Pengertian Kualitas dan Harga Gaharu

Pengertian Kualitas dan Harga Gaharu

Penetapan harga gaharu diperdagangan internasional didasarkan pada kualitas gaharu tersebut. Semakin baik kualitas gaharu maka harga gaharu akan semakin mahal, begitu juga sebaliknya semakin rendah kualitas gaharu maka harganya pun semakin rendah. Parameter yang digunakan dalam penentuan kualitas gaharu adalah warna, kadar resin, kadar minyak, dan ukuran bentuk serpihan (Barden et al. 2009).

Kayu gaharu

Menurut (Bambang et al., 1996), semakin hitam warna gaharu semakin tinggi kualitasnya dan biasanya gaharu kualitas ini tenggelam dalam air. Gaharu kualitas pertama harus memiliki warna yang paling hitam dan mengkilat. Gaharu yang warnanya hitam dan mengkilat memiliki tingkat kepadatan dan pendamarannya lebih tinggi yang menunjukkan tingginya kadar resin yang terkandung di dalamnya. Sehubungan dengan kadar resin, semakin banyak kadar resin yang terkandung maka kadar harum dan kadar aromanya akan semakin tinggi. Begitu juga dengan bentuk dan ukuran, ukuran yang lebih besar akan menuniukan kualitas gaharu yang lebih.

Penentuan kualitas gaharu pada umumnya dilakukan tidak seragam dan dilakukan secara visual saja, sehingga sifatnya lebih subyektif dan kualitas gaharu yang dihasilkan tergantung dan orang yang menentukannya. Untuk menghindari keragaman dari kualitas gaharu Badan Standarisasi Nasional (BSN) menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) mutu gaharu. Dalam standar diuraikan mengenai definisi gaharu, lambang dan singkatan, istilah, spesifikasi, klasifikasi, cara pemungutan, syarat mutu, pengambilan contoh, cara uji, syarat lulus uji dan syarat penandaan. Klasifikasi mutu gaharu terdiri dari gubal gaharu, kemedangan dan abu gaharu. Setiap kelas mutu dibedakan lagi menjadi beberapa sub kelas, berdasarkan ukuran, warna, kandungan damar wangi, serat, bobot dan aroma ketika dibakar (Yusliansyah et al., 2003).

Beberapa hal yang menjadi acuan dalam penentuan kualitas gaharu menurut Standar Nasional Indonesia (SNI):

1). Persyaratan Mutu

Gaharu dikelompokkan menjadi 3 (tiga) sortimen, yaitu:

  1. Gubal gaharu adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang agak kuat, ditandai oleh warnanya yang hitam atau kehitam-hitaman berseling coklat.
  2. Kemedangan adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang lemah, ditandai oleh warnanya yang putih keabu-abuan sampai kecoklat-coklatan, berserat kasar, dan kayunya yang lunak.
  3. Abu gaharu adalah serbuk kayu gaharu Yang dihasilkan dari proses penggilingan atau penghancuran kayu gaharu sisa pembersihan atau pengerokan.

2). Klasifikasi

a). Gubal gaharu dibagi dalam tanda mutu, yaitu: Mutu utama, dengan tanda mutu. U, setara mutu super. Mutu pertarna, dengan tanda mutu I, setara mutu AB. Mutu kedua, dengan tanda. mutu II, setara mutu sabah super.

b). Kemedangan dibagi dalam 7 (tujuh) kelas mutu, yaitu: Mutu pertama, dengan tanda mutu I, setara mutu TGA atau TK I. Mutu kedua, dengan tanda mutu II setara mutu SB I. Mutu ketiga, dengan tanda mutu III, setara mutu TAB. Mutu keempat, dengan tanda mutu IV, setara mutu TGC. Mutu kelima„ dengan tanda mutu V, setara mutu M 1. Mutu keenam, dengan tanda mutu VI, setara mutu M 2. Mutu ketujuh, dengan tanda mutu VII, setara mutu M 3.

c). Abu gaharu dibagi dalam 3 (tiga) kelas mutu, yaitu Mutu Utama, dengan tanda mutu U. Mutu pertama, dengan tanda mutu I. Mutu kedua, dengan tanda mutu II.

3). Syarat Mutu

Pernyataan umum maupun kemedangan tidak diperkenankan memiliki cacat-cacat lapuk dan busuk.

Loading...
error: Content is protected !!