Penyakit Rabies

Penyakit Rabies

Rabies atau disebut juga dengan penyakit anjing gila merupakan penyakit yang disebabkan oleh gigitan hewan, seperti anjing dan kucing yang menularkan virus penyebab rabies. Rabies tergolong ke dalam penyakit serius karena menyerang otak dan sistem saraf yang dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan segera.

Penyebab Rabies

Rabies merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus lyssaviruses. Manusia yang mengalami rabies biasanya disebabkan oleh gigitan hewan yang sudah mengidap penyakit ini. Virus masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka gigitan hewan rabies. Selain gigitan, cakaran hewan rabies pun dapat juga menyebabkan penyakit ini, karena sebelum mencakar kemungkinan kuku-kuku hewan tersebut dijilatin.

Rabies ditularkan tidak hanya dari hewan saja, antar manusia pun bisa menularkan. Penularan tersebut dapat terjadi dengan memlalui transplantasi atau pencangkokan organ.

Di Indonesia, hewan yang dapat menularkan rabies, yaitu anjing, kucing dan kera. Hewan anjinglah yang memiliki persentase besar untuk menularkan rabies ke manusia, yaitu sekitar 98 persen, sedangkan kucing dan kera hanya 2 persen.

Gejala Rabies

Gejala rabies akan muncul setelah virus rabies melewati masa inkubasi di dalam tubuh manusia. Masa inkubasi yang dibutuhkan virus bervariasi mulai dari dua minggu sampai tiga bulan. Masa inkubasi adalah rentang waktu ketika virus pertama kali masuk ke dalam tubuh sampai menimbulkan gejala.

Seseorang yang tergigit hewan pengidap rabies, maka virus akan masuk melalui luka gigitan tersebut dan berkembang biak di dalam tubuh inang. Virus yang berkembang biak di dalam tubuh akan menyebar ke bagian organ dalam, seperti ujung saraf, saraf tulang belakang, saraf otak, paru-paru, kelenjar air liur, hati, ginjal, dan organ-organ penting lainnya.

Gejala yang timbul akibat virus rabies ini antara lain, demam tinggi, di bagian yang terinfeksi akan terasa gatal, perubahan perilaku menjadi agresif, dan takut dengan air. Penyakit rabies ini dapat menyebabkan kematian bagi penderitanya setelah memasuki fase akhir.

Pengobatan Rabies

Luka akibat gigitan hewan berrabies, segera dicuci sampai bersih dengan mengunakan sabun dan basuh dengan air mengalir. Setelah itu bersihkan luka yang telah dicuci dengan menggunakan antiseptik atau alkohol. Luka tersebut tidak boleh ditutupi dengan perban, dan segera pergi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kemungkinan luka gigitan tersebut mengandung rabies, sebelum menimbulkan gejala, dokter akan melakukan pengobatan dengan metode profilaksis pasca pajanan yang terbukti efektif. Melalui metode pengobatan ini, dokter akan membersihkan luka bekas gigitan dan memberikan vaksinasi agar virus tidak menyebar ke otak dan sistem saraf.

Jika pasien rabies semakin parah gejalanya karena terlambat dalam menanganinya, pada tahap inilah dimana pasien akan sampai pada waktunya untuk diberikan dengan perawatan kusus, seperti menjaga ketenangan dan senyaman mungkin, karena pasien kemungkinan akan sampai pada kematian.

Pencegahan Rabies

Penularan rabies dapat dicegah dengan pemberian vaksin anti rabies. Vaksin ini lebih dianjurkan bagi meraka yang sering berinteraksi dengan hewan, seperti mereka yang bekerja di kebun binatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.