Pengertian Tanaman Sirih

Pengertian Tanaman Sirih

Menurut Dwidjosoeputro (2000), tanaman sirih diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi : Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo : Piperales, Famili : Piperaceae , Genus : Ranales, Spesies : Piper betle Linn.

Daun sirih

Tanaman ini asal usulnya tidak diketahui dengan pasti. Tanaman sirih tumbuh subur di sepanjang Asia tropis sampai Afrika Timur, menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, Malaysia, Thailand, Srilanka, India, sampai Madagaskar (Damayanti dan Mulyono, 2003).

Sirih memiliki nama daerah yang cukup banyak di antaranya suruh (Jawa); seureuh (Sunda) base (Bali); leko, kowak, malo, malu (Nusa Tenggara); dontile, parigi, gamjeng (Sulawesi); gies, bido (Maluku): sirih, ranub, sereh, sirieh (Melayu) (Rhumphius dalam Heyne, 1987). Hal ini menandakan bahwa tanaman ini mampu dan mudah tumbuh di berbagai tempat di seluruh Indonesia.

1). Morfologi Sirih

Sirih (P, belle) merupakan tanaman tema, tumbuh merambat atau menjalar menyerupai tanaman lada. Tinggi tanaman sirih bisa mencapai 15 m, tergantung pada kesuburan media tanam dan rendahnya media untuk merambat. Batang berwarna cokelat kehijauan, berbentuk bulat, berkerut, dan beruas yang merupakan tempat keluarnya akar (Syukur dan Hernani, 2001).

Menurut Damayanti dan Mulyono (2003), daun sirih berbentuk jantung, berujung runcing, bertangkai, teksturya agak kasar jika diraba, dan mengeluarkan bau yang sedap (aromatis) jika diremas. Panjang daun 6-17,5 cm dan lebar 3,5-10 cm. Warna daun sirih bervariasi dari kuning, hijau, sampai hijau tua. Sirih berbunga majemuk yang berbentuk bulir dan merunduk. Bunga sirih dilindungi oleh daun pelindung yang berbentuk bulat panjang dengan diameter 1 mm. Bulir jantan panjangnya sekitar 1,5-3 cm dan memiliki dua benang sari yang pendek. Bulir betina panjangnya sekitar 1,5-6 cm, memiliki kepala plink tiga sampai lima buah yang berwarna putih dan hijau kekuningan. Buah terletak tersembunyi atau buni, berbentuk bulat, berdaging, dan berwarna kuning kehijauan hingga keabu-abuan. Sirih memiliki akar tunggang yang bentuknya bulat dan berwarna cokelat kekuningan.

Menurut Syukur dan Hernani (2001), sirih dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan bentuk daun dan rasa, yaitu: sirih jawa (berdaun hijau tua dan rasanya kurang tajam), sirih banda (berdaun besar, berwarna hijau tua dengan warna kuning di beberapa bagian, rasa dan bau lebih sengak), sirih cengkeh (daun kecil, lebih kuning, dan rasanya seperti cengkeh), sirih hitam (rasanya sengak dan digunakan sebagai campuran berbagai obat).

2). Kandungan Daun Sirih

Syukur dan Hernani (2001) mengatakan, ekstrak daun sirih mengandung minyak atsiri yang terdiri dari berbagai senyawa seperti kavikol, karvakrol, sineol, metil kavikol, eugenol, eugenol metil eter, dan betelphenol.

Aroma dan rasa daun sirih yang khas, pedas dan tajam disebabkan oleh kavikol dan betlephenol yang terkandung dalam minyak atsiri, dimana kedua zat tersebut merupakan kandungan terbesar minyak atsiri yang ada dalam daun sirih (Rhumphius dalam Heyne, 1987). Faktor lain yang menentukan aroma dan rasa daun sirih adalah jenis sirih, umur sirih, dan jumlah sinar matahari yang sampai kebagian daun. Daun yang lebih muda mengandung minyak atsiri, diasiase dan gula yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan daun yang lebih tua. Sedangkan kandungan tannin pada daun muda dan daun tua sama (Damayanti dan Mulyono, 2003).

Loading...
error: Content is protected !!