Reaksi Phobia

Reaksi Pengalaman Phobia

Panik sebagai salah satu efek phobia dapat muncul kapan saja, berlangsung dalam kurun waktu tertentu, dan dapat terjadi dalam posisi tidur. Penderita phobia yang mengalami kepanikan sangat hebat dapat merasa tidak terhubung dengan kenyataan. Panik yang dialami membuat seseorang hilang kendali, merasa sangat terbebani, sekarat, hingga merasa terjadi tubrukan di dalam dirinya. Serangan panik menimbulkan ketidaknyataan seperti berada di ambang kematian. Singkatnya tidak ada rasa aman di dalam diri sehingga manusia mengalami dan memusatkan pikiran pada ketakutan.

Efek kognitif dari phobia termasuk kemunculan pikiran tentang sesuatu yang berbahaya adalah ancaman yang dirasakan seseorang. Contohnya phobia untuk mengalami kematian, membuat seseorang memikirkan tentang kematian jauh lebih sering dari keadaan normal dan mulai mencipta paradoks dari kenyataan yang semakin membebani pikiran. Ketika ia tidak mampu lagi memikirkan tentang hal di luar itu sekalipun ingin memikirkan hal lain. Mati akan lebih baik daripada terus-menerus merasa tersiksa dijemput kematian. Orang yang mengalami phobia selalu memusatkan pikiran pada kecemasan dan ketakutannya, sehingga pikirannya hanya akan terfokus pada phobia yang dialami, tidak ada keinginan untuk memikirkan hal di luar itu.

Kecemasan dan ketakutan yang berlebihan yang cenderung dialami manusia dicurigai merupakan permasalahan bawaan, berarti kecemasan diturunkan berikut berbagai reaksi atas situasi kecemasan atas kekhawatiran berlebihan. Pengaruh genetik tidak terlepas dari kepribadian dan sifat turunan yang dimiliki seseorang. Meski dalam pandangan Buddhisme kondisi kecemasan dan ketakutan yang dialami dapat ditahan lewat pengendalian spiritual. Masalah kecemasan dan ketakutan yang berlebih ini memiliki gejala-gejala yang berbeda meski dapat dikelompokkan pada kondisi spiritual atau kejiwaan yang bersifat irrasional.

Reaksi Berdasarkan Objek Pemicu Phobia

Phobia yang akan dibahas lebih lanjut memiliki beberapa jenis dengan pembagian berdasarkan objek fisik atau situasi nyata yang menghadirkan kecemasan yang luar biasa. Penulis akan memulai dari salah satu jenis phobia khusus, yaitu ketakutan berlebihan terhadap hewan tertentu yang disebut animal phobias (Davey 81)2 , seperti objek fisik yang memicu takut berupa laba-laba, ulat bulu, serangga, anjing, kucing, cicak, dan sebagainya. Phobia hewan biasanya terjadi akibat pengalaman buruk dengan hewan yang ditakuti atau asosiasi hewan tersebut dengan kejadian menakutkan. Seseorang yang mengalami phobia hewan akan merasa dirinya terancam kontaminasi dari hewan yang ditakuti sehingga muncul reaksi jijik berikut kemungkinan terjadinya serangan fisik yang akan melukai dirinya akibat hewan tersebut.

Phobia terhadap hewan merupakan kasus dengan jumlah cukup tinggi mengingat jenis hewan yang beragam. Kecemasan akan diserang hewan tertentu membuat seseorang berupaya menghindari kontak dengan hewan, bahkan akan sangat membenci hewan yang dianggap sungguh-sungguh berbahaya. Ketakutan ini muncul akibat pengalaman merasa terjebak dan tidak dapat melepaskan diri dari hewan, seperti kucing yang menakutkan lewat bulu halusnya, namun menjadi peliharaan yang sangat patuh dan manis bagi tuannya.

Ketakutan luar biasa pada ruangan tertutup (claustrophobia) (Davey 163) dapat membuat seseorang berteriak histeris saat berada di dalam lift. Pikiran menakutkan akan teror membuat seorang yang phobia ruangan tertutup merasa terjebak, ingin berada di ruangan terbuka untuk bebas dari kesulitan bernapas menjadi penyebab utama kepanikan dalam ruang tertutup. Kebiasaan menghindari ruang yang berukuran kecil menjadi jalan baginya untuk merasa nyaman. Phobia ruang tertutup membuat orang takut luar biasa pada ruang berukuran kecil, ruang terkunci, terowongan, lift, dan koridor menuju lintasan kereta. Kondisi claustrophobia dapat menghambat kehidupan individu dengan kecenderungan lain yakni ingin bebas melarikan diri dari situasi yang seolah menjebak dirinya.

Sedikit berlawanan dengan claustrophobia, keengganan meninggalkan rumah dan lebih memilih mengunci diri dalam kamar dialami penderita agoraphobia (Davey 27), yakni ketakutan berlebihan pada keramaian. Tempat ramai seperti pasar menjadi situasi yang sangat mengancam bagi seseorang yang cemas luar biasa ketika berada dalam tempat dimana orang-orang melakukan transaksi jual beli. Keadaan ini membuat penderita agoraphobia bingung dan merasa tidak nyaman dengan orang lain yang hanya membuat ia terasing dari dirinya dan dari semua orang. Kecemasan dan ketakutan ini juga menghambat kehidupan dengan isolasi diri dari lingkungan sosial karena khawatir datangnya keadaan memalukan yang luar biasa menakutkan.

Air adalah sumber kehidupan utama namun bagi seseorang yang mengalami phobia air (waterphobia) (Davey 129) menjadi bahaya yang harus dihindari. Ketakutan pada air menjadi hal yang wajar pada usia balita, tapi menjadi suatu phobia apabila berkelanjutan hingga usia dewasa. Pada umumnya takut air muncul akibat trauma bencana banjir yang mengerikan seperti gelombang pasang serta air dalam jumlah besar, namun tidak menutup kemungkinan ketakutan ini muncul akibat perilaku orang tua yang menakuti anak-anaknya saat terlalu senang bermain air. Teriakan ketika melihat air bahkan menghindari mandi atau berendam di dalam bak mandi menjadi kewaspadaan berlebih yang dipandang abnormal. Perasaan tercekik saat mandi atau tenggelam merupakan bayangan yang dianggap nyata oleh seseorang yang mengalami phobia air. Hal semacam ini sering dianggap aneh dan tidak normal bagi orang yang tidak mengalami tapi sekadar melihat reaksi berlebihan ketika seseorang mengalami phobia tertentu.

Takut ketinggian (height phobia) (Davey 139) yang juga biasa disebut acrophobia berasal dari pegunungan tinggi Acropolis, merupakan keadaan cemas dan ingin mati akibat penderitaan luar biasa ketika ada di lantai 23 sebuah gedung. Phobia ketinggian ini dapat membuat seseorang menghindari terbang atau naik pesawat selain takut pada kecelakaan yang mungkin terjadi ketika pesawat lepas landas ke udara dan merasa berada di atas awan akan mengakhiri hidupnya. Takut ketinggian ini juga membuat orang membatasi diri untuk tidak bekerja di gedung mewah yang bertingkat tinggi dan tidak mau tinggal di apartemen atau kondominium sekalipun gratis tanpa dipungut biaya.

Rumah sakit beserta dokter menjadi fasilitas pendukung ancaman bagi penderita phobia darah (bloodphobia) (Davey 63). Ketika melihat darah yang menetes saat jari terluka bisa membuat seseorang tidak terkontrol, kecemasan melihat darah bisa datang akibat kecelakaan tragis yang pernah dialami di masa lalu. Phobia dokter gigi (dentalphobia) (Davey 107) merupakan phobia sejenis yang muncul akibat pengalaman tidak menyenangkan yang menyisakan kenangan pahit dalam ingatan. Ketakutan luar biasa pada darah atau pemeriksaan kesehatan gigi membuat orang tidak mau berkunjung ke klinik dan rumah sakit.

Reaksi Berdasarkan Kondisi Pikiran

Penulis sendiri merasa mengalami ketakutan pada gelap yang membuat kesulitan bernapas. Untuk merasa lebih aman, maka menyediakan lampu senter atau lilin beserta korek api di dalam kamar tidur sebagai persiapan saat mati lampu. Ketika lampu padam bisa langsung terbangun meski sedang tidur lelap. Penjelasan tentang kecemasan luar biasa yang muncul dari penyebab yang mungkin tidak masuk akal memang menyisakan misteri, tapi phobia yang dialami lewat gejala dan reaksi atas objek maupun situasi memiliki keterkaitan yang erat dengan masalah kontrol diri dan kesadaran pikiran manusia.

Kondisi pikiran seseorang ketika mengalami phobia mengalami penekanan, kebebasannya terlimitasi oleh perasaan takut atau cemas. Kondisi terbatas ini dapat ditelusuri lewat perilaku. Pikiran seseorang yang mengalami phobia mengalami kepekaan luar biasa, yakni lebih aware pada kemungkinan ancaman dalam bentuk peningkatan kewaspadaan. Kondisi pikiran dalam kebanyakan pembahasan phobia banyak dipengaruhi oleh pandangan dualisme oleh Rene Descartes dengan penjelasan cukup menarik mengenai hubungan pikiran terhadap tubuh karena konsep ini memisahkan antara tubuh dan jiwa tapi menegaskan ikatan antara keduanya, seperti dalam karyanya The Passions of the Soul bahwa ketakutan manusia turut menggambarkan relasi pikiran dan reaksi tubuh.

“… there is such a tie between our soul and body that when we once have joined any corporal action with any thought, one of them never present itself without the other and that are not always same action which are joined to the same thought.”(Descartes, 1650, hlm. 107-108) (Davey 83)

Ikatan tubuh dan jiwa juga dijelaskan dalam teater pikiran ketika manusia seolah menyaksikan film lewat pikirannya. Teater pikiran (theater of mind) dianggap cukup memberikan alasan ketidakmampuan dualisme untuk menjelaskan sumber pengalaman subjektif, tapi sekadar memposisikan pikiran dan pengalaman sebagai alat sadar diri atau disebut property of the self conscious mind. Meskipun dalam pembahasan pikiran lewat penekanan wilayah kesadaran menjelaskan bahwa pikiran sadar manusia memang mampu menyeimbangka interaksi yang mempertemukan syaraf satu dengan syaraf lain dalam mekanismeotak manusia.

Pernyataan Dennet tentang teater Cartesian:

We still imagine that somewhere inside our heads is place where “it all comes together”: Where consciousness happens