Kultur Hara

Kultur Hara

Kultur Hara adalah bagian dari hidroponik yang tergolong pada jenis kultur air. Kultur air adalah cara menumbuhkan langsung tanaman dengan meggunakan hara, dengan menempatkan akar tanaman kedalam larutan hara dan menyangga bagian tajuk agar tetap tegak. Metode ini menggunakan air sebagai media tumbuh tanaman. Pada metoda ini tumbuhan ditanam semata-mata dalam air, yang dilengkapi dengan larutan zat makanan. Wadah/tempat/pot dapat berupa stoples, tabung kaca, plastik, dan lain-lain yang disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam dan wadah yang tersedia (Hanum, 2008).

Penanaman di tanah asam dengan kandungan Al tinggi untuk menapis plasma nutfah padi merupakan salah satu cara untuk mengidentifikasi derajat toleransi Al tanaman padi. Namun demikian, uji lapang ini membutuhkan areal yang luas, dan membutuhkan banyak tenaga dan waktu yang lama untuk memperolah data, karena pengamatan dilakukan sampai tanaman dewasa dan berproduksi. Oleh karena itu perlu suatu metode yang efisien dan cepat yaitu pengamatan pada fase awal pertumbuhan tanaman atau fase kecambah. Metode yang biasa digunakan adalah metode kultur hara (Zhang et al., 1999).

Kebutuhan hara untuk pertumbuhan jagung manis diantaranya adalah nitrogen yang penting dalam meningkatkan pertumbuhan vegetative tanaman menyatakan bahwa tanaman yang kekurangan unsur nitrogen akan tumbuh lambat dan kerdil. Kekurangan unsur hara nitrogen mengakibatkan terhambatnya pembentukan atau pertumbuhan bagian-bagian vegetatif seperti daun, batang, dan akar (Ayunda, 2014).

Metode kultur hara, banyak peubah yang dapat digunakan sebagai parameter toleransi, seperti panjang akar relatif (PAR), pemanjangan akar relatif (relative root elongation = RRE), dan pertumbuhan kembali akar (root re-growth = RRG), bobot kering akar relatif (BKAR), dan bobot kering tajuk relatif (BKTR). Peubah PAR dan RRE digunakan untuk mengevaluasi beberapa varietas sorgum hasil penapisan di lapang. Hasil uji menggunakan metode kultur hara dengan peubah PAR ini menunjukkan bahwa beberapa varietas sorgum menampakan hasil yang berbeda antara hasil uji lapang dan kultur hara (Sirait, 2016).

Pertumbuhan tanaman dengan kultur hara dapat menjadi solusi deteksi dini terhadap cekaman abiotik, dibandingkan dengan budidaya tanaman di tanah. Hal ini dikarenakan tanaman tidak akan terkontaminasi dengan tanah, irigasi tanaman yang dapat di atur secara otomatis, akar dapat diamati dengan jelas, dan lingkungan zona akar mudah dipantau dan dikontrol (Hershey, 2008).

Pada teknik ini hara disediakan dalam bentuk larutan hara, mengandung semua unsur hara esensial yang dibutuhkan oleh tanaman agar tercapai pertumbuhan normal. Nutrisi yang diperlukan tanaman dapat dipenuhi dengan meramu sendiri berbagai garam kimia, cara ini memerlukan keterampilan dan pengetahuan khusus. Memang cara inilah yang banyak dipakai di perusahaanperusahaan besar, tetapi untuk di tingkat petani hal ini menjadi tidak efektif lagi mengingat mahalnya harga bahan-bahan kimia saat ini (Wijayani dan Widodo, 2005).

Menurut penelitian Amnal (2009) menyatakan bahwa varietas yang mengalami gangguan pertumbuhan secara fisiologi maupun morfologi pada percobaan kultur hara juga mengalami penghambatan yang sama terhadap pada percobaan dengan menggunakan media tanah. Selain lebih sederhana perlakuan dengan konsentrasi Fe yang cukup tinggi pada kultur hara dapat dilakukan untuk mempelajari tingkat keracunan besi dalam waktu yang singkat, biaya yang lebih rendah, serta dapat melakukan seleksi berbagai varietas dalam waktu bersama. Sama halnya dengan perlakuan pada NaCl karena pada prinsipnya kultur merupakan metoda screening awal melihat pertumbuhan tanaman untuk tahap seleksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *