Beberapa Peranan ZPT dalam Kultur Jaringan

Beberapa Peranan ZPT dalam Kultur Jaringan

Zat pengatur tumbuh (ZPT) adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi rendah mampu mendorong, menghambat atau secara kualitatif mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Santoso dan Fatimah, 2003). Hal serupa dikemukakan oleh Hendaryono dan Wijayanti (2004) zat pengatur tumbuh pada tanaman adalah senyawa organik bukan hara, yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghanbat dan dapat merubah proses fisiologis tanaman.

Kultur Jaringan

Zat pengatur tumbuh mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis kultur sel, organ, dan jaringan. Jika konsentrasi auksin lebih besar dari pada sitokinin maka kalus akan tumbuh, dan bila konsentrasi sitokinin lebih besar disbanding auksin maka tunas akan tumbuh (Sudarmadji, 2003). Menurut Wattimena (1992) terdapat 6 kelompok ZPT, yaitu auksin, giberelin, sitokinin, asam absisi (ABA), etilen, dan retardan. Senyawa-senyawa poliamin (putresin, spermidin, spermin), polifenolik dan alcohol berantai panjang (triakontanol) sering digolongkan ke dalam ZPT. Fitokrom walaupun bukan ZPT tetapi mempunyai pengaruh yang sama dengan ZPT, hanya fitokrom bukan senyawa organic tetapi jenis pigmen tumbuhan.

Ada dua jenis hormone tanaman (auksin dan sitokinin) yang sekarang banyak dipakai dalam propagasi secara in vitro (Wetherell, 1982). Auksin menurut Kusumo (1984) zat yang memiliki sifat khas, yaitu mendorong perpanjangan sel pucuk. Meskipun dapat mempengaruhi proses lain namun pengaruh utamanya adalah memperpanjang sel pucuk.

Beberapa peranan ZPT dalam kultur in vitro menurut Widyastuti dan Donowati (2001) sebagai berikut:

  1. Senyawa sintetik yang disintesa diluar jaringan tanaman dan mempunyai sifat fisiologis dan biokimia yang serupa dengan hormon tanaman adalah ZPT. Hormon tanaman dan ZPT pada umumnya mendorong terjadi sesuatu pertumbuhan dan perkembangan.
  2. Peranan auksin dalam kultur in vitro terutama untuk pertumbuhan kalus, suspense sel, dan pertumbuhan akar. Bersama-sama sitokinin dapat mengatur tipe morfogenesis yang dikhehendaki.
  3. Pengaruh sitokinin di dalam kultur in vitro antara lain berhubungan dengan proses pembelahan sel, proliferasi tunas ketiak, penghambatan pertumbuhan akar tanaman dan induksi umbi mikro.

Salah satu jenis ZPT dari golongan sitokinin yang sering dipakai dalam kultur jaringan yaitu BAP (6-benzylaminopurine). Menurut George & Sherrington (1984) BAP merupakan salah satu sitokinin sintetik yang aktif dan daya merangsangnya lebih lama karena tidak mudah dirombak oleh enzim dalam tanaman. Sedangkan menurut Noggle dan Fritz (1983) BAP memiliki struktur yang mirip dengan kinetin dan juga aktif dalam pertumbuhan dan proliferasi kalus sehingga BAP merupakan sitokinin yang paling aktif. Selain itu kultur tunas pucuk pada medium MS, baik yang mengandung sitokinin (BAP) tunggal maupun kombinasi menunjukan respon yang bervariasi.

Daftar Pustaka:

Santoso, U., dan Fatimah, N. 2003. Kultur jaringan tanaman.Universitas Muhammadiyah Malang Press. Malang.

Hendaryono DPS, Wijayanti A. 1994. Teknik kultur jaringan pengenalan dan petunjuk perbanyakan tanaman secara vegetatif-Modern. Yogyakarta.

Sudarmadji. 2003. Penggunaan Benzil Amino Purine pada Pertumbuhan Kalus Kapas Secara In Vitro. Buletin Teknik Pertanian. 8(1):8-10.

Wattimena, G.A. 1992. Bioteknologi Tanaman Laboratorium Kultur Jaringan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Wetherell, D.F. 1982. Pengantar propagasi tanaman secara in vitro. Diterjemahkan oleh: Koensoemardiyah (ed). Fivery Publishing Geroup Inc. Wayne, New Jersey.

Kusumo, S. 1984. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Edt. 1. Yasaguna.

Noggle, G.R., dan G.J. Fritz. 1983. Introductory plant physiology: Second Edition. Prentince-Hall, Inc. New Jersey.