Pengaruh Pupuk Fosfat (P) Terhadap Produksi Ubijalar

Pengaruh Pupuk Fosfat (P) Terhadap Produksi Ubijalar

Beberapa penyebab rendahnya produksi ubijalar di Kaltim adalah kondisi lingkungan yang kurang mendukung seperti pH, kesuburan dan bahan organik tanah yang rendah, fotoperiode, curah hujan yang tinggi dan teknik budidaya yang masih sederhana. Upaya memacu peningkatan produksi ubijalar di Kaltim adalah melalui perluasan areal tanam (ekstensifikasi) dan perbaikan pada sistem budidaya tanaman (intensifikasi) dengan memanfaatkan kultivar ubijalar lokal yang lebih adaptif disertai perlakuan pemupukan serta pemanfaatan teknologi budidaya yang ada. Pupuk adalah bahan yang diberikan ke tanah apabila tanah tidak mampu menyediakan unsur hara secara optimal pada tanaman.

Ubijalar

Sampai saat ini publikasi mengenai pemupukan ubijalar yang bersifat mendalam masih sangat sedikit. Oleh karena itu, penelitian dosis optimal dan waktu pemberian pupuk N, P, K dan unsur hara mikro (Ca, Mg, S, Zn) perlu dilakukan. Pemupukan merupakan variabel penting dalam upaya peningkatan produktivitas ubijalar (Paturohman dan Sumarno, 2015). Pada kondisi tanah yang kurang subur, tanaman ubijalar memerlukan tambahan hara melalui pemupukan, terutama pupuk P untuk pembentukan dan produksi umbi (Hakim et al., 2018), mempercepat pembentukan bunga dan biji (Soenyoto, 2014).

Fosfat (P) merupakan salah satu unsur hara penting untuk sebagian besar tanaman, termasuk ubijalar. Fosfat sangat esesnsial bagi banyak senyawa organik yang diperlukan dalam proses metabolisme. Tanaman tidak dapat tumbuh dengan optimal, karena P merupakan komponen penting penyusun sel hidup seperti adenosin trifosfat (AT P) dan adenosin difosfat (ADP), yang merupakan penyusun asam deoksiribonukleat (ADN) dan asam ribonukleat (ARN) serta berperan dalam proses sintesis protein. Selain itu, fosfolipid yang berperan penting dalam membran sel juga dipengaruhi oleh P (Kareem, 2013; Akinjoba, 2014; Kareem dan Akinrinde, 2018). Unsur P sangat diperlukan pada banyak aspek fisiologis seperti fotosintesis, transfer dan penyimpanan energi, pembelahan dan pembesaran sel, metabolisme karbohidrat (Akinjoba, 2014; Sukmasari et al., 2016) fiksasi N, pembungaan, pembuahan, pematangan dan produksi biji (Hameda et al., 2011; Rehman et al., 2013; Kareem, 2013). Unsur P juga berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan akar lateral, pembentukan serat, memperkuat strukturjaringan dan pembentukan pati (Akinjoba, 2014).

Meskipun sangat berperan dalam setiap proses metabolisme tanaman, namun kandungan P dalam tanaman lebih rendah dibandingkan dengan N, K dan Ca. Unsur P adalah merupakan faktor kunci dalam upaya meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. Pada kondisi normal, tanaman hanya memerlukan sedikit unsur P untuk dapat berproduksi optimal (Hossain et al. 2008; Susila et al., 2010).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi pupuk P sangat rendah. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan serapan P pada tanaman adalah dengan menambahkan bakteri pelarut fosfat (BPF) atau bahan organik (Sandeep et al., 2008).

Tanaman ubijalar menyerap hara dari dalam tanah cukup banyak. Panen biomassa 30 Mg ha-1, terdiri dari umbi, batang, daun, mengangkut hara sekitar 150 kg N; 21 kg P205 dan 177 kg K20 per hektar (Nedunchezhiyan, dkk., 2012). Serapan hara yang terangkut panen sejalan dengan hasil biomassa, maka semakin tinggi hasil biomassa semakin besar zat hara dari dalam tanah yang terangkut. Ubijalar merupakan tanaman yang sangat efisien dalam mengalokasikan energi. Dalam budidaya pertanian, khususnya budidaya ubijalar usaha yang dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan P pada tanah yaitu dengan penambahan pupuk fosfat, seperti TSP dan batuan fosfat (Wahida, et al., 2007).

Berdasarkan seaapan hara tersebut Nedunchezhiyan, dkk (2012) merekomendasikan dosis anjuran pada tanaman ubijalar untuk N berkisar 40-75 kg/ha, P205 sekitar 20-50 kg ha-1 dan K20 berkisar 75-100 kg ha-1 dan akan lebih baik bila ditambahkan bahan organik. Dosis pupuk anjuran tersebut hampir sama dengan dosis pupuk anjuran untuk tanaman ubijalar di Indonesia yaitu 100-150 kg Urea ha-1, 100 kg SP36 ha-1 dan 150 kg KCI ha-1 (Saleh al., 2008).

Hasil penelitian pengaruh pemberian pupuk P pada tanaman ubijalar sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama pH, kesuburan dan bahan organik tanah. Widodo dan Rahayuningsih (2009) menyatakan bahwa P merupakan unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar, namun jumlahnya dalam tanaman lebih kecil dibandingkan N dan K. Wargiono et al., (2011) melaporkan bahwa pemupukan P dengan dosis sesuai anjuran diaplikasikan 33% pada waktu tanam dan 67% empat minggu setelah tanam dapat meningkatkan hasil sebesar 34% dibanding tanpa pupuk.

Hameda et al., (2011) melaporkan bahwa pemberian pupuk P dengan dosis 45 kg P205 ha-1, secara signifikan meningkatkan panjang batang, total klorofil, bahan kering umbi dan hasil umbi. Pada penelitian lainnya, Dumbuya et al., (2016) melaporkan bahwa pemupukan P dengan dosis 60 kg P205 ha-1 di Ghana memberikan hasil umbi yang tertinggi. Penelitian Kirui et al., (2018), di Kenya melaporkan bahwa perlakuan pemupukan P dengan dosis 30 kg P205 ha-1 memberikan hasil umbi yang tertinggi. Hakim et al., (2018), melaporkan bahwa perlakuan pupuk TSP 157 kg ha-1 atau 56,50 kg P205 ha-1 pada tanaman ubijalar memberikan hasil tertinggi pada parameter laju pertumbuhan tanaman, jumlah umbi per tanaman, panjang umbi per tanaman dan bobot umbi total per tanaman.

Pemupukan P pada tanaman ubijalar sangat dipengaruhi oleh kemasaman (pH) tanah. Pada tanah yang masam, akan meningkatkan kelarutan unsur-unsur beracun seperti A1 dan Fe (Soepardi, 2001). Selain itu daya jerap P oleh tanah juga membuat hampir 90% pupuk P yang ditambahkan dengan cepat diubah menjadi bentuk yang tidak tersedia (Bertham dan Nusantara, 2011), sehingga meskipun jumlah pupuk P yang diberikan semakin meningkat, tetapi berpotensi menurunkan produktivitas tanaman dan lahan akibat efisiensi pupuk P yang rendah (Sukmasari et al., 2016).