Koloid

Koloid

Pengertian Koloid

Koloid merupakan suatu bentuk campuran (sistem dispersi) dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1 – 100 nm). Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain sehingga tidak terjadi pengendapan. Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa atau suspensi. Sistem dispersi adalah pencampuran secara nyata antara dua zat atau lebih dimana zat yang jumlahnya lebih sedikit disebut dengan fase terdispersi dan zat yang jumlahnya lebih banyak disebut medium pendispersi (Wikipedia, 2013).

Jenis Koloid

Koloid memiliki bentuk bermacam-macam, tergantung dari fase zat pendispersi dan zat terdispersinya (Wikipedia, 2013). Beberapa jenis koloid:

  • Aerosol yang memiliki zat pendispersi berupa gas. Aerosol yang memiliki zat terdispersi cair disebut aerosol cair (contoh: kabut dan awan) sedangkan yang memiliki zat terdispersi padat disebut aerosol padat (contoh: asap dan debu dalam udara).
  • Sol Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair. (Contoh: Air sungai, sol sabun, sol detergen dan tinta).
  • Emulsi Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain, namun kedua zat cair itu tidak saling melarutkan. (Contoh: santan, susu, mayonaise, dan minyak ikan).
  • Buih Sistem Koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair. (Contoh: pada pengolahan bijih logam, alat pemadam kebakaran, kosmetik dan lainnya).
  • Gel sistem koloid kaku atau setengah padat dan setengah cair. (Contoh: agar-agar, Lem).

Tujuan Koloid

Tujuannya adalah untuk membuat suatu sediaan yang stabil dan rata dari dua fase yang tidak dapat bercampur, untuk pemberian larutan lebih mudah serta lebih mudah diberikan untuk anak-anak yang mempunyai rasa lebih enak, serta memudahkan absorpsi obat (Ansel, 1985).

Pembuatan Koloid

Pembuatan koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan cara memecah partikel kasar menjadi partikel koloid. (McClements, 2004) Pemecahan itu dapat dilakukan dengan cara:

a. Cara Mekanik

Pembuatan koloid dengan cara mekanik dilakukan dengan menggerus partikel kasar di dalam lumpang atau penggiling koloid hingga diperoleh kehalusan pada tingkat tertentu. Butiran itu selanjutnya diaduk dalam medium pendispersi. Misalnya, pembuatan sol belerang.

b. Cara Peptisasi

Pembuatan koloid dengan cara peptisasi dilakukan dengan memecah butir-butir kasar dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Misalnya agar-agar dipeptisasi oleh air.

c. Cara Busur Bredig

Cara busur bredig banyak digunakan untuk membuat sol logam. Logam yang akan dibuat sol dijadikan sebagai elektrode yang dicelupkan ke dalam medium pendispersi dan diberi aliran listrik di antara elektrodenya. Karena diberi aliran listrik, atom-atom logam terlempar ke dalam medium pendispersi. Selanjutnya, atom-atom itu mengalami kondensasi hingga membentuk koloid.

d. Homogenisasi

Pembuatan koloid dengan homogenisasi dilakukan dengan mesin khusus. Contohnya adalah pembuatan susu kental manis yang bebas kasein dan pembuatan obat. Kestabilan larutan erat kaitanya dengan proses homogenisasi. Homogenisasi ini merupakan proses mengubah dua cairan yang sifatnya immisible (tidak bercampur) menjadi sebuah dispersi. Homogenisasi didalam teknologi pencampuran, emulsifikasi dan suspensi dikenal sebagai operasi yang pada dasarnya terdiri dari dua tahap yaitu pertama pengecilan ukuran droplet pada fase bagian dalam dan kedua yang merupakan tahap simultan pendistribusian droplet kedalam fase kontinu. Alat yang dirancang untuk melakukan proses emulsi disebut homogenizer (McClements, 2004).

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan selama proses homogenisasi (Widodo, 2003) yaitu:

  1. Diameter globula lemak yang dihasilkan dari proses homogenisasi tidak boleh terlalu kecil (terlalu luas permukaan globula baru yang dihasilkan).
  2. Homogenisasi dilakukan pada suhu yang relatif tinggi (68-70oC). Semakin tinggi suhu homogenisasi maka akan semakin sedikit material pembentuk membran yang diperlukan untuk membentuk membran baru
  3. Penambahan material pembentuk membran . Beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran droplet yang dihasilkan oleh homogenisasi antara lain tipe emulsi yang digunakan, suhu, karakter komponen fasa-fasanya, dan masukan energi. Ukuran droplet yang kecil yang dihasilkan oleh homogenisasi dapat meningkatkan fasa terdispersi. Sebagai akibatnya viskositas semakin meningkat dan penyerapan emulsifier dapat meningkat. Ketidak cukupan emulsifier dalam menyelubungi permukaan droplet-droplet akan menyebabkan koalesen. Pengemulsian juga membutuhkan waktu homogenisasi yang tepat. Intensitas dan lama proses pencampuran tergantung waktu yang diperlukan untuk melarutkan dan mendistribusikannya secara merata (McClements, 2004).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.