Metil Eugenol untuk Pengendalian Lalat Buah

Metil Eugenol untuk Pengendalian Lalat Buah

Metil Eugenol

Metil eugenol merupakan senyawa pemikat serangga terutama lalat buah yang bersifat mudah menguap dan melepaskan aroma wangi. Susunan metil eugenol terdiri dari unsur C, H, O (C12H24O2). Zat ini merupakan food lure yang dibutuhkan oleh lalat jantan untuk dikonsumsi. Ketika lalat buah jantan mencium aroma metil eugenol maka lalat tersebut akan berusaha mencari dan mendekati sumber aroma tersebut dan memakannya. Umumnya aroma atraktan akan tercium pada jarak 20-100 m, namun jika dipengaruhi oleh faktor angin jangkauannya bisa lebih luas lagi bahkan bisa mencapai 3 km (Kardinan, 2003).

Penggunaan atraktan dengan menggunakan bahan metil eugenol merupakan cara pengendalian yang ramah lingkungan dan telah terbukti efektif. Atraktan bisa berupa bahan kimia yang dikenal dengan semio chemicals yang dapat memengaruhi tingkah laku serangga, seperti mencari makan, meletakkan telur, hubungan seksual dan lainnya. Salah satu dari semio chemicals adalah kairomones. Sejenis kairomones yang dapat merangsang alat sensor serangga adalah metil eugenol yang merupakan atraktan lalat buah (Kardinan, 2007).

Metil eugenol dapat menarik lalat buah dari sub genus Bactrocera (Bactrocera spp.) Ceratitis (Pardalapsis) dan juga menarik tiga jenis Dacus spp., yaitu D. melanohumeralis, D. memnonius, dan D. pussilus, tetapi tidak untuk anggota sub-genus Bactrocera (Zeugodacus) spp. Senyawa tersebut dideskripsikan sebagai 4-allyl-1,2-dimethoxybencena atau 3,3 dimethoxy (1) 2 propenyl benzene (Siwi dkk., 2006).

Di dalam tubuh lalat buah jantan, metil eugenol akan diproses menjadi zat pemikat yang akan berguna dalam proses perkawinan. Dalam proses perkawinan tersebut, lalat buah betina akan memilih lalat buah jantan yang telah mengonsumsi metil eugenol karena lalat buah jantan tersebut mampu mengeluarkan aroma yang berfungsi sebagai sex pheromone (daya pikat seksual) (Kardinan, 2003).

Metil eugenol telah dilaporkan efektif untuk mengendalikan hama lalat buah pada tanaman cabai. Menurut Fatimah (2001) aplikasi metil eugenol dengan dosis 1,1 ml/perangkap memberikan pengaruh yang optimum terhadap hasil jumlah tangkapan lalat buah pada tanaman cabai.

Penelitian Sutjipto dkk. (2011) melaporkan bahwa dosis metil eugenol yang disuling dari ekstrak daun selasih 1,25 ml/perangkap merupakan dosis yang optimal untuk mengendalikan lalat buah pada pertanaman cabai di Desa Bedadung, Kecamatan Pakusari, Kabupaten  Jember. Sedangkan menurut Patty (2012), dosis metil eugenol yang efektif untuk mengendalikan hama lalat buah pada tanaman cabai di Desa Waimital Kecamatan
Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat yaitu 1,5 ml/perangkap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *