Karakteristik Jamur Fusarium sp.

Karakteristik Jamur Fusarium sp.

1). Klasifikasi Fusarium sp.

Menurut Agrios ( 1 988), klasifikasi amur Fusarium sp. sebagai berikut:

Divisi : Eumycota, Sub divisi : Deuteromycotina, Kelas : Deuteromycetes, Ordo : Hypales (Moniliales) Genus : Fusarium, Spesies Fusarium sp.

Miselium dan jamur ini banyak dan menyerupai kapas. Mula-mula miselium tidak berwarna, semakin tua miselium semakin berwarna merah muda atau kuning di dalam media biakan. Jamur ini mempunyai konidiofor yang bervariasi, sederhana, ramping atau pendek, bercabang-cabang dengan tegap atau mengandung sekelompok lingkaran (fialid atau konidia) yang dapat berdiri sendiri atau berkelompok membentuk sporodochia. Konidia tidak berwarna (hialin) yang terdiri dari dua jenis yaitu makrokonidia dan mikrokonidia. Makrokonidia mempunyai banyak sel biasanya 4-5 sekat, ujung konidia agak meruncing atau alasnya berbentuk sepatu serta berukuran 27-60 x 3-5 µm. Mikrokonidia bersel tunggal, bulat telur atau lonjong dan berukuran 5-12 x 2,2-3 µm (Gilman, 1956).

Fusarium

2). Gejala Penyakit Fusarium sp.

Infeksi pertama dimulai dari akar atau daun yang dekat dengan permukaan tanah, kemudian patogen ini berkembang masuk ke dalam pembuluh kayu tanaman, dalam waktu yang relatif singkat daun-daun menjadi pucat, bagian atas tanaman layu dan akhirnya mati (Semangun, 1989).

Menurut Semangun (1996), penyakit layu fusarium menyerang tanaman pada segala tingkatan umur. Pada tanaman yang masih sangat muda penyakit dapat menyebabkan matinya tanaman secara mendadak, karena pada pangkal batang terjadi kerusakan atau kanker yang menggelang. Sedangkan tanaman dewasa yang terinfeksi sering dapat bertahan terus dan membentuk buah, tetapi hasilnya sangat sedikit dan buahnya kecil-kecil.

Menurut Tjahjadi (2000), apabila tanaman dicabut dan pangkal batang dipotong melintang akan terlihat jaringan xylemnya telah berubah warna menjadi coklat.

3). Daur Hidup dan Penyebaran Fusarium sp.

Fusarium sp. dapat bertahan lama dalam tanah dalam bentuk klamidospora. Jamur ini adalah jamur tanah, atau yang lazim disebut sebagai soil inhabitant. Tanah yang sudah terinfeksi sukar dibebaskan kembali dari jamur ini. Tanpa adanya tumbuhan inang, jamur dapat bertahan dalam tanah lebih dari 10 tahun. Populasinya akan meningkat ditempat yang sama ditanam-tanaman yang sesuai dengan inangnya (Semangun, 1989).

Pertumbuhan jamur dipengaruhi oleh suhu, kelembaban dan kemasaman tanah. Suhu yang optimal berkisar antara 21-33°C, dengan suhu optimumnya adalah 28°C, sedangkan kemasaman tanah berkisar antara pH 4,5-6,0 (Agrios, 1996).

Jamur ini menginfeksi tanaman melalui jaringan meristem pada ujung akar, melalui celah-celah yang terjadi karena munculnya akar-akar lateral baru dan melalui stomata pada daun-daun yang dekat dengan permukaan tanah. Selanjutnya berkembang di dalam pembuluh kayu yang menghalangi translokasi air, jika pembuluh cukup tersumbat maka mengakibatkan tanaman menjadi layu. Kelayuan tanaman makin hebat dengan diproduksinya racun oleh Fusarium sp. sehingga mengganggu metabolisme tanaman (Kranz et al., dalam Semangun, 1996).

Menurut Djafaruddin (1994), jamur dapat memakai bemiacam-macam luka untuk jalan infeksinya, misalnya luka karena pemindahan bibit, luka karena serangga, tanah yang terbawa air, alat pertanian, dan lain-lain. Jamur dapat menginfeksi buah, sehingga terdapat kemungkinan bahwa jamur terbawa oleh biji. Menurut Wisnuwardana dalam Semangun (1996), nematoda puru akar membantu infeksi Fusarium sp.

4). Pengendalian Penyakit Fusarium sp.

Menurut Cahyono (2001), strategi pengendalian penyakit Fusarium sp. dianjurkan dengan menerapkan pengendalian penyakit secara terpadu, yang meliputi aktivitas-aktivitas sebagai berikut

  1. Menanam varietas yang resisten (tahan)
  2. Penggunaan mulsa plastik transparan untuk menaikkan suhu tanah agar penyakit layu mati
  3. Menanam tanaman di tanah yang bebas nematode
  4. Menggunakan alat yang bersih dari penyakit layu
  5. Tanah yang telah ditanami tanaman yang terserang penyakit layu tidak boleh ditanami dalam waktu lama dan tidak boleh menanam tanaman yang termasuk solanaceae
  6. Tanaman yang layu harus segera dicabut dan dibakar
  7. Tanaman disambung dengan cepokak (Solanum torvum), atau terung engkol (Solanum macrocarpon)
  8. Menyemprotkan fungisida sistemik, misalnya Anvil 50 EC atau Baycor 300 EC.
Loading...
error: Content is protected !!