Instrumen Moneter dan Indikator Ekonomi Makro Indonesia

Instrumen Moneter dan Indikator Ekonomi Makro Indonesia

Bank sentral memiliki fungsi dan peranan  yang strategis dalam mendukung perkembangan pasar keuangan dan perekonomian suatu negara. Hal ini antara lain karena kebijakan yang diterapkan oleh bank sentral dapat mempengaruhi suku bunga, jumlah kredit dan jumlah uang beredar yang pada gilirannya akan mempengaruhi tidak hanya perkembangan pasar keuangan, tetapi juga pertumbuhan ekonomi, inflasi dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Kebijakan yang diterapkan oleh bank sentral tersebut dikenal sebagai kebijakan moneter. Walaupun dampak dari pelaksanaan kebijakan moneter tersebut dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung, terlihat dari pemahaman masyarakat akan hakekat atas keberadaan kebijakan moneter itu sendiri.

Kebijakan moneter merupakan kebijakan otoritas moneter atau bank sentral dalam bentuk pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan. Dalam pelaksanaannya, strategi kebijakan moneter dilaksanakan berbeda dari satu negara dengan negara lain, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan mekanisme transmisi yang diyakini berlaku pada perekonomian yang bersangkutan. Berdasarkan strategi dan transmisi yang dipilih, maka dirumuskan kerangka operasional kebijakan moneter.

Kebijakan moneter adalah suatu tindakan yang dilakukan pemerintah (atau bank sentral) dalam upaya mempengaruhi situasi makro yang dilaksanakan melalui pasar uang. Kebijakan moneter juga bisa diartikan sebagai suatu tindakan makro pemerintah (bank sentral) dengan cara mempengaruhi proses penciptaan uang (Boediono, 1993). Kebijakan moneter merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi, walaupun banyak faktor lain juga dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi. Akan tetapi kebijakan moneter merupakan faktor yang dapat dikontrol pemerintah dalam upaya mencapai sasaran ekonomi (Nopirin, 2000).

Struktur formal dari bank sentral pada berbagai negara menganut suatu sistem tertentu. Pembentukan struktur formal bank sentral bertujuan untuk mengatur disribusi kekuasaan dalam penentuan kebijakan moneter. Pada umumnya bank sentral berfungsi sebagai check clearing, penerbitan uang baru, menarik mata uangnya yang berbahaya dari peredaran, evaluasi usul merger dan ekspansi aktifitas bank komersial, administrasi dan memberikan pinjaman pada bank komersial, penghubung antara masyarakat bisnis dengan bank sentral, memeriksa pemilik perusahaan bank, mengumpulkan data kondisi bisnis lokal, menggunakan staf ekonom profesional untuk meneliti topik yang berhubungan dengan pembentukan kebijakan moneter (Manurung, 2009).

Kebijakan moneter sebagai salah satu kebijakan ekonomi yang berperan penting dalam perekonomian. Peranan tersebut tercermin pada kemampuannnya dalam mempengaruhi stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, perluasan kerja, neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Kebijakan moneter merupakan kebijakan otoritas moneter atau bank sentral dalam bentuk pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan. Dalam hal ini, besaran moneter (monetary aggregate) antara lain dapat berupa uang beredar, uang primer atau kredit perbankan (Sutardjo, 2005)

Lebih lanjut Boyes (1991) mengemukakan, bahwa kebijakan moneter yang diterapkan pada satu rentang waktu dan kondisi tertentu (ultimate goals) dari kebijakan makro yang meliputi: (a) Tingkat kesempatan kerja yang tinggi; (b) Laju inflasi yang rendah dan stabil; (c) Keseimbangan balance of payment; dan (d) Tingkat pertmbuhan ekonomi yang mantap.

Kebijakan moneter itu merupakan bagian integral dari kebijakan ekonomi makro, yang pada umumnya dilakukan dengan mempertimbangkan siklus kegiatan ekonomi, sifat perekonomian suatu negara tertutup atau terbuka, serta faktor-faktor fundamental ekonomi lainnya. Dalam pelaksanaannya, strategi kebijakan moneter dilakukan berbeda-beda dari suatu negara dengan negara lain, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan mekanisme transmisi yang diyakini berlaku pada perekonomian yang bersangkutan. Berdasarkan strategi dan transmisi yang dipilih, maka dirumuskan kerangka opersional kebijakan moneter.

Sasaran utama dari kebijakan moneter, hanya bisa dilihat pencapaiannya dalam perspektif jangka panjang. Artinya, bahwa segala sesuatunya dipersiapkan sekarang untuk mencapai sasaran utama dimasa yang akan datang. Sementara itu keterkaitan antara instrumen kebijakan dan sasaran utama melalui jalur-jalur transmisi yang dikenal dengan mekanisme transmisi kebijakan moneter. Sasaran utama sebagaimana disebutkan terakhir terletak pada posisi yang paling akhir dari sekian tahapan mekanisme transmisi kebijakan moneter yang diarahkan pada upaya untuk memenuhinya. Sasaran utama kebijakan meneter bisa diartikan sebagai variabel dimana otoritas moneter tidak bisa mempengaruhi secara langsung (Romer, 1996).

Penerapan kebijakan moneter tidak dapat dilakukan secara terpisah dengan penerapan kebijakan ekonomi makro lainnya, sepeti kebijakan fiskal, kebijakan sektor riil, dan lain-lain. Hal ini terutama mengingat keterkaitan antara kebijakan moneter dan bagian kebijakan ekonomi makro lain yang sangat erat. Selain itu, pengaruh kebijakan-kebijakan yang diterapkan secara bersama-sama mungkin mempunyai arah yang bertentangan sehingga saling memperlemah. Misalnya, dalam perekonomian yang mengalami tekanan inflasi, bank sentral melakukan pengetatan moneter. Pada saat yang bersamaan, pemerintah melakukan ekspansi disektor fiskal dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ketidakharmonisan kedua kebijakan tersebut dapat mengakibatkan tujuan menekan inflasi tidak tercapai. Sementara itu, kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang terlalu ekspansif akibat tidak adanya koordinasi dapat mendorong pemanasan kegiatan perekonomian. Dengan demikian, untuk mencapai tujuan kebijakan ekonomi makro secara optimal, biasanya diterapkan policy mix ”bauran kebijakan” yang terkoordinasi antara satu kebijakan dengan kebijakan-kebijakan lain (Warjiyo dan Solikin, 2003).

Tujuan kebijakan secara umum adalah pencapaian stabilitas ekonomi makro, apakah itu kebijakan moneter maupun kebijakan ekonomi makro. Stabilitas ekonomi makro antara lain, stabilitas harga (rendahnya laju inflasi), pertumbuhan ekonomi, serta tersedianya lapangan/kesempatan kerja. Pencapaian seluruh sasaran secara serentak adalah hal yang mustahil, karena pencapaian seluruh sasaran bersifat kontradiktif. Jadi jika ingin mencapai suatu sasaran, maka sasaran lain harus dikorbankan. Misalnya jika pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pengangguran adalah tujuannya, maka usaha ini biasanya diikuti oleh peningkatan harga sehingga pencapaian stabilitas ekonomi makro tidak optimal.

Hal ini wajar terjadi, sehingga nantinya bank sentral akan dihadapkan dua pilihan. Plihan pertama adalah memilih salah satu sasaran untuk dicapai optimal dengan mengabaikan sasaran lainnya, misalnya memilih tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan mengabaikan tingkat inflasi. Pilihan kedua adalah semua sasaran diusahakan untuk dapat dicapai, tetapi tidak ada satupun dicapai secara optimal; misalnya, menginginkan pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu tinggi demi terpeliharanya tingkat inflasi sesuai dengan yang ditetapkan. Menyadari kelemahan tersebut, dewasa ini beberapa negara secara bertahap telah bergeser menerapkan kebijakan moneter yang lebih memfokuskan pada sasaran tunggal, yaitu stabilitas harga.

Instrumen kebijakan ekonomi moneter dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi makro secara tidak langsung. Berhasil atau tidaknya instrumen kebijakan moneter bekerja dapat diukur dari indikator ekonomi makro. Ketika terjadi pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil dalam jangka panjang, berarti instrumen kebijakan ekonomi moneter telah berhasil. Proses operasional pengendalian moneter diawali dengan penyusunan monetary programming ”program moneter”.

Program moneter pada dasarnya merupakan suatu perencanaan kebijakan pengendalian jumlah uang beredar yang ditujukan untuk mencapai sasaran akhir kebijakan moneter. Program moneter ini mencakup penentuan sasaran operasional kebijakan moneter. Selanjutnya Bank Indonesia menerapkan langkah-langkah yang harus dilakukan serta menetapkan instrumen yang akan dipergunakan untuk mempengaruhi sasaran operasional tersebut. Ada tiga instrumen utama dalam kebijakan moneter, yaitu :

a. Operasi pasar terbuka (open market operations), membeli atau menjual obligasi pemerintah.Kebijakan tingkat diskonto (penetapan tingkat bunga) dimana bank-bank anggota dapat memperoleh pinjaman cadangan dari bank sentral.

b. Kebijakan cadangan wajib (reserve requairements policy), perubahan rasio cadangan wajib resmi untuk deposito bank dan lembaga keuangan lainnya.

Dalam mengelola uang, pihak FED harus benar-benar memperhatikan seperangkat variabel yang disebut sasaran antara (intermediate targets). Sasaran antara ini adalah variabel-variabel ekonomi yang tidak merupakan instrumen kebijakan bank sentral dan tidak pula sebagai tujuan yang sebenarnya, akan tetapi hanya berfungsi sebagai perantara dalam mekanisme transmisi antara instrumen bank sentral dan tujuannya. Kalau bank sentral ingin mempengaruhi tujuan utamanya, maka pertama-tama bank sentral akan mengubah satu dari instrumen yang tersedia. Perubahan ini akan mempengaruhi salah satu variabel antara seperti tingkat bunga, syarat-syarat kredit, atau jumlah uang beredar (Samuelson dan Nordhaus, 1997).

Dalam pelaksanaannya, hingga saat ini Bank Indonesia masih menggunakan uang primer sebagai sasaran operasional. Instrumen moneter yang digunakan untuk mempengaruhi sasaran operasional tersebut adalah Operasi Pasar Terbuka (OPT), Fasilitas Diskonto, Giro Wajib Minimum (GWM), ataupun imbauan. (Warjiyo dan Solikin, 2003).

Instrumen OPT dilakukan melalui lelang surat-surat berharga, yang ditujukan untuk menambah atau mengurangi likuiditas di pasar uang. Operasi Pasar Terbuka (OPT) adalah pembelian dan penjualan obligasi pemerintah oleh bank sentral. Ketika bank sentral membeli obligasi dari publik, jumlah uang yang dibayarkan untuk obligasi itu akan meningkatkan basis moneter sekaligus meningkatkan jumlah uang beredar. Ketika bank sentral menjual obligasi kepada publik, jumlah uang yang diterima menurunkan basis moneter dan dengan demikian menurunkan jumlah uang yang beredar. Operasi pasar terbuka adalah instrumen yang paling sering digunakan oleh bank sentral AS. Dalam kenyataannya, bank sentral AS melakukan operasi pasar terbuka (OPT) di pasar obligasi New York hampir setiap pekan .

Sementara itu fasilitas diskonto adalah fasilitas kredit yang diberikan kepada bank-bank dengan tingkat diskonto yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Bank meminjam kepada bank sentral ketika cadangan mereka terlalu sedikit untuk memenuhi persyaratan cadangan. Semakin kecil tingkat diskonto, semakin murah cadangan yang dipinjamkan , dan semakin banyak bank yang meminjam dengan fasilitas discount window bank sentral. Jadi, penurunan tingkat diskonto meningkatkan basis moneter dan jumlah uang beredar. (Mankiw, 2007)

Giro Wajib Minimum (reserve requirements) adalah peraturan bank sentral yang menuntut bank-bank untuk memiliki rasio deposito-cadangan minimum. Kenaikan dalam persyaratan cadangan akan meningkatkan rasio deposito-cadangan dan menurunkan pengganda uang serta jumlah uang beredar.

Perubahan-perubahan dalam persyaratan cadangan paling jarang digunakan dari ketiga instrumen kebijakan bank sentral AS. (Mankiw, 2007). GWM juga merupakan merupakan jumlah alat likuid minimum yang wajib dipelihara oleh bank di bank Indonesia. Selanjutnya imbauan digunakan oleh Bank Indonesia dengan tujuan agar semua bank-bank dapat mengikuti langkah kebijakan moneter yang diinginkan bank Indonesia.

Keseluruhan indikator kebijakan moneter ini secara langsung akan mempengaruhi sasaran berikutnya, yaitu sasaran antara. Sasaran antara bukan merupakan tujuan akhir dari kebijakan moneter, tetapi hanya merupakan intermediate target. Yang menjadi sasaran antaranya adalah jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga Bank Indonesia (SBI).

Jumlah uang beredar terdiri dari dua komponen, yaitu komponen M1 dan M2. M1 terdiri dari aset-aset yang dapat digunakan secara langsung, instan dan tanpa hambatan dalam melakukan pembayaran. Aset ini bersifat likuid. Aset dikatakan likuid jika dapat dengan cepat, mudah dan murah digunakan dalam melakukan pembayaran. M1 berhubungan dengan kebanyakan defenisi tradisional mengenai uang sebagai alat pembayaran. Sementara M2 memasukkan aset yang tidak likuid secara instan. Jika bank sentral ingin mengubah sasaran akhir, maka yang harus dilakukan adalah mengubah instrumen kebijakan moneter yang tersedia.

Dalam menetapkan kebijakan moneter, Bank Sentral secara langsung menggunakan instrumen atau variabel yang ada dalam kendalinya, yaitu operasi pasar terbuka, tingkat diskonto dan cadangan bank yang diperlukan. Variabel-variabel ini membantu dalam masalah penentuan besarnya cadangan bank, uang yang beredar dan suku bunga-yaitu sasaran antara dalam kebijakan moneter. Pada akhirnya, Bank sentral merupakan partner dengan kebijakan fiskal dalam menuju tujuan akhir pada pertumbuhan GNP yang cepat, tingkat pengangguran rendah serta harga stabil. Akan tetapi biasanya Bank sentral memusatkan perhatiannya pada sasaran antara yaitu menetapkan tujuan pertumbuhan uang atau tingkat suku bunga (Samuelson dan Nordhaus, 1997).

Loading...
Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *