Penglihatan Serangga

Penglihatan Serangga

Organ penglihatan utama pada serangga biasanya ada dua tipe, mata tunggal frontal dan mata majemuk yang berfaset. Mata tunggal mempunyai lensa kornea tunggal yaitu agak menonjol atau berbentuk kubah. Dibawah lensa-lensa kornea terdapat dua lapisan sel yaitu sel-sel korneagen dan sel-sel retina. Sel-sel korneagen menyekresi kornea dan bentuknya tembus pandang (bening). Bagian yang peka cahaya dari fotoreseptor-fotoreseptor serangga terbuat dari mikrovilli yang terkemas berdekatan pada satu sisi sel-sel retina yang disebut rabdom. Pada mata tunggal, rabdom ada di luar retina. Bagian-bagian dasar sel-sel retina seringkali berpigmen. Semua mata tunggal kelihatannya tidak membentuk bayangan-bayangan yang terpusat (cahaya difokuskan di bawah retina) dan rupa-rupanya sebagai organ-organ utama untuk membedakan intensitas cahaya (Borror dkk, 1996).

Reseptor-reseptor cahaya yang paling kompleks pada serangga adalah mata majemuk atau mata faset, yang terdiri dari banyak (sampai ribuan) satuan-satuan individual yang disebut ommatidia. Setiap ommatidia adalah sekolompok sel-sel yang memanjang yang tertutup di bagian luar oleh suatu lensa kornea segi enam. Lensa-lensa kornea biasanya cembung di bagian luar, membentuk faset-faset mata. Di bawah lensa kornea ini biasanya terdapat sebuah kerucut kristal dari empat sel-sel Semper dan dikelilingi oleh dua sel korneagen yang berpigmen. Di bawah kerucut kristal terdapat sekelopok sel-sel sensorik, biasanya jumlahnya delapan dan dikelilingi oleh satu pembungkus sel-sel epidermis yang berpigmen. Bagian-bagian yang beralur dari sel-sel sensorik itu membentuk suatu pusat atau rabdom sumbu di dalam ommatidium (Borror dkk, 1996).

Pada beberapa serangga yang terbang baik siang dan malam, seperti ngengat, bermigrasinya pigmen disekitar sebuah ommatidium agak seperti iris yang bekerja pada mata manusia. Pigmen bermigrasi ke dalam dalam cahaya terang dan bermigrasi ke luar dalam gelap. Jadi cahaya dari ommatidia yang berdekatan dapat juga mencapai rabdom. Frekuensi fusi kelip yang tidak sama gelombangnya pada serangga lebih lebih tinggi dari pada manusia. Laju yang lebih tinggi ini berarti bahwa serangga dapat memandang bentuk, walaupun ketika serangga dalam penerbangan yang cepat dan karena itu mereka sangat peka terhadap gerakan. Kisaran pandangan serangga berubah ke panjang gelombang yang lebih pendek dibandingkan dengan vertebrata. Banyak serangga tampak buta warna, tetapi beberapa dapat membedakan warna-warna termasuk ultraviolet. Beberapa jenis serangga memiliki satu daerah yang hanya menyalurkan cahaya merah jauh dan inframerah dekat. Penyaringan jalan pintas luar mata ini ternyata bekerja dalam hubungannya dengan mata majemuk, yang memungkinkan serangga menggunakan tanda atau isyarat penglihatan dalam penentukan tempat dan mengenal induk semangnya (Borror dkk, 1996).

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!