Green Marketing Mix

Pengertian Green Marketing Mix

Green Marketing Mix

Marketing mix mendeskripsikan suatu kumpulan alat-alat yang dapat digunakan oleh manajemen untuk mempengaruhi penjualan.Formula tradisional dari marketing mix ini disebut sebagai 4P yakni product, price (harga), place (tempat), dan promotion (promotion).

1) Produk Hijau (GreenProduct)

Produk menurut Kotler (2007: 4) adalah setiap apa saja yang dapat ditawarkan di pasar untuk mendapatkan perhatian, permintaan, pemakaian atau konsumsi, yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan, yang meliputi benda fisik, jasa tempat, organisasi, dan gagasan. Menurut Winardi (1989:346) produk adalah sesuatu hal (baik yang disukai maupun yang tidak disukai) yang diterima orang pada suatu pertukaran; ia merupakan suatu kompleks sifat-sifat yang berwujud atau yang tidak berwujud dan di dalamnya termasuk manfaat fungsional , sosial, dan psikological. Dalam perspektif pemasaran (Widiana dan Sinaga, 2010:37) definisi produk adalah segala sesuat yang bisa ditawarkan ke pasar dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen, kepuasan konsumen tidak hanya mengacu pada bentuk fisik produk, melainkan satu paket kepuasan yang didapat dari pembelian produk, kepuasan tersebut merupakan akumulasi kepuasan fisik, psikis, simbolis, dan pelayanan yang diberikan oleh produsen.

Produk merupakan hasil interaksi barang, modal, mesin, tenaga kerja, dan lain sebagainya, hasilnya yaitu berbentuk produk atau jasa.Produk yang dihasilkan harus dapat memuaskan keinginan konsumen.Dalam pengelolaan produk termasuk pula perencanaan dan pengembangan produk atau jasa yang baik untuk dipasarkan oleh perusahaan.

Produk yang beredar dipasaran saat ini sangat beragam.Produk tersebut dapat berupa barang fisik, jasa ataupun bauran antara keduanya.Produk jasa merupakan atribut pemasaran yang sangat penting. Ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam penetapan produk yang akan ditawarkan agar produk tersebut dapat diserap oleh pasar. Dalam merencanakan penawaran suatu produk, tenaga pemasaran perlu memahami 5 (lima) tingkatan produk sebagai berikut:

  1. Produk utama, yaitu produk yangnsebenarnya dibutuhkan oleh konsumen
  2. Produk generik, yaitu produk dasar yang mampu memenuhi fungsi/manfaaat produk yag sebenarnya.
  3. Produk harapan, yaitu produk formal yang ditawarkan dengan berbagai atribut dan kondisinya secara layak diharapkan dan disepakati untuk dibeli.
  4. Produk pelengkap, yaitu berbagai produk dilengkapi atau ditambah berbagai manfaat dan layanan, sehingga dapat memberikan kepuasan dan bisa dibedakan dengan produk pesaing.
  5. Produk potensial, yaitu segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin dikembangkan untuk suatu produk di masa yang akan datang.

Menurut John Elkington, Julia Hailes, dan John Makower dalam buku “the green consumer” terdapat kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu produk ramah atau tidak terhadap lingkungan, yaitu:

  1. Tingkat bahaya produk bagi kesehatan manusia atau binatang.
  2. Seberapa jauh produk dapat menyebabkan kerusakan lingkungan selama di pabrik, digunakan atau dibuang.
  3. Tingkat penggunaan energi dan sumber daya yang tidak proporsional selama di pabrik, digunakan atau dibuang.
  4. Seberapa banyak produk menyebabkan limbah yang tidak berguna ketika kemasannya berlebihan atau untuk suatu penggunaan yang singkat.
  5. Seberapa jauh produk melibatkan penggunaan yang tidak ada gunanya atau kejam terhadap binatang.
  6. Pengunaan material yang berasal dari spesies atau lingkungan yang terancam.

Kasali (2005: 35) mendefiniskan produk hijau (Green product) adalah produk yang tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungannya, tidak boros sumber daya, tidak menghasilkan sampah berlebihan, dan tidak melibatkan kekejaman pada binatang. Suatu produk yang dirancang dan diproses dengan suatu cara untuk mengurangi efek-efek yang dapat mencemari lingkungan, baik dalam produksi, pendistribusian dan pengkonsumsiannya.

2) Harga Hijau (Green Price)

Menurut Widiana dan Sinaga (2010:59), harga adalah nilai dari produk atau jasa yang diharapkan bersama pelayanannya yang harus dikeluarkan atau dibayar oleh konsumen untuk mendapatkan sejumlah produk.Harga merupakan komponen yang berpengaruh langsung terhadap laba perusahaan karena tingkat harga yang ditetapkan mempengaruhi kuantitas produk yang terjual.Selain itu secara tidak langsung harga juga mempengaruhi biaya karena kuantitas yang terjual berpengaruh pada biaya yang ditimbulkan dalam kaitannya dengan efisiensi produksi.Definisi harga menurut Stanton dalam Swasta dan Irawan (2005:241) harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.

Berdasarkan definisi tersebut dapat diketahui harga merupakan nilai dari suatu barang atau jasa yang dinyatakan dalam nominal uang.Harga ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar-menawar hingga memperoleh kesepakatan yang yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sasaran-saran dalam penetapan harga (Widiana dan Sinaga, 2010:59) adalah sebagai berikut:

  1. Mempertahankan pasar
  2. Memaksimumkan pendapata
  3. Memaksimumkan keuntungan atau laba
  4. Pertumbuhan penjualan yang maksimum
  5. Penetapan harga pelucuran pasar
  6. Kepimimpinan mutu produk

Harga sebuah produk hijau memiliki perbedaan dengan produk konvensional, harga produk hijau sesuai dengan mutu produk yang dihasilkan, produk hijau biasanya lebih mahal dibandingkan produk konvensional, Hal ini dikarenakan adanya biaya tambahan dalam memodifikasi proses produksi, pengemasan yang menggunakan teknologi yang tinggi dan juga proses pembuangan limbah. Tetapi ada juga produk hijau dengan harga yang rendah karena bahan baku yang digunakan berasal dari bahan yang didaur ulang atau bahan yang tidak merusak lingkungan.

3) Promosi Hijau (GreenPromotion)

Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasikan suatu program pemasaran, betapapun berkualitasnya suatu produk, bila konsumen belum pernah mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk itu akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan membelinya (Widiana dan Sinaga, 2010:85). Promosi adalah salah satu bagian dari bauran pemasaran (marketing mix) yang besar peranannya.Promosi merupakan suatu ungkapan dalam arti luas tentang kegiatan-kegiatan yang secara aktif dilakukan oleh perusahaan (penjual) untuk mendorong konsumen membeli produk yang ditawarkan.Menurut Tjiptono (2002: 219) definisi promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran.Yang dimaksud komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebar informasi, mempengaruhi atau membujuk dan/atau mengingatkan pasar sasaran dari produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Menurut Winardi (1989:426), promosi berusaha untuk mempengaruhi perilaku pihak yang menerimanya dan untuk membujuk mereka untuk menerima konsep konsep, servis-servis, atau barang tertentu Promosi mempunyai kegiatan yaitu memperkenalkan produk dan jasa kepada konsumen sehingga konsumen menjadi kenal dan mengetahui produk tersebut.Promosi digunakan sebagai alat perusahaan untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen dan diharapkan konsumen terpengaruh dan mau membeli, terlebih lagi jika konsumen puas terhadap prosuk yang dipromosikan tersebut.Promosi juga digunakan untuk menjalin komunikasi antara perusahaan dengan konsumen agar terjalin hubungan yang lebih baik. Definisi promosi menurut Swastha (2000: 349) adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan sesorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran. Sedangkan menurut Tjiptono (2002: 222) promosi merupakan upaya untuk mengarahkan seseorang agar dapat mengenal produk perusahaan, lalu memahaminya, berubah sikap, menyukai, yakin, kemudian akhirnya membeli, dan selalu ingat akan produk tersebut. Menurut Philip Kotler (1988:242), bauran promosi terdiri dari empat alat utama yaitu:

  1. Iklan, Semua bentuk penyajian non personal, promosi ide-ide, promosi barang produk atau jasa yang dilakukan oleh sponsor tertentu yang dibayar.
  2. Promosi penjualan, insentif jangka pendek untuk merangsang pembelian atau penjualan suatu produk atau jasa
  3. Publisitas, suatu stimulasi non-personal terhadap permintaan suatu produk, jasa atau unit dagang dengan menyebarkan berita-berita komersial yang penting mengenai kebutuhan akan produk tertentu di suatu media yang disebar-sebarkan atau menghasilkan suatu sosok kehadiran yang menarik mengenai produk itu di radio, televise, atau panggung yang tidak dibayar oleh pihak sponsor.
  4. Penjualan pribadi, penyajian lisan dalam suatu pembicaraan dengan satu atau beberapa pembeli potensial dengan tujuan untuk melakukan penjualan.

Seiring dengan berkembangnya gerakan hjau di seluruh dunia, sebagian besar organisasi memilih memilih menggunakan iklan dengan tema lingkungan yang disebarluaskan melalui media eletronik atau media cetak.Iklan dengan tema lingkungan disebut juga iklan hijau, tujuan iklan hijau adalah mempengaruhi perilaku pembelin konsumen yang tidak berbahaya bagi lingkungan dan mengalihkan perhatian konsumen pada konsekuensi positif dari perilaku pembelian diri konsumen itu sendiri dan lingkungannya.

Menurut Davis (Setiyaningrum et all, 2015 : 318), iklan dengan tema lingkungan yang digunakan oleh perusahaan memiliki tiga elemen utama, yaitu iklan yang menggambarkan kepedulian perusahaan pada lingkungan, iklan yang menggambarkan cara perusahaan mengubah prosedur operasioalnya untuk menunjukkan kepedulian dan dedikasinya dalam memperbaiki lingkungan, dan iklan yang menggambarkan tindakan perusahaan yang terlibat terhadap lingkungan tertentu. Dalam Widiana dan Sinaga (2010:87), Tujuan dari promosi berkaitan dengan tahap-tahap dalam proses pembelian adalah:

  1. Menyadari (awareness) produk yang ditawarkan
  2. Menyukai (interest) dan berusaha mengetahui lebih lanjut.
  3. Mencoba (trial) untuk membandingkan dengan harapannya
  4. Mengambil tindakan (act) membeli atau tidak membeli.
  5. Tindak lanjut (follow-up) membeli kembali atau pindah merek.

4) Distribusi atau Tempat (Place)

Sebagian besar produsen bekerjasama dengan para perantara untuk dapat melempar produk mereka agar sampai ke pasaran guna menciptakan kegunaan bagi para pelanggan, salah satunya adalah distribusi.

Menurut Fandi Tjiptono (Widiana dan Sinaga, 2010:111) adalah kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen sampai kepada konsumen, sehingga penggunaanya sesuai dengan yang diperlukan (jenis, jumlah, harga, tempat, dan saat dibutuhkan).Definis saluran distribusi menurut Warren J. Keegan adalah sistem yang menghubungkan manufaktur ke pelanggan.Sedangkan Definisi saluran distribusi menurut Philip Kotler adalah sekelompok perusahaan da perorangan yang memiliki hak pemilikan atas produk, atau membantu memindahkan hak pemilikan produk atau jasa ketika dipindahkan dari produsen ke konsumen.

Distribusi merupakan kegiatan pemasaran yang berfungsi untuk memperlancar arus penyampaian produk dari produsen ke konsumen. Tugas distribusi adalah memilih perantara yang akan digunakan dalam saluran distribusi serta mengembangkan sistem distribusi yang secara fisik menangani dan mengangkut produk melalui saluran tersbeut. Menurut Kotler (2007:129) saluran distribusi terdiri dari:

  1. Saluran nol tingkat, saluran ini terdiri dari produsen yang menjual langsung produknya ke konsumen.
  2. Saluran satu tingkat, saluran ini terdiri dari produsen, perantara, dan konsumen
  3. Saluran dua tingkat, saluran ini terdiri dari dua perantara yaitu: produsen, pengecer, agen, dan konsumen.
  4. Saluran tiga tingkat, saluran ini terdiri dari tiga perantara yaitu: produsen, grosir, pemborong, pengecer, dan konsumen.

Adapun definisi dari saluran distribusi menurut Swastha (2000:190) Saluran distribusi adalah saluran yang digunakan oleh perusahaan atau produsen untuk menyalurkan barang-barangnya kepada konsumen. Dalam green place sistem dan peritel yang dipilih dan diberikan insentif sebagai perantara yang “hijau”, serta menggunakan gerai ritel yang menawarkan suasana toko yang ramah lingkungan dan relaks untuk melayani konsumen melalui tata ruang yang inovatif, penjualan yang tidak agresif, serta pelatihan bagi karyawan untuk selalu ramah dan melayani pelanggan dengan sepenuh hati (Setiyaningrum et all, 2015: 326, 332).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *