Hama Penghisap Cairan Daun Kacang Tanah

Hama Penghisap Cairan Daun Kacang Tanah

Budi daya kacang tanah masih banyak diminati oleh petani. Kacang tanah memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Selain sebagai bahan utama pangan rumah tangga dan ternak, kacang tanah juga sebagai bahan baku industri. Banyak produk olahan dari bahan baku kacang tanah seperti keju, selai, mentega, sabun dan minyak goreng.

Kacang tanah

Dewasa ini, pruduksi kacang tanah telah dilakukan segala upaya untuk memingkatkan hasil. Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi adalah dengan melakukan perluasan areal lahan, menggunakan varietas unggul dan pembukaan lahan baru. Tentu dalam upaya peningkatan produksi akan menemukan hambatan salah satunya adalah serangan hama penghisap cairan daun.

Keberadaan hama pada areal pertanaman kacang tanah tentu tidak diharapkan oleh petani. Pasalnya, hama tersebut dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Sehingga petani akan mendapatkan keuntungan yang sedikit bahakan sampai mengalami kerugian.

Oleh sebab itu, perlu adanya pemantauan dan mengenali jenis-jenis hama apa saja yang menyerang tanaman kacang dengan cara menghisap cairan dalam daun tanaman. Artikel ini akan mengenalkan hama penghisap cairan daun kacang tanah.

Hama Penghisap Cairan Daun Kacang Tanah

Aphis craccivora Koch

Aphis

Ciri fisik atau morfologi hama ini memiliki ukuran tubuh 1-1,6 mm, lunak dan berwarna hitam. Hama ini ada yang bersayap dan tidak bersayap. Aphis akan memiliki sayap bening ketika populasinya meningkat yang berguna untuk berpindah tempat membentuk koloni baru.

Aphis menyerang bagian tanaman yang masih muda. Nimfa dan imago (serangga dewasa) merusak dengan cara menghisap cairan dalam bagian organ tanaman yang masih muda. Bagian pucuk tanaman kacang tanah sangat rentan terserang hama ini. Pucuk yang terserang, akan menghambat pertumbuhan sehingga tanaman menjadi kerdil.

Aphis juga sebagai serangga penular penyakit dan virus kacang-kacangan (Soybean Mosaic Ynts, Soybean Yellow Mosaic Virus, Bean Yellow Mosaic Virus, Soybean Dwarf Yrus, Peanut Stripe Virus, dll).

Pengendalian Aphis

Aphis dapat dikendalikan dengan cara kultur teknis seperti menanam tanaman secara serempak, sanitasi kebun, dan menggunakan varietas tahan. Sedangkan cara kimiawi, dapat dilakukan penyemprotan insektisida Nissuron 50 EC berbahan aktif heksitiazok.

Kutu Kebul

Kutu kebul memiliki ciri fisik dengan ukuran tubuh berkisar 1-1,5 mm. Kutu kebul berkembang biak dengan bertelur. Telur-telur oleh serangga betina diletakkan tepat di bawah permukaan daun tanaman. Telur terasebut berwarna kuning terang dan memiliki tangkai berbentuk kerucut. Setelah 6 hari telur akan menetas. Nimfa yang baru menetas berwarna putih pucat dengan bentuk bulat telur sampai pipih. Nimfa pada instar 1 kaki yang dimiliki dapat berfungsi sementara pada instar 2 dan 3 tidak berfungsi dan terus melekat selama pertumbuhannya berlangsung.

Serangga muda dan dewasa merusak tanaman dengan cara menghisap bagian daun muda. Kutu kebul juga menghasilkan embun madu yang dapat menjadi media tumbuh cendawan jelaga, sehingga daun menjadi kehitam-hitaman. Hama ini juga sebagai pembawa penyakit (vektor) Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV) pada kacang tanah dan kacang-kacangan lain.

Pengendalian

Kutu kebul dapat dikendalikan dengan menanam secara serempak, menggunakan varietas tahan, dan penyemprotan insektisida Mitac 200 EC berbahan aktif amitrat.

Tungau Merah

Tungau merah

Morfologi tungau merah berukuran tubuh berkisar 0,5mm. Berkembang biak dengan cara bertelur. Dari terlur sampai menjadi serangga dewasa berlangsung selama 15 hari. Telur berukuran 0,15 mm, berbentuk bulat, berwarna kuning pucat. Pada musim kering populasi hama ini akan meningkat.

Tungau merah menyerang tanaman kacang tanah dengan cara menghisap cairan daun muda. Sehingga bagian daun yang terserang akan nampak kuning dan pada serangan berat daun akan menjadi kering.

Pengendalian

Tungau merah dapat dikendalikan dengan menanam secara serempak serta memantau populasi. Jika populasi tinggi dapat disemprot dengan akarisida.

Thrips

Trhips

Thrips, serangga dengan ukuran tubuh kecil yang tinggal di bunga, cekungan dan lipatan daun. Morfologi hama ini berukuran tubuh berkisar 2 mm, tubuhnya berwarna kuning crem. Hama ini bekembanggbiak dengan bertelur. Betina meletakan telurnya didalam jaringan daun. Serangga betina mampu menghasilkan telur sebanyak 45-50 butir. Nimfa yang baru menetas akan menjadi serangga dewasa dangan melalui 4 fase ganti kulit. Umur nimfa sampai dengan 15 hari sedangkan serangga dewasa 20 hari hanya jika pada kondisi optimal. Thrips berada pada sepanjang tahun. Pada kondisi kering populasi serangga meningkat.

Thrips menyerang tanaman kacang tanah dengan menghisap daun muda yang menyebabkan nekrotik. Pada serangan yang berat akan menyebabkan daun tanaman menjadi keriting. Mengkritingnya daun akibat serangan akan bedampak buruk terjadinya gagal panen.

Pengendalian

Hama thrips dapat dikendalikan dengan cara menanam serempak, tumpang sari dengan tanaman jagung, dan memajukan waktu tanam. Jika serangan mencapai ambang batas perlu dilakukan penyemprotan insektisida efektif.

Wereng Empoasca spp.

Wereng

Wereng ini memiliki nama daerah yaitu sikada. Kerusakan akibat serangan sikada dapat mencapai 40%.

Sikada memiliki ciri-ciri tubuh berukuran 3 mm, berwarna hijau kekuningan. Serangga jantan berukuran lebih kecil dari pada serangga betina. Serangga ini berkembang biak dengan bertelur. Telur-telur berbentuk seperti buah alpukat yang diletakkan pada jaringan daun dekat dengan tulang daun. Betina mampu menghasilkan telur sebanyak 40 butir dan akan menetas setelah berumur 7-10 hari.

Nimfa maupun serangga dewasa menyerang kacang tanah dengan menghisap cairan daun muda dari permukaan bawah daun. Bagian daun yang terserang akan menyebabkan urat daun menjadi putih dan helai daun menjadi berwarna kuning. Baik tanaman muda maupun tua akan nampak kuning hampir 40% menjadikan tanaman tidak sehat.

Pengendalian

Sikada dapat dikendalikan dengan cara menanam secara serempak, memajukan jadwal tanam, penanaman tumpang sari dengan jagung. Jika serangan dianggap berat, dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif.

error: Content is protected !!