Pengertian Tanah Gambut

Pengertian Tanah Gambut

Tanah merupakan suatu lingkungan untuk pertumbuhan tanaman yang sangat kompleks. Bagian tanaman yang langsung terhubung dengan tanaman adalah akar, yang merupakan bagian yang sangat vital yang berperan dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup tanaman dengan jalan mengabsorbsi hara dan air (Sarif, 1996 cit. Nazirah, 2008).

Indonesia memiliki kawasan gambut dan lahan basah air tawar yang sangat luas sekitar 19 juta hektar atau 10% dari luas wilayah negara. Sebagian besar terletak di Papua Barat, Sumatera dan Kalimantan (Chokkalingam dan Suyanto, 2004). Tanah gambut merupakan tanah yang miskin akan hara dan sangat sulit digunakan untuk usaha pertanian skala besar, namun semakin banyak kawasan- kawasan tersebut digali kanal-kanal untuk mengeringkan dan menyiapkan lahan untuk pertanian (Burning issues, 2003 cit. Slamet, 2008).

Perluasan pemanfaatan lahan gambut meningkat pesat di beberapa provinsi yang memiliki areal gambut luas, seperti Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Antara tahun 1982 sampai 2007 telah dikonversi seluas 1,83 juta ha atau 57% dari luas total hutan gambut seluas 3,2 juta ha di Provinsi Riau. Laju konversi lahan gambut cenderung meningkat dengan cepat, sedangkan untuk lahan non gambut peningkatannya relatif lebih lambat. Secara umum dalam klasifikasi tanah, tanah gambut dikenal sebagai Organosol atau Histosol yaitu tanah yang memiliki lapisan bahan organik dengan berat jenis dalam keadaan lembab <0,1 g dengan tebal >60 cm. Gambut diklasifikasikan lagi berdasarkan berbagai sudut pandang yang berbeda. Berdasarkan tingkat kematangannya, gambut dibedakan menjadi: Gambut saprik (matang) adalah gambut yang sudah melapuk lanjut dan bahan asalnya tidak dikenali, berwarna coklat tua sampai hitam, dan bila diremas kandungan seratnya <15%. Gambut hemik (setengah matang) adalah gambut setengah lapuk, sebagian bahan asalnya masih bisa
dikenali, berwarna coklat dan bila diremas bahan seratnya 15-75%. Gambut fibrik
(mentah) adalah gambut yang belum melapuk, bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila diremas >75% seratnya masih tersisa (Agus & Subiksa, 2008).

Berdasarkan tingkat kesuburannya gambut dibedakan menjadi tiga bagian antara lain; (a) gambut eutrofik adalah gambut yang subur, kaya akan bahan mineral dan basa-basa serta unsur hara lainnya. Gambut yang relatif subur biasanya adalah gambut yang tipis dan dipengaruhi oleh sedimen sungai atau laut; (b) mesotrofik yaitu gambut yang memilki tingkat kesuburan yang sedang; (c) gambut oligotrofik adalah gambut yang tidak subur karena miskin akan mineral dan basa-basa dan unsur hara lainnya. Gambut di Indonesia sebagian besar tergolong gambut mesotrofik dan oligotrofik. Gambut eutrofik di Indonesia hanya sedikit dan umumnya tersebar di daerah pantai dan di sepanjang jalur aliran sungai. Tingkat kesuburan gambut ditentukan oleh kandungan bahan mineral dan basa-basa, bahan dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut (Agus & Subiksa, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian bahwasanya penanaman padi gogo pada media gambut belum ada dilakukan akan tetapi penananaman padi sawah pada media gambut sudah pernah dilakukan seperti di Provinsi Kalimantan. Beberapa padi sawah yang ditanam dilahan gambut memiliki produksi yang berbeda.

Adapun perbedaan produksi antar varietas tersebut adalah PB 42 (5,80 ton/ha), Batang Piaman (5,34 ton/ha), Batang Lembang (4,94 ton/ha), Gilirang (4,74 ton/ha) dan Cibogo (4,66 ton/ha). Penanaman beberapa varietas unggul padi sawah memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi gabah (Munir & Haryoko, 2009). Jika jumlah gabah bernas per malai dan bobot 1000 biji tinggi, maka produksi per plot akan tinggi, begitu pula sebaliknya jika jumlah gabah per malai dan bobot 1000 biji rendah maka produksi perplot akan rendah (Suryana, 1990 cit. Munir & Haryoko, 2009).

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!