Taksanomi dan Identifikasi Karakter Morfologi Tanaman Ubijalar

Taksanomi dan Identifikasi Karakter Morfologi Tanaman Ubijalar

Tanaman ubijalar (Ipomoea batatas L.), termasuk dalam family Convulvulaceae, Genus Ipomoea dan Spesies Ipomoea balatas L. (Srisuwan et al., 2006; Iriyanti, 2012; Rosmayati dan Bakti, 2018; Reddy et al., 2018; Yusoffet al., 2018). Menurut Aguoru et al., (2015), saat ini ditemukan ada 13 spesies liar yang berkerabat dengan ubijalar dan diketahui ada sekitar 6.500 varietas ubijalar termasuk spesies liar dan galur pemuliaan. Tanaman ubijalar digolongkan kedalam seksi batatas bersama-sama dengan I. trifida, I. tiliacca, I. lacunose, I. littoralis, I triloba, I. gracilis, I. peruviana, I. tenuissima, I. cordatotriloba (I. trichocarpa), I. cynanchifolia dan I. ramosissima (Austin, 1996; Srisuwan et al., 2006; Aguoru et al., 2015).

Ubijalar

Ubijalar merupakan tanaman heksaploid dengan jumlah kromosom 2n=6x=90 dan merupakan tanaman amphiploid tidak lengkap dengan komposisi genom BBBBB’B’ dan diduga berasal dari kombinasi spesies diploid (2x) dengan spesies tetraploid (4x) dari genus Ipomoea kemudian diikuti dengan duplikasi kromosom atau poliploidisasi secara alamiah (Srisuwan et ale, 2006; Reddy et al.,2018).

Beberapa hipotesis telah diajukan untuk menjelaskan asal usul ubijalar. Tanaman ubijalar diduga berasal dari hasil hibridisasi secara alami antar I. leucanta (2x) dengan I. littoralis (4x) kemudian menghasilkan I. trifida (3x) yang selanjutnya mengalami penggandaan kromosom menghasilkan tanaman dengan kromosom 6x. Melalui proses seleksi dan domestikasi kemudian dihasilkan I. batatas (6x). Hipotesis lainnya menyatakan bahwa I batatas adalah merupakan hasil persilangan antara I. trifida dengan I. triloba yang kemudian mengalami poliploidisasi atau penggandaan kromosom (Austin, 1987; Srisuwan et al., 2006).

Indonesia merupakan salah satu center of origin dari ubijalar (Minantyorini dan Andarini, 2016), namun jumlah plasma nutfah ubijalar yang telah dikoleksi dari berbagai daerah dan dikonservasi secara exsitu di BB Biogen masih belum menggambarkan jumlah plasma nutfah ubijalar yang sebenarnya terdapat di Indonesia. Menurut Jusuf et al., (2012), sampai tahun 2010, total koleksi tanaman ubijalar yang tersimpan di bank gen Balai Besar Biogen dan Balitkabi baru sekitar 1.820 asesi, dimana 66 asesi diantaranya adalah duplikat sehingga jumlah sebenarnya hanya 1.754 asesi.

Diduga masih banyak asesi ubijalar yang belum tereksplorasi dan teridentifikasi dan tersebar diberbagai wilayah di Indonesia, mengingat tingkat keragaman genetik yang sangat besar. Tanaman ubijalar memiliki sifat ketidakserasian sendiri (self incompatible) maupun ketidakserasian silang (cross incompatible) yang sangat tinggi sehingga apabila terbentuk biji maka dapat dipastikan bahwa biji-biji tersebut merupakan hasil silang bebas dan apabila tumbuh dan berkembang menjadi tanaman, akan menghasilkan tanaman baru yang berbeda dari induknya sehingga akan meningkatkan keragaman genetic ubijalar yang telah ada (Dewi dan Hakim, 2015). Keragaman genetik dari tanaman ubijalar yang berasal dari biji seringkali memberikan kenampakan morfologi yang sangat beragam dan memperlihatkan sifat yang berbeda dari tetuanya (Rahayuningsih, 1997).

