Pentingnya Pengairan untuk Tanaman Padi

Pentingnya Pengairan untuk Tanaman Padi

Air merupakan komponen utama bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Mulyaningsih, 2011). Kondisi air memberikan pengaruh yang beragam
pada fase vegetatif maupun generatif (Aryanti, 2011), sehingga akan mempengaruhi produksi padi gogo. Fungsi air bagi tanaman yaitu Penyusun tubuh
tanaman (70%-90%), pelarut dan medium reaksi biokimia, medium transpor senyawa, memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan sel dan
pembesaran sel), bahan baku fotosintesis dan menjaga suhu tanaman supaya konstan (Eliakim et al., 2008).

Bentuk air dalam tanah yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman dapat dibedakan berdasarkan retensinya yaitu (a) Air kapiler; terletak antara titik layu
tetap (batas bawah) dan kapasitas lapang (batas atas); (b) Air higroskopis (kurang
dari titik layu tetap); (c) Air gravitasi yaitu air yang berada di atas kapasitas lapang. Diupayakan pengaturan lengas tanah supaya optimum melalui pembuatan
saluran drainase (mencegah terjadinya genangan) maupun saluran irigasi (mencegah cekaman kekeringan).

Air hujan dan irigasi masuk ke tanah lewat
infiltrasi, mengisi pori mikro tanah dan tertahan sebagai lengas. Status air tanah
digambarkan oleh kandungan lengas dan tanah tergantung pada tekstur dan
struktur tanah. Tanah lempung menyimpan air lebih banyak dari pada tanah pasir. Kekeringan di tanah lempung terjadi lebih lambat. Kelebihan air terjadi ketika pada permukaan tanah menjadi jenuh, pori-pori tanah penuh dengan air (Eliakim et al., 2008).

Keberadaan air di alam dapat menjadi pembatas pertumbuhan tanaman, apabila jumlahnya terlalau banyak (menimbulkan genangan) sering menimbulkan cekamaan aerasi dan jika jumlahnya terlalu sedikit, sering menimbulkan cekaman kekeringan. Efek dari kelebihan air akan jelas terlihat pada daerah yang mendapat irigasi, kemudian di berbagai tempat yang dekat dengan daerah tampungan air bawah tanah. Ketiadaan atau kekurangan air bagi tanaman dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan tanaman dan menurunkan produktivitas. Jika jumlah air tidak memadai untuk keperluan tumbuhan, maka sel menjadi lembek dan stomata menutup untuk mengurangi kehilangan air berkelanjutan. Umumnya tumbuhan yang berada di daerah kering ini berada dalam keadaan setengah dehidrasi pada siang hari yang diimbangi dengan penyimpanan dalam keseimbangan airnya pada malam hari (Eliakim et al., 2008).

Cekaman kekeringan adalah salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman di lahan kering, akibatnya pertumbuhan terhambat dan tingginya
sterilitas gabah. Penurunan hasil akibat kekeringan sangat ditentukan oleh derajat
kekeringan. Kekeringan pada fase vegetatif seringkali tidak berakibat menurunkan
hasil secara nyata. Kekeringan yang terjadi ketika periode pembungaan dapat menurunkan hasil secara nyata dan rendahnya fertilitas gabah (Boonjung & Fukai 1996; Jongdee et al., 2006; Liu et al. 2006 cit. Mulyaningsih, 2011).

Teknik pengairan yang tepat dapat memberikan dampak positif terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Teknik pengairan yang menciptakan kondisi tanah lebih aerob dapat membuat akar tanaman lebih banyak mendapat oksigen, sehingga perkembangannya menjadi lebih baik dan memberikan hasil yang optimal. Terdapat beberapa teknik pengairan yang dapat menciptakan kondisi
yang aerob yaitu teknik pengairan secara GORA (gogo rancah) dan SRI (System of Rice Intensification). Selain itu, kondisi aerob memungkinkan mikroba tanah
mendapatkan oksigen lebih banyak sehingga terjaga kelangsungan hidupnya.
Selain membantu dalam proses menguraikan bahan-bahan organik menjadi bahan- bahan yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman, keberadaannya pun membantu dalam proses fiksasi nitrogen di sekitar akar tanaman padi. Hal ini menjadi potensi besar dalam pemenuhan kebutuhan nitrogen oleh tanaman padi, sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman padi akan meningkat, pengairan yang lebih aerob dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi serta mampu menghemat penggunaan air di musim kering (Cepy & Wangiyana, 2011).

Menurut Nazirah (2008) tingkat pemberian air (volume air) sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi padi gogo pada semua varietas. Perlakuan pengairan antara lain 2 mm/hari (251,2 cc/polybag), 4 mm/hari (502,4 cc/polybag) dan 6 mm/hari (753,6 cc/polybag). Pada tingkat pemberian volume 4 mm/hari = 502,4 cc/polybag, dengan penyirman selama 2 hari sekali menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang baik dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya, karena pada penyiraman 1 kali dalam 2 hari akan mencukupi pertumbuhan tanaman padi gogo dan mampu mengimbangi kehilangan air akibat dari transpirasi dan evaporasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.