Fenomenologi

Fenomenologi

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, Phainoai, yang berarti ‘menampak’ dan phainomenon merujuk pada ‘yang menampak’. Istilah ini diperkenalkan oleh Johann Heirinckh. Istilah fenomenologi apabila dilihat lebih lanjut berasal dari dua kata yakni; phenomenon yang berarti realitas yang tampak, dan logos yang berarti ilmu. Maka fenomenologi dapat diartikan sebagai ilmu yang berorientasi unutk mendapatan penjelasan dari realitas yang tampak. Fenomenologi merupakan studi tentang bagaimana kita memahami pengalaman orang lain, bagaimana kita mempelajari struktur pengalaman yang sadar dari dari orang lain, baik individu maupun kelompok dalam masyarakat.

Tidak bisa dipisahkan, bahwa pengalaman tersebut bersumber dari titik pandang subjektif atau pengalaman orang pertama yang mengalami pengalaman itu secara “intensionalitas”. Dengan adanya fenomenologi, kita dapat mengarahkan analisis kita pada kondisi yang memungkinkan intensionalitas, kondisi yang melibatkan keterampilan dan kebiasaan motorik hingga ke praktik-praktik kehidupan manusia berdasarkan latar belakang sosial sampai kepada penggunaan bahasa sekalipun (Moran, dalam Sobur 2013)

Fokus fenomenologi terletak pada bagaimana memberikan makna terhadap pengalaman. Beberapa isu utama fenomenologi adalah, pertama , fenomenologi sebagai metode penelitian kualitatif. (Eugene Taylor, dalam Sobur 2013) mengemukakan bahwa dari fenomenologi kita dapat berurusan dengan proses pembuatan atau penyusunan ilmu pengetahuan dimana kita bergerak dari pengalaman self ke titik eksistensial tentang pengalaman metafisis yang dalam situasi seperti ini selalu terjadi momen transformasi. Dari strategi penelitian ini, kita dapat menentukan pilihan antara, 1) penelitian teoritis, yang memerlukan penyelidikan tekstual intensif-sevara intelektual menuntut kita untuk berhadapan risiko kegagalan yang lebi besar- versus 2) penelitian empiris, yang memerlukan pengumpulan data primer dan penggunaan data sekunder yang mengarah pada dua orientasi, yaitu orientasi positivistik dan orientasi fenomenologis.

Kedua, penjelasan melalui fenomenologi. Fenomenologi adalah salah satu dari banyak jenis metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk meneliti pengalaman hidup manusia. Peneliti fenomenologi berharap untuk memperoleh pemahaman tentang “kebenaran” yang esensial dari pengalaman hidup. Premis utamanya bahwa peneliti harus peduli untuk memahami fenomena secara mendalam.

Ketiga,fenomenologi sebagai perspektif penelitian. Fenomenologi sebagai perspektif penelitian dapat dipelajari bahwa beberapa terms doamins of inquiry dengan mengatakan bahwa:

  1. kita harus dapat membedakan penggunaan tradisi atau orientasi fenomenologi seperti fenomenologi transdental, eksistensial, hemeneutik, sejarah, etika dan fenomenologi bahasa;
  2. penelitian fenomenologis lebih tertarik pada makna yang berasal dari sumber-sumber yang berbeda.
  3. penelitian fenomenologis hanya dapat dipahami dari segi filosofis atau sikap metodologis jika dihubungkan dengan proses reduksi terhadap subjek yang diteliti.
  4. penelitian fenomenologis lebih menguntungkan karena kita lebih leluasa melakukan eksplorasi atas metode empiris dan metode rekflektif.
  5. penelitian fenomenologis tidak dapat dipisahkan dari praktik penulisan dan
  6. penelitian fenomenologis membantu kita untuk dapat mempelajarikonsekuensi praktis sebuah penelitian bagi kehidupan manusia (Byod, dalam Sobur 2013)

Keempat, fenomenologi sebagai metode penelitian. Jika fenomenologi dijadikan sebagai “metode penelitian”, maka dapat dipandang sebagai studi tentang fenomena, studi sifat dan makna. Penelitian ini terfokus pada cara bagaimana kita mempresepsi realitas yang tampak melalui pengalaman atau kesadaran.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *