Tinjauan Umum Mulsa Alang-Alang

Tinjauan Umum Mulsa Alang-Alang

Budidaya tanaman pada lahan kering banyak mengalami kendala diantaranya ketersediaan air yang minim sebagai faktor pembatas yang berpengaruh pada ketersediaan unsur hara, evaporasi yang tinggi, miskin bahan organik dan unsur hara dan fluktuasi suhu yang tinggi antara siang dan malam hari sehingga menyebabkan mudah berkembangnya hama dan penyakit bagi tanaman. Kehilangan air melalui penguapan dapat dikurangi dengan pemberian mulsa. Disamping itu mulsa dapat mengurangi fluktuasi suhu, memperbaiki sifat fisik dan sifat kimia tanah (Sutarto, 1985). Hal ini memungkinkan perkembangan tanaman lebih baik dan hasil pertanaman meningkat, baik mutu maupun kuantitasnya (Suyanti, 1997).

Alang-alang

Penggunaan mulsa bertujuan untuk mencegah kehilangan air dari tanah sehingga kehilangan air dapat dikurangi dengan memelihara tentperatur dan kelembaban tanah (Mulyatri, 2003). Aplikasi mulsa merupakan salah satu upaya menekan pertumbuhan gulma, memodifikasi keseimbangan air, suhu dan kelembaban tanah serta menciptakan kondisi yang sesuai bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pemberian mulsa didaerah tropik terutama untuk mencegah air tanah yang hilang akibat penguapan, memperkecil perbedaan suhu tanah antara siang dan malam hari, mencegah penyinaran langsung dari matahari yang menyebabkan kerusakan pada tanaman terutama pada saat perkecambahan dan tanaman yang memiliki perakaran yang dangkal. Disamping itu, mulsa akan dapat mempertahankan kelembaban nisbi udara dipermukaan tetap meningkat sehingga kecepatan penguapan dapat dibatasi (Djazuli, 1986).

Tumbuhan alang-alang (Imperata cylindrica L.) merupakan tumbuhan yang dikenal sebagai gulma penting, baik di daerah tropis maupun sub tropis, terutama di daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi. Tumbuhan ini memiliki daya adaptasi yang tinggi sehingga mendominasi daerah-daerah bukaan baru bekas hutan, semak belukar dan areal pertanaman yang tidak dipelihara secara insentif. Dalam keadaan tertentu alang-alang tidak dipandang sebagai gulma karena secara ekonomis memberikan manfaat bagi kepentingan manusia, seperti dapat dipakai sebagai bahan atap rumah dan rimpangnya dapat dipakai sebagai Obat tradisional, sedangkan daun yang relatif muda dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan ternak (Suryaningtyas, dkk., 1996)

Penggunaan mulsa alang-alang (Imperata cylindrica L.) dapat menekan pertumbuhan gulma. Salah satu mekanisme mulsa alang-alang menekan pertumbuhan gulma yaitu dengan mempengaruhi cahaya. Menurut Sukman dan Yakup (2002) mulsa akan mempengaruhi cahaya yang akan sampai ke permukaan tanah dan menyebabkan kecambah-kecambah gulma serta beberapa jenis gulma dewasa mati. Mekanisme lain mulsa alang-alang menekan gulma yaitu dengan senyawa alelopati yang dikandung oleh alang-alang. International Allelopathy Society mendefinisikan alelopati sebagai semua proses termasuk metabolit sekunder yang dihasilkan tanaman, mikroorganisme, virus dan fungi yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta sistem biologi (kecuali hewan), baik pengaruhnya positif maupun negatif (Lux-Endrich dan Hock, 2005).