Pengertian Nilai dan Peranannya

Pengertian Nilai dan Peranannya

Nilai artinya sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Maksudnya kualitas yang memang membangkitkan respon penghargaan. Menurut Zakiah Daradjat, nilai adalah suatu perangkat keyakinan atau perasaan yang di yakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus pada pola pemikiran, perasaan, keterikatan, dan perilaku.(8)

Nilai berasal dari bahasa latin vale’re yang artinya berguna mampu akan berdaya, berlaku, sehingga nilai diartikan sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang. Nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu disukai, diinginkan, dikejar, berguna dan dapat membuat orang yang menghayatinya menjadi bermartabat. Nilai adalah sesuatu yang memberi makna pada hidup, yang memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup. Nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi, yang dapat mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang. Nilai itu lebih dari sekedar keyakinan, nilai menjiwai tindakan seseorang. Nilai itu lebih dari sekedar keyakinan, nilai selalu menyangkut pola pikir dan tindakan, sehingga ada hubungan yang amat erat antara nilai dan etika. Nilai merupakan preferensi yang tercermin dari perilaku seseorang. Sehingga seseorang akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu tergantung pada sistem nilai yang dipegangnya.

Nilai akan selalu berhubungan dengan kebaikan, kebaikan dan keluhuran budi serta akan menjadi sesuatu yang dihargai dan dijunjung tinggi serta dikejar oleh seseorang sehingga ia merasakan adanya suatu kepuasan, dan ia merasa menjadi manusia yang sebenarnya. Yang dimaksudkan dengan nilai adalah standar-standar perbuatan dan sikap yang menentukan siapa kita, bagaimana kita hidup, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Tentu saja, nilai nilai yang baik yang bisa menjadikan orang lebih baik, hidup lebih baik, dan memperlakukan orang lain secara lebih baik. Sedangkan yang dimaksudkan dengan moralitas adalah perilaku yang diyakini banyak orang sebagai benar dan sudah terbukti tidak menyusahkan orang lain, bahkan sebaliknya.”(9)

Nilai tidak selalu sama bagi seluruh warga masyarakat, karena dalam suatu masyarakat sering terdapat kelompok-kelompok yang berbeda secara sosio-ekonomis, politik, agama, etnis, budaya, dimana masing-masing kelompok yang sering memiliki sistem nilai yang berbeda-beda. Konflik dapat muncul antara pribadi, atau antar kelompok karena sistem nilai yang tidak sama berbenturan satu sama lain. Oleh karena itu, jika terjadi konflik, dialog merupakan salah satu solusi terbaik sebab dalam dialog terjadi usaha untuk saling mengerti, memahami dan menghargai sistem nilai kelompok lain, sehingga dapat memutuskan apakah orang harus menghormati dan bersikap toleran terhadapnya atau menerimanya atau mengintegrasikan dalam sistem nilainya sendiri.

Nilai sebagai sesuatu yang abstrak menurut Raths, mempunyai sejumlah indikator yang dapat kita cermati yaitu:

1. Nilai memberi tujuan atau arah kemana kehidupan harus maju, harus dikembangkan atau harus diarahkan
2. Nilai memberi aspirasi atau inspirasi kepada seseorang untuk hal yang berguna, yang baik yang positif bagi kehidupan
3. Nilai mengarahkan seseorang untuk bertingkah laku (Attitudes), atau bersikap sesuai dengan moralitas masyarakat, jadi nilai itu memberi acuan atau pedoman bagaimana seharusnya seseorang harus bertingkah laku
4. Nilai itu menarik, memikat hati seseorang untuk dipikirkan, untuk direnungkan, untuk dimiliki, untuk diperjuangkan dan untuk dihayati.(10)

Sehubungan dengan peranan nilai dalam kehidupan manusia, ahli pendidikan nilai dari Amerika Serikat, Raths, Harmin dan Simon mengatakan; “valu are general guides to behavior which tend to give direction to life.” Jadi, nilai itu merupakan panduan umum untuk membimbing tingkah laku dalam rangka mencapai tujuan seseorang.

Sehubungan dengan tahapan pelaksanaan nilai/moral dalam kehidupan manusia, pengetahuan nilai/moral, sikap nilai/moral dan tindakan nilai/moral sebagai berikut: pendidikan nilai/moral yang menghasilkan karakter, ada tiga komponen karakter yang baik yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral, dan moral action atau perbuatan moral. Ketiga komponen itu menunjuk pada tahapan pemahaman sampai pelaksanaan nilai/moral dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiganya tidak serta merta terjadi dalam diri seseorang, tetapi bersifat prosesual artinya tahapan ketiga hanya mungkin terjadi setelah tercapai tahapan kedua, dan tahapan kedua hanya tercapai setelah tahapan pertama. Dalam banyak kasus ketiga tahapan tidak terjadi secara utuh. Mungkin sekali ada orang hanya sampai moral knowing dan berhenti sebatas memahami. Orang lain sampai pada tahap moral feeling, dan yang lain mengalami perkembangan dari moral knowing sampai moral action. Moral knowing adalah hal yang penting untuk diajarkan.(11)

Tetapi pendidikan nilai/moral hanya sampai pada awal knowing tidaklah cukup, sebab sebatas pada tahu atau memahami nilai-nilai atau moral tanpa melaksanakannya hanya menghasilkan orang cerdas, tetapi tidak bermoral. Amat penting pendidikan dilanjutkan sampai pada moral feeling. Moral feeling adalah aspek yang lain yang harus ditanamkan kepada peserta didik yang merupakan sumber energi dari diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral. Terdapat enam hal yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia bermoral atau berkarakter, yakni nurani, percaya diri, merasakan penderitaan orang lain, mencintai kebenaran, mampu mengontrol diri, kerendahan hati. Namun, pendidikan nilai/moral atau karakter hanya sampai pada moral feeling saja tidaklah cukup, sebab sebatas ingin atau mau, tanpa disertai perbuatan nyata hanya menghasilkan manusia munafik.

Langkah teramat penting adalah adanya pendidikan nilai/moral atau karakter sampai pada moral action. Moral action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan tindakan moral ini merupakan hasil dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter, yaitu kompetensi, keinginan dan kebiasaan. Bahwa ada keterkaitan erat antara pemahaman moral atau nilai seseorang dengan perbuatan atau tindakan yang akan dilakukan tidaklah diragukan. Nilai menjadi acuan dalam menentukan sikap, dan sikap menjadi acuan dalam bertingkah laku.(12)

Lihat daftar pustaka di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!