Pengertian, Tujuan Dan Jenis-Jenis Corporate Social Responsibility (CSR)

Pengertian, Tujuan Dan Jenis-Jenis Corporate Social Responsibility (CSR)

Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)

Perusahaan merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat moderen, karena perusahaan merupakan salah satu pusat kegiatan manusiaguna memenuhi kehidupannya.

Selain itu, perusahaan juga sebagai salah satu sumber pendapatan negara melalui pajak dan wadah tenaga kerja. Menurut Mulyati, (2007 :30) “perusahaan merupakan lembaga yang secara sadar didirikan untuk melakukan kegiatan yang terus-menerus untuk mendaya gunakan sumber daya alam dan sumber daya manusia sehingga menjadi barang dan jasa yang bermanfaat secara ekomonis.”

Menurut Hartono, (2007:15) “aktifitas menjalankan perusahaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dalam pengertian yang tidak terputus-putus, kegiatan tersebut dilakukan secara terang-terangan dalam pengertian sah/legal, dan dalam rangka untuk memperoleh keuntungan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.”

Selanjutnya Hadi (2011 : 47-48), mengatakan bahwa tanggungjawab sosial perusahaan adalah :

“The World Business Council forSustainable Development (WBCSD) business to behave ethically and contributed to economic development while improving the quality of life of the workforce andtheir families as well as of the local community and society at large. Definisi tersebut menunjukkan tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) merupakan suatu bentuk tindakan yang berangkat dari pertimbangan etis perusahaan yang diarahkan untuk meningkatkan ekonomi, yang disertai dengan peningkatan kualitas hidup bagi karyawan berikut keluarganya, peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar dan masyarakat secara lebih luas.”

Perusahaan melaksanakan kewajibannya didasarkan atas keputusan untuk mengambil kebijakan dan tindakan dengan memperhatikan para aktivitas stakeholder yang berlandaskan pada ketentuan hukum yang berlaku (Wahyudi & Azheri, 2008:36).

Dari definisi CSR di atas, dapat disimpulkan bahwa CSR merupakan bentuk pertanggungjawaban sosial perusahaan atas dampak positif maupun negatif yang dapat ditimbulkan dari aktivitas operasional maupun mementingkan keuntungan dalam menjalankan bisnisnya, tetapi juga berhubungan baik dengan stakeholder agar perusahaan dapat menjaga kelangsungan hidupnya dikarenakan perusahaan/persero anentitas yang hanya beroperasiuntuk kepentingannya sendiri namun juga mempunyai tanggungjawab sosial dan lingkungan dalam arti perusahaan harus memberikan manfaat bagi komunitas setempat dan lingkungan stakeholdernya.

Pengerian CSR dalam Pasal 1 angka 3 Undang-undang nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) menegaskan bahwa “tanggungjawab sosial dan lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.”

Menurut Tunggal (2008 : 23) mengemukakan bahwa “CSR adalah komitmen dari bisnis/perusahaan untuk berprilaku etis, dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas local dan masyarakat luas”.

Berdasarkan rumusan dari berbagai lembaga formal tersebut, saat ini CSR adalah sebuah konsep yang berkembang dengan cepat, sehingga definisinya pun juga bias (berubah-ubah) menyesuaikan dengan perkembangannya. Namun demikian konsep ini menawarkan sebuah kesamaan, yaitu keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis dan perhatian terhadap aspek sosialserta lingkungan.

Corporate Social Responsibility akan lebih berdampak positif bagi masyarakat, ini akan sangat tergantung dari orientasi dan kapasitas lembaga dan organisasi lain, terutama pemerintah. Peran pemerintah yang terkait dengan Corporate Social Responsibility meliputi pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan sumber daya, dukungan politik bagi pelaku Corporate Social Responsibility, menciptakan insentif dan peningkatan kemampuan organisasi. Untuk Indonesia, bisa dibayangkan, pelaksanaan Corporate Social Responsibility membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban sosial.Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus melakukan regulasi di tengah situasi hukum dan politik saat ini. Di tengah persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai koordinator penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social Responsibility).

Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus, dengan masukan bagi pihak kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini. Pemerintah juga dapat  mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan kelompok-kelompok lain agar terjadi proses interaksi yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman satu pihak terhadap yang lain.

Tujuan Corporate Social Responsibility (CSR)

Dalam bisnis apapun yang diaharapkan adalah keberkelanjutan dan kestabilan usaha, karena keberkelanjutan akan mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan. Setidaknya terdapat tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha harus merespon CSR agar sejalan dengan jaminan keberkelanjutan operasional perusahaan, sebagaimana dikemukakan Wibisono (2007), yaitu:

  1. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenaya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. Perusahaan mesti menyadari bahwa mereka beroperasi dalam satu tekanan lingkungan masyarakat. Kegiatan sosial ini berfungsi sebagai kompensasi atau upaya imbal balik atas penguasaan sumber daya alam atau sumber daya ekonomi oleh perusahaan yang kadang bersifat ekspansif dan eksploratif, disamping sebagai kompensasi sosial karena timbul ketidaknyamanan (discomfort) pada masyarakat.
  2. Kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Wajar bila perusahaan dituntut untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, sehingga bias tercipta harmonisasi hubungan bahkan pendongkrakan citra dan performa perusahaan.
  3. Kegiatan CSR merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindarkan konflik sosial.

Potensi konflik itu bias berasal akibat dari dampak operasional perusahaan atau akibat kesenjangan struktural dan ekonomis yang timbul antara masyarakat dengan komponen perusahaan.

Jenis-Jenis Program Corporate Social Responsibility

CSR merupakan tanggungjawab perusahaan yang tidak memiliki nilai ekonomis secara langsung tetapi memiliki pengaruh yang besar bagi going concern dan eksistensi perusahaan.

Umpan balik yang didapat dari kegiatan CSR ini tidak langsung dapat dinikmati begitu kegiatan ini dilaksanakan. Tetapi memiliki efek jangka panjang yang sangat penting bagi keberadaan perusahaan, seperti misalnya dukungan dari masyarakat tempat kegiatan usaha atau loyalitas pelanggan terhadap produk yang ditawarkan.

Kotler dan Lee (2005) dikutip Dwi (2007) menyebutkan bahwa enam kategori aktivitasCorporate Social Responsibility (CSR) yaitu:

  1. Promosi Kegiatan Sosial (Cause Promotions)
  2. Pemasaran Terkait Kegiatan Sosial (Cause Related Marketing)
  3. Pemasaran Kemasyarakatan Korporat (Corporate Societal Marketing) a. Isu-isu Kesehatan b. Isu-isu Perlindungan Terhadap Kecelakaan/Kerugian c. Isu-isu Lingkungan (environmental issues) d. Isu-isu Keterlibatan Masyarakat (community involvement issues)
  4. Kegiatan Filatropi Perusahaan (Corporate Philanthropy)
  5. Pekerja Sosial Kemasyarakatan Secara Sukarela (Community Volunteering)
  6. Praktik Bisnis yang Memiliki TanggungJawab Sosial (Socially Responsible Business Practice).

Lihat daftar pustaka di sini

Loading...
Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *