Tinjauan Umum Tumpangsari

Tinjauan Umum Tumpangsari

Tumpangsari adalah penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada waktu bersamaan dengan jarak tanam yang teratur pada lahan yang sama. Seluruh tanaman yang dimasukkan dalam sistem tumpangsari adalah tanaman yang berumur kurang dari satu tahun (annual crop). Jenis-jenis tanaman yang dipilih dapat seluruhnya tanaman hortikultira atau kombinasi antara tanaman hortikultura dengan tanaman semusim lainnya ( Benyamin Lakitan, 1995 ).

Lebih lanjut ditambahkan oleh Benyamin Lakitan (1995), bahwa pemilihan jenis tanaman untuk sistem tumpangsari ini harus mempertimbangkan kemungkinan kompetisi antara tanaman-tanaman tersebut, baik dalam memanfaatkan air dan unsure hara dari tanah maupun dalam memanfaatkan cahaya matahari. Tanaman Leguminosa sering dianjurkan untuk disertakan dalam pola tanam tumpangsari, karena pengaruh positif dari tanaman ini terhadap tanaman lainnya.

Keuntungan sistem budidaya tumpangsari meliputi :

  1. Efisiensi tenaga lebih mudah di capai karena persiapan tanaman, pengolahan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan pemungutan hasilnya sudah dilakukan dengan mekanis
  2. Banyaknya tanaman per ha, mudah diawasi dengan mengatur jarak tanam diantara dan di dalam barisan
  3. Menghasilkan produksi lebih banyak
  4. Resiko kegagalan kurang dibandingkan dengan monokultur

Thahir dan Hadmadi (1985), menyatakan bahwa bentuk sistem tumpang gilir (Multiple Cropping) yang telah lama dikenal adalah tanaman campuran (Mixed Cropping), tumpangsari seumur (Inter Cropping), tumpangsari beda umur (Inter Planting), dan tanaman sela (Inter Culture), tanaman beruntun (Sequeinial Planting) dan tanaman sisipan (Relay Cropping).

Menurut Aksi Agraris Kanisius (2001), tumpangsari merupakan tanam yang melakukan penanaman lebih dari satu tanaman berbeda. Untuk mendapatkan hasil panen lebih satu kali satu jenis atau beberapa jenis tanaman dalam setahun pada lahan yang sama (Thahir dan Hadmadi, 1985).

Dengan penanaman secara tumpangsari didapatkan bahwa pemanfaatan lahan lebih optimal, pemakaian sarana produksi dan tenaga kerja lebih efisien, hasil penjualan dan keuntungan yang diperoleh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tanam monokultur. Disamping itu dapat menekan dari serangan hama, penyakit, gulma serta mengurangi resiko kegagalan usaha tani. Dalam pola penanaman ini dianjurkan untuk dimasukkan tanaman sayuran leguminosa, seperti kacang panjang, buncis, kecipir, kacang hijau dan lain-lain. Tanaman leguminosa memberikan keuntungan terutama karena keluarga tanaman ini dapat memfiksasi Nitrogen dari udara sehingga dapat mengurangi kebutuhan pupuk Nitrogen untuk tanaman yang bersangkutan dan tanaman yang ditanam setelah tanaman leguminosa tersebut (Benyamin Lakitan, 1995).

Menurut Thahir dan Hadmadi (1985), masalah yang timbul unutuk pola tumpangsari adalah

  1. Kesusahan dalam pelaksanaan pengendalian hama, penyakit, gulma bila akan digunakan pestisida dengan penyemprotan
  2. Kesusahan dalam memberikan dosis, cara dan waktu pemupukan yang tepat
  3. Susah untuk memvisualisasikan dengan mekanisasi pertanian pada lahan dengan berbagai campuran jenis tanaman

Pemilihan kombinasi jenis tanaman harus tepat dalam penanaman tumpangsari, karena antar tanaman akan mempunyai sifat saling mengisi dan dapat memanfaatkan faktor tumbuh lebih efisien. Agar penanaman tumpangsari dapat berhasil dengan baik maka salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah pengaturan populasi tanaman karena populasi tanaman mempengaruhi tinggi rendahnya produksi tanaman. Peningkatan populasi tanaman mula-mula akan diikuti oleh meningkatnya produksi tanaman per satuan luas, kemudian lewat titik maksimum akan menurunkan produksi tanaman tersebut. Hal ini disebabkan adanya kompetisi antara tanaman (Suwasono Heddy, 1994).

Menurut Suwasono Heddy (1 994), untuk mengukur berhasilnya tumpangsari dapat ditinjau dari besarnya kompetisi yang terjadi. Sebagaimana diketahui bahwa besar kecilnya kompetisi menentukan tinggi rendahnya produksi tanaman. Ditambahkan oleh Suwasono Heddy (1994), bahwa untuk mengukur tingkat keberhasilan dalam penanaman tumpangsari dibandingkan monokultur untuk memberikan hasil yang sama maka digunakan Land Equivalent Ratio (LER). Nilai LER dari masing-masing perlakuan tumpangsari sangat bervariasi. Sistem tumpangsari dianggap lebih produktif dari penanaman tunggal apabila mempunyai LER lebih dari satu.

error: Content is protected !!