Kaltim dengan iklim hutan hujan tropika basahnya (tropical rain forest) diduga memiliki sumber keragaman genetik ubijalar yang cukup banyak, mengingat ubijalar adalah merupakan bahan pangan alternatif bagi masyarakat tradisional di pedesaan. Umumnya kultivar ubijalar tersebut ditanam dalam luasan yang kecil dan ditumpangsarikan atau sebagai tanaman sela diantara tanaman pangan atau sayuran. Diantara kultivar ubijalar yang ditemukan di tersebut adalah ubijalar berdaging umbi ungu danjingga.

Sampai saat ini belum ada upaya ekspolarasi, karakterisasif identifikasi terhadap keanekaragaman genetik ubijalar di Kaltim. Hal tersebut akan mengancam keberadaan kultivar ubijalar lokal tersebut, mengingat sampai saat ini tanaman ubijalar masih dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif. Dalam upaya melestarikan kultivar ubijalar lokal yang ditemukan maka perlu dilakukan identifikasi. Identifikasi terutama dilakukan terhadap karakter morfologi karena cara ini merupakan cara yang termudah dalam mengenal tanaman. Dengan karakter morfologi kesamaan atau perbedaan tanaman akan dapat diketahui (Utari et al., 2017). Veasey et al., (2007), mengemukakan pentingnya identifikasi morfologi untuk mengetahui keragaman kultivar lokal. Bos et al., (2000); Kaplan, (2001); Lacroix et al., (2005) juga menyatakan bahwa karakter morfologi telah digunakan secara intensif pada berbagai tanaman diberbagai tempat didunia untuk mempelajari keragaman genetik suatu tanaman.

Menurut Hertharie et al., (2018), karakterisasi morfologi pada tanaman ubijalar diikuti dengan analisis gerombol sangat bermanfaat untuk mengeliminasi terjadinya duplikasi pada koleksi plasma nutfah yang ada. Menurut Wahyuni dan Wargiono (2012), keragaman morfologi bagian-bagian tanaman ubijalar bervariasi bergantung pada klon/varietas dan lingkungan tumbuhnya. Terdapat karakter morfologi yang sifatnya mudah berubah karena faktor lingkungan (karakter kuantitatif) dan ada karakter yang sifatnya stabil dan tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan (karakter kualitatif).

Karakter morfologi yang dapat digunakan sebagai penciri klon/varietas pada tanaman ubijalar cukup banyak. Terdapat 7 karakter untuk mendeskripsikan batang, 10 karakter untuk daun, 16 karakter untuk umbi dan 6 karakter untuk bunga (Wahyuni dan Wargiono, 2012). Karakter morfologi batang yang biasa diidentifikasi adalah tipe pertumbuhan, kebiasaan tumbuh, diameter batang, panjang ruas, warna batang dan keberadaan bulu (Wahyuni et al., 2015). Karakter daun antara lain adalah bentuk daun dewasa, bentuk tulang daun, kedalaman lekukan/cuping, panjang dan lebar daun, warna tulang daun, war-na helaian daun muda, warna helaian daun dewasa, pigmentasi pada tangkai daun dan panjang tangkai daun (Wahyuni dan Wargiono, 2012).

Karakter bunga yang diidentifikasi meliputi kemampuan berbunga, bentuk bunga, umur mulai berbunga, bentuk mahkota bunga, bentuk kelopak bunga, warna bunga, tinggi tangkai sari terhadap putik, warna tangkai sari dan putik. Sedangkan karakter umbi yang biasa diidentifikasi adalah bentuk umbi, tipe formasi umbi, warna kulit umbi, warna daging umbi dan pola sebaran warna sekunder daging umbi, ketebalan kortek, produksi lateks dan cacat pada permukaan kulit umbi (Huaman, 1991 ; Wahyuni dan Wargiono, 2012).