Cekaman Salinitas NaCl

Cekaman Salinitas NaCl

Pemanfaatan lahan marginal, seperti lahan pasang surut, belum diupayakan secara optimal untuk memenuhi dan mempertahankan kebutuhan pangan nasional. Cekaman lingkungan merupakan factor penghambat pertumbuhan tanaman. Diantara berbagai cekaman lingkungan, salinitas merupakan salah satu cekaman yang paling banyak dijumpai. Di Indonesia terdapat sekitar 39,4 juta hektar tergolong lahan yang salin (Dachlan, et.al, 2013). Sedangkan, areal pasang surut di Indonesia diperkirakan mencapai 20.11 juta ha, dengan 0.44 juta ha adalah lahan salin yang merupakan salah satu lahan marginal yang dapat berpotensi menjadi areal pertanian (Wilujeng, et.al, 2013).

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas air payau menggambarkan kandungan garam dalam suatu air payau. Garam yang dimaksud adalah berbagai ion yang terlarut dalam air termasuk garam dapur (NaCl). Pada umumnya salinitas disebabkan oleh 7 ion utama yaitu: natrium (Na+), kalium (K+), kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), Klorida (Cl-), sulfat (SO4=) dan bikarbonat (HCO3-). Salinitas dinyatakan dalam satuan gram/kg atau promil (‰) (Yusuf E, 2009). Air di kategorikan sebagai air payau bila konsentrasi garamnya 0,05 sampai 3% atau menjadi saline bila konsentrsinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5% disebut brine (Wesen dan Ratih, 2013).

Kadar garam yang tinggi dalam larutan tanah di daerah perakaran tanaman, menyebabkan tekanan osmotik yang tinggi dan ber kurangnya ketersediaan unsur kalium bagi tanaman. Salinitas tanah akan menghambat pembentukan akar-akar baru dan akar tanaman mengalami kesukaran dalam menyerap air karena tingginya tekanan osmotik larutan tanah. Keadaan ini selanjutnya akan menyebabkan terjadinya kekeringan pada tanaman (Delvian, 2005).

Gangguan serapan hara merupakan salah satu dampak negatif salinitas yang berakibat pada hambatan pertumbuhan tanaman, baik akibat gangguan pada homeostasis ion, maupun gangguan terhadap perkembangan akar (Karjunita, 2016) Rambut akar merupakan bagian akar yang berperan penting dalam penyerapan hara.

Tanah tergolong salin bila mengandung garam dalam jumlah yang cukup tinggi untuk mengganggu pertumbuhan kebanyakan spesies tanaman. Sesuai dengan definisi yang dipakai oleh US Salinity Laboratory bahwa ekstrak jenuh (larutan yang diekstraksi dari tanah pada kondisi jenuh air) dari tanah salin mempunyai nilai DHL (daya hantar listrik, EC= electrical conductivity) lebih besar dari 4 deci Siemens/m (ekivalen dengan 40 mM NaCl) dan persentase natrium yang dapat dirukar (ESP= exchangeable sodium percentage) kurang dari 15. Akan tetapi ini bukan merupakan jumlah yang tepat karena akan tergantung kepada spesies tanaman, tekstur tanah dan kandungan air tanah, serta komposisi garamnya sendiri.

Walaupun pH tanah salin bisa bervariasi dalam selang yang lebar, namun kebanyakan mendekati netral atau sedikit alkali. Tanah salin dengan nilai ESP> 15 disebut sebagai tanah salinalkali, mempunyai pH yang tinggi dan cenderung menjadi sedikit impermiabel terhadap air dan aerasi ketika garam-garam terlarut mengalami pencucian. Pengukuran kecocokan tanah salin untuk produksi tanaman dapat dilakukan secara cepat dan sederhana dengan melihat nilai EC. Dari nilai EC, potensial osmotic dari ekstrak jenuh dapat juga dihitung dengan persamaan osmotic potensial =EC x 0,036. Karena nilai EC diukur pada ekstrak tanah dalam keadaan jenuh, konsentrasi garam pada larutan tanah pada kapasitas lapang sebenarnya mendekati dua kali dari kondisi jenuh, atau bahkan lebih tinggi bila kadar air tanah turun. Sebagai perbandingan, EC air laut berkisar antara 44-55 dS/m, sedangkan kualitas air irigasi yang baik harus mempunyai EC < 2 dS/m (Djukri, 2009).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *