Hama Utama yang Menyerang Tanaman Sawi

Hama Utama yang Menyerang Tanaman Sawi

Sawi merupakan salah satu tanaman olerikultura yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Sawi sebagai sayuran hijau yang memiliki banyak serat dan kandungan gizi berguna untuk kesehatan tubuh manusia.

Sawi

Tanaman sawi cukup mudah dibudidayakan, dapat ditanaman di pekarangan rumah. Walau mudah budidaya sawi tak terhindarkan dari serangan hama pengganggu tanaman. Gejala serangan hama tanaman sawi dapat menimbulkan banyak kerugian karena hasil panennya memiliki kualitas dan kuantitas yang rendah sehingga pendapatan petani sawi menurun.

Artikel ini akan menyampaikan informasi penting tentang uraian hama utama yang menyerang tanaman sawi. Hama target tanaman sawi terdiri dari ulat tritip (Plutella xylostella), Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), Ulat grayak (Spodoptera litura). Selain hama target ada juga hama lain atau Arthropoda non target. Berikut ini uraian hama utama sawi:

Ulat Tritip {(Plutella xylostella (L.)}

Pracaya (1999) menyebutkan bahwa ulat ini disebut ulat tritip, atau ngengat punggung berlian. Ulat ini tersebar di seluruh dunia, di daerah tropis, subtropis dan daerah sedang (temperate). Ciri khas dari tritip bila merasa ada bahaya akan menjatuhkan diri dengan mengeluarkan benang untuk menyelamatkan diri.

Tanaman ulat tritip antara lain kubis tunas, dan tanaman lain yang termasuk keluarga Brassicaceae. Di daerah panas sampai ketinggian 250 m dari permukaaan laut (dpl) stadium telur hanya dua hari, ulat sembilan hari, pupa empat hari, dan kupu-kupu tujuh hari. Di dataran tinggi berketinggian 1.100 m-1.200 m dpl umurnya lebih panjang, yaitu stadium telur 3-4 hari, ulat 12 hari, pupa 6-7 hari, dan kupu-kupu 20 hari. Bentuk telur bulat panjang dengan lebar ± 0,26 mm dan panjang 0,49 mm. Ulat yang baru menetas berwarna hijau pucat, sedang yang telah besar warnanya lebih tua dengan kepala lebih pucat dan terdapat bintik-bintik atau garis cokelat. Panjang ulat 9-10 mm, kepompong berwarna abu-abu putih ( Rukmana dan Saputra, 1997).

Ngengat betina dapat bertelur 180-320 butir. Umumnya telur diletakkan di balik daun satu per satu, kadang dua-dua atau tiga-tiga. Telurnya mengelompok dalam satu daun atau daun yang berlainan tanaman sehingga satu ngengat dapat bertelur pada banyak tanaman kubis. Setelah cukup umur, ulat mulai membuat kepompong dari bahan seperti benang sutera abu-abu putih dibalik permukaan daun untuk menghindari panasnya matahari. Setelah selesai berubah menjadi pupa, kemudian mula-mula pupa berwarna hijau muda, kemudian berubah menjadi hijau tua dan akhirnya menjadi ngengat (Pracaya, 2009).

Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.)

Ulat Crocidolomia binotalis ini termasuk ordo Lepidoptera famili Pyralidae yang banyak terdapat menyerang tanaman keluarga Brassicaceae. Ulat ini menyerang terutama bagian dalam yang terlindung daun hingga mencapai titik tumbuh. Apabila tanaman ini diserang penyakit maka tanaman dapat mati (Pracaya, 1999).

Hama C.binotalis menyenangi daun muda sampai titik tumbuh. Larva berwarna hijau, pada punggungnya terdapat garis berwarna hijau muda, warna samping kiri dan kanan hijau tua, serta pada lateral tersebut terdapat rambut dari chitine berwarna hitam. Bagian sisi perut berwarna kuning, panjang larva ± 18 mm. Ngengatnya tidak tertarik pada cahaya. Selama hidup ngengat mampu bertelur 330-1.400 butir. Telur diletakkan secara berkelompok pada bagian bawah permukaan daun dengan ukuran 3×5 mm. Setiap kelompok terdiri atas 30-50 butir telur. Larva berkepompong di dalam tanah dengan kokon yang diselimuti butiran tanah (Rukmana dan Saputra, 1997).

Ulat grayak (Spodoptera litura)

Ulat grayak Spodoptera litura (F.) merupakan serangga polifag yang dapat hidup dan merusak berbagai komoditas pertanian, antara lain tembakau, kentang kedelai, kacang tanah, dan jenis tanman lainnya. Ulat ini tersebar di penjuru dunia seperti Jepang, Taiwan, Cina, Mesir, Srilanka, Filipina, Muangthai, dan juga Indonesia (Kalshoven, 1981).

Ulat grayak S. litura termasuk dalam keluarga Noctuidae, yang berasal dari bahasa latin Noctua yang artinya burung hantu. Ulat dan ngengat ulat grayak memang hanya keluar pada malam hari dan bersembunyi pada waktu siang hari (Pracaya, 1999). Umur ngengat umumnya pendek, yaitu hanya punya kesempatan bertelur 2-6 hari. Telur diletakkan berkelompok ± 350 butir. Ngengat betina
mampu bertelur 2.000-3.000 butir. Telur akan menetas setelah 3-5 hari ( Rukmana dan Saputra, 1997).

Setelah menetas, ulat kecil masih tetap berkumpul untuk sementara. Beberapa hari kemudian, ulat tersebar mencari pakan. Pada siang hari ulat bersembunyi dalam tanah, sedangkan pada malam hari menyerang tanaman. Hama ini biasanya senang pada tempat yang lembab. Saat berumur lebih kurang 2 minggu panjang ulat lebih kurang 5 cm. Warnanya bermacam-macam, ciri khas dari ulat grayak ini adalah pada ruas perut yang ke empat dan ke sepuluh terdapat bentuk bulan sabit berwarna hitam yang dibatasi garis kuning pada samping dan punggungnya (Pracaya, 2009).

Stadia larva 20-46 hari dengan lima instar. Larva instar 1 panjang tubuhnya kurang dari 2 mm, berwarna hijau dengan kepala hitam. Larva instar 2 mempunyai kepala berwarna cokelat muda, warna tubuhnya hijau kekuningan kemudian berubah menjadi hijau kecokelatan. Larva instar 3 pada abdomennya terdapat bintik-bintik hitam. Sedangkan pada larva instar 4 pada bagian dorsal abdomennya terdapat tiga garis kuning memanjang. Di atas garis tersebut terdapat bintik-bintik kuning berbentuk setengah lingkaran. Pada bagian lateral terdapat garis kuning dan putih yang memanjang. Larva instar 5 berwarna hitam, mempunyai garis kuning pada bagian dorsal yang kemudian berubah menjadi jingga (Wahyudi,1997 dalam Fatimah, 2006)

Hama Perusak dan Pemakan Daun Lain

Wahyudi (2004), serangga hama lain yang menyerang tanaman sawi meliputi ordo Coleoptera, Hemiptera (kepik-kepikan), Lepidoptera (pengorok daun), Nematoda, dan Orthoptera (belalang). Hama- hama tersebut merupakan hama sekunder dalam agroekosistem, tetapi jika kepadatan populasinya melampaui ambang pengendalian maka keberadaannya pada pertanaman sawi sewaktu-waktu berpotensi menyebabkan kerusakan yang berakibat kuantitas dan kualitas produk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *