Hama Tanaman Melon dan Cara Pengendaliannya

Hama Tanaman Melon dan Cara Pengendaliannya

Melon merupakan buah-buahan yang sangat digemari oleh masyarakat. Buah melon memiliki rasa manis dan segar serta banyak mengandung gizi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

Dibalik rasa buah yang segar, tidaklah mudah dalam membudidayakannya. Petani melon sangat sering mengeluh karena tanaman yang dibudidayakan mendapatkan hasil panen yang tidak sesuai harapan akibat dari serangan hama.

Oleh karena itu, artikel ini akan menyampaikan informasi tentang bagaimana cara pengendalian hama tanaman melon. Agar hasil panen buahnya dapat dimanfaatkan. Berikut ini adalah penjelasannya:

Hama tanaman melon

1). Ulat grayak

Hama ulat grayak aktif menyerang pada malam hari dengan jumlah koloni yang besar. Hama ini menyerang dengan cara memakan daun baik yang masih muda ataupun tua.

Pengendalian

Hama ulat grayak dapat dikendalikan dengan cara sebagai berikut:

Cara kultur teknis: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara teknis yaitu dengan membuang bagian daun dekat dengan buah yang diserang hama ulat grayak dan penangkapan cabang-cabang sekunder sehingga hanya batang utama yang dipelihara.

Cara fisik atau mekanik: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara mekanis yaitu menangkap hama dengan menggunakan tangan atau alat pendukung lainnya dan penggunaan perangkap yang diberi methyl eugenol.

Musuh alami: pengendalian ini dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami serangga patogen antara lain kelompok patogen (nuclear-polyhedrosis virus), Metharhizium anisopliae), parasitoid (telur: Telenomus spodopterae, larva: Apantelesspp., pupa: Brachimeria spp.), dan predator larva (Paederus fuscipes, Lycosa pseudoannulata, Selonopsis gemminata)

Cara kimia: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan insektisida sintetis dengan bahan berupa pirethroid sintesis, misalnya Decis 2,5 EC dengan konsentrasi 0,5-,75 ml/l.

2). Thrips (Thrips parvispinus Karny)

Hama jenis ini memiliki ciri-ciri tubuh berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut badan beruas-ruas.

Hama ini sebagai pembawa virus. Hama thrips mengembara di malam hari, kemudian menetap dan berkembang biak pada tanaman melon . Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini yaitu pada bagian daun muda atau tunas baru nampak keriting dan kerdil (kemungkinan tanaman terkena virus) serta dalam pembentukan buah menjadi tidak normal.

Cara pengendalianya:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara melakukan rotasi/pergiliran tanaman yang bukan dari bangsa Cucurbitaceae (timun, dan melon), sanitasi kebun, penggunaan musuh alami dan pengaturan waktu tanam yang serentak.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif karbosulfan, formrtanat hidroklorida, piraklorofos dan imidakloprid sampai tanaman basah dan merata.

3). Ulat perusak daun (Spodoptera litura)

Hama ini memiliki ciri-ciri tubuh berwarna hijau dengan garis hitam atau hijau bergaris kuning. Hama spesies Spodoptera liburan ini menyerang bagian daun tanaman dan bahkan sampai melubangi/dapat juga merusak buah. Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini yaitu daun tanaman nampak berlubang.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara melakukan rotasi/pergiliran tanaman dan menggunakan musuh alami.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, klorfluazoron betasiflutrin, profenofos, bacillus turingiensis, lamda sihalotrin dengan dosis anjuran.

4). Tungau

Tungau merah: Tetranychus cinnabarinus Boisduval atau tunga kuning: Polyphagotarsonemus latus Bank.

Hama ini memiliki ciri tubuh yang sangat kecil, tubuhnya berwarna merah agak kekuningan/kehijauan. Hama tungau menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman. Keberadaan hama ini dapat dilihat adanya jaring-jaring sarang yang terletak di bawah permukaan daun. Gejala serangan yang ditimbulkan oleh hama ini yaitu warna daun akan tampak pucat. Hama ini juga sebagai pembawa virus.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara memungutnya langsung dari daun yang terserang kemudian dimusnahkan serta menjaga kebersihan kebun.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan akarisida.

5). Henosepilachna spp

Hama ini menyerang tanaman dalam bentuk larva dan imago serta hidup di permukaan daun. Larva dan imago menyerang tanaman dengan cara memakan daun dan menyisakan tulang daunnya saja, sehingga daun tampak berlubang.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun, pemangkasan daun yang terserang kemudian langsung dibakar, pemasangan perangkap yellow sticky trap, dan penggunaan musuh alami.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penggunaan insektisida berbahan aktif abamektin ,bensultap, bacillus coagulans, siromazin, piretroid dan organofosfat.

6). Lalat buah (Dacus spp)

Hama ini menyerang tanaman melon dalam bentuk larva. Larva akan tinggal di dalam buah melon dan memakan jaringan daging buah. Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini akan menyebabkan buah melon busuk.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara eradikasi buah yang terserang, menggunakan musuh alami, pemasangan perangkap beracun yang mengandung metil eugenol.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan insektisida sintetis berbahan aktif betasiflutrin, profenofos, deltametrin, metitation dan protiofos.

7). Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)

Hama ini aktif menyerang pada malam hari dan memiliki cici-ciri panjang tubuh sekitar 2-5 cm, berwarna hitam bernintik-bintik/bergaris-garis. Larva kecil akan memakan daun, terutama tunas yang masih muda, larva dewasa dapat memakan pangkal tanaman.

Pengendalian:

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan dengan tujuan memutuskan siklus hidup ulat tanah, dan pemberantasan sarang-sarang ngengat di sekitar area pertanaman.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penggunaan insektisida sintetis sesuai dengan aturan dosis tanaman semangka.

8). Kutu aphids (Aphids gossypii Glover)

Hama ini memiliki ciri-ciri, aphids muda berwarna kuning, sedangkan yang dewasa mempunyai sayap berwarna agak kehitaman. Hama ini juga sebagai pembawa virus. Hama ini menyerang tanaman semangka dengan cara menghisap cairan dalam tanaman.

Gejala yang ditimbulkan oleh serangan hama aphids yaitu menggulungnya daun tanaman dan bagian pucuk tanaman menjadi keriting. Hama ini juga dapat mengeluarkan semacam cairan yang berasa manis sehingga dapat mengundang banyak semut.

Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan menggunakan insektisida sesuai anjuran secara rutin. Tanaman yang terserang virus, segera dicabut dan dibakar.

9). Kutu Daun

Hama ini menyerang tanaman melon dengan cara menghisap cairan tanaman pada daun yang masih muda. Spesies kutu daun menghasilkan kotoran yang memiliki rasa manis, sehingga dapat mengundang banyak semut. Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini adalah daun tanaman akan mengalami klorosis/memudarnya warna hijau daun, daun menggulung, mengeriting yang membuat tanaman menjadi kerdil.

Hama kutu daun dapat dikendalikan dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif tiametoksam, abamektin, sipermetrin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, atau lamdasihalotrin.

10). Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

Hama ini memiliki ciri-ciri tubuh berwarna putih, bersayap dan seluruh tubuhnya diselimuti serbuk putih. Kutu kebul menyerang tanaman melon dengan cara menghisap cairan daun melon, sehingga menyebabkan kerusakan pada jaringan maupun sel-selnya.

Pengendalian

Non kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara pembersihan lingkungan kebun, mengatur jarak tanam, pergiliran tanaman, pemasangan perangkap kuning, eradiksi bagian tanaman yang terserang, dan penggunaan musuh alami.

Kimiawi: pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara penyemprotan insektisida sintetis berbahan aktif tiametoksam, abamektin, sipermetrin, imidakloprid, karbosulfan, prothiofos, diafentiuron, tiametoksam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!