Lahan Sulfat Masam

Lahan Sulfat Masam

Tanah sulfat masam merupakan bagian dari lahan pasang surut yang mempunyai lapisan pirit yang belum teroksidasi (lapisan sulfidik) dan yang sudah teroksidasi (horizon sulfurik) (Suriadikarta dan Setyorini, 2006). Salah satu masalah utama dalam pertanaman tanaman di lahan pasang surut sulfat masam potensial adalah keracunan besi, yang bersumber dari adanya lapisan pirit pada lapisan solum tanah. Pirit bersifat labil dalam keadaan aerob, apabila teroksidasi dapat meningkatkan kemasaman tanah. Hasil oksidasi pirit secara sempurna akan membebaskan 4 mol ion H+ dalam setiap mol pirit serta terbentuknya ferrihidroksida (Fe(OH)3 (Noor, 1996).

Berdasarkan identifikasi dan karakteristik tanah, tanah sulfat masam terbagi atas dua macam (Soil survey staff, 2010), yaitu (1) sulfat masam potensial, dimana pirit masih berupa bahan sulfidik dalam status reduksi pada ke dalaman 0 – 100 cm dan pH > 4.0, termasuk dalam klasifikasi tanah Entisol dan (2) Sulfat masam aktual, dimana memiliki horizon sulfurik atau pirit yang telah teroksidasi pada ke dalaman 0-50 cm dan pH < 3.5, termasuk dalam klasifikasi tanah Inceptisol. Kondisi tanah sulfat masam umumnya sangat merugikan pertumbuhan tanaman.

Lahan pasang surut memiliki peranan semakin penting dalam mendukung peningkatan ketahanan pangan nasional serta pengembangan sistem dan usaha agribisnis, mengingat potensi arealnya luas dan teknologi pengelolaannya sudah tersedia (Alihamsyah dkk., 2003). Pengembangan lahan pasang surut tanah sulfat masam sebagai areal pertanian yang produktif dihadapkan pada berbagai kendala agrofisik, biologis dan sosial ekonomi (Tampubolon dkk., 1990).

Beberapa prinsip utama yang menyebabkan keracunan Fe sebagai berikut: a), konsentrasi Fe2+ dalam larutan tanah karena kondisi reduksi atau pH rendah, b), status hara tanaman yang rendah dan tidak seimbang. Oksidasi akar jelek dan tenaga pengeluaran Fe2+ menyebabkan defisiensi P, Ca, Mg atau K. Defisiensi K sering berasosiasi dengan kandungan tanah dan pH tanah yang rendah, yang memacu konsentrasi Fe tinggi pada larutan tanah, c), tenaga oksidasi akar jelek karena akumulasi bahan yang menghambat respirasi (misalnya H2S, FeS, asam organik), dan d), pemberian sejumlah besar bahan organik yang tidak mudah terdekomposisi (Fairhurstet dkk., 2002).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *