Perspektif Country of Origin Dalam Pemasaran

Perspektif Country of Origin Dalam Pemasaran

Di beberapa segmen pasar, produk asing mempunyai keunggulan yang cukup besar dibandingkan produk domestik hanya karena produk tersebut buatan luar negeri (Keegan, 2008:91). Seperti pada penelitian di Amerika Serikat mengenai produk bir. Saat dilakukan blind test untuk merasakan bir domestik dan impor, subjek lebih menyukai bir domestik. Namun ketika dilakukan test terbuka, subjek lebih memilih bir impor. Sehingga dapat disimpulkan bahwa produk luar negeri mempunyai pengaruh positif terhadap persepsi tentang mutu.

Konsumen di Indonesia juga menjadikan negara asal sebagai salah satu evaluasi dalam memilih produk. Konsumen Indonesia dikenal sebagai konsumen yang menyukai produk impor (Sangadji dan Sopiah, 2013:132). Mereka menganggap produk impor sebagai produk yang lebih berkualitas dibanding produk lokal. Produk yang berasal dari negara-negara maju seperti Amerika dan Jepang sangat digemari oleh konsumen Indonesia.

Selain itu, masyarakat masih memiliki pandangan terhadap gengsi atau prestige. Masyarakat percaya bahwa jika menggunakan produk asing, mereka dianggap memiliki kemampuan ekonomi yang tinggi. Dalam salah satu studi, konsumen Cina di Hong Kong menganggap produk AS sebagai produk yang bergengsi dan produk Cina sebagai produk yang murah (Kotler dan Keller, 2009:339). Oleh karena itu, konsumen di Cina lebih memilih produk AS yang lebih bergengsi daripada produk dari negaranya sendiri.

Selain dari negara, citra perusahaan dan gengsi atau prestige, jenis produk juga dapat memengaruhi apakah negara asal akan memicu reaksi positif atau negatif terhadap produk tersebut. Konsumen cenderung memiliki stereotip tentang produk dan negara yang telah terbentuk dari pengalaman, rumor, dan mitos (Cateora dan Graham, 2007:71). Sebagai contoh, konsumen biasanya memiliki stereotip yang luas namun kurang jelas mengenai negara dan kategori produk tertentu yang dinilai sebagai yang terbaik.

Negara juga bisa distereotipkan berdasarkan industrialisasinya (Cateora dan Graham, 2007:72). Stereotip ini lebih kepada persepsi atas kualitas produk yang diproduksi negara tersebut. Negara-negara industri memiliki citra kualitas tinggi dibandingkan produk dari negara berkembang. Di Rusia contohnya, produsen elektronik dari Korea Selatan sulit meyakinkan orang Rusia bahwa produk mereka sama baiknya dengan produk Jepang. Hal ini dikarenakan, negara Jepang awalnya sudah terkenal dengan industri elektroniknya yang berkualitas tinggi, sehingga orang Rusia masih mencurigai produk Korea Selatan.

Menurut Hsieh et al. (Setianingsih, 2016:17 18) pada dasarnya, citra negara dalam perspektif pemasaran dapat didefinisikan pada tiga tingkat, yaitu :

  1. Overall country image (citra negara keseluruhan) Merupakan keseluruhan kepercayaan, ide dan kesan dari suatu negara tertentu sebagai hasil evaluasi konsumen atas persepsinya tentang kelebihan dan kelemahan negara tersebut.
  2. Aggregate product country image (citra negara asal produk keseluruhan) Merupakan keseluruhan perasaan kognitif yang diasosiasikan dengan produk dari negara tertentu atau kesan terhadap keseluruhan kualitas produk yang berasal dari suatu negara tertentu.
  3. Specific product country image (citra negara asal dilihat pada kategori produk tertentu) Merupakan keseluruhan perasaan kognitif yang diasosiasikan dengan spesifikasi produk dari negara tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *