dalam jumlah kecil sangat diperlukan oleh mahluk hidup. Toksisitas yang dimiliki Cu baru akan bekerja dan memperlihatkan pengaruhnya bila logam ini telah masuk ke dalam tubuh organisme dalam jumlah besar atau melebihi nilai toleransi organisme terkait.

Pada manusia Cu dikelompokan ke dalam metaloenzim di dalam sistem metabolismenya. Logam Cu dibutuhkan untuk sistem enzim oksidatif. Logam Cu juga dibutuhkan sebagai kompleks Cu-protein yang mempunyai fungsi tertentu pada pembentukan haemoglobin, pembuluh darah, kolagen dan myelin otak. Konsumsi Cu yang baik bagi manusia adalah 2.5 mg/kg berat tubuh orang dewasa dan 0.05 mg/kg berat tubuh untuk anak-anak dan bayi (Heryando Palar, 2004).

Sesuai sifatnya sebagai logam berat yang berbahaya, Cu dapat mengakibatkan keracunan baik secara akut maupun kronis. Keracunan akut dan kronis ini terjadinya ditentukan oleh besarnya dosis yang masuk dan kemampuan mikroorganisme untuk menetralisir dosis tersebut. Keracunan Kronis ditandai dengan gejala:

  1. Adanya rasa logam pada pernafasan.
  2. Adanya rasa terbakar pada epigastrum dan muntah yang terjadi secara berulang-ulang.
  3. Pada konsentrasi tinggi menyebabkan pendarahan saluran gastrointestinal.

Keracunan Cu secara kronis dapat terlihat dengan timbulnya penyakit Wilson dan Kinsky. Gejala penyakit Wilson ini adalah terjadinya hepaticchorrosis, kerusakan pada otak dan demyelinasi, terjadinya penurunan kerja ginjal dan pengendapan Cu pada kornea mata. Penyakit Kinsky dapat ditandai dengan terbentuknya rambut yang kaku dan berwarna kemerahan. Sementara pada hewan seperti kerang, bila dalam tubuhnya telah terakumulasi Cu dalam jumlah yang tinggi maka bagian otot tubuhnya akan berwarna kehijauan. Hal ini dapat menjadi petunjuk apakah kerang tersebut layak dikonsumsi (Connel, 1995).

Loading...
error: Content is protected !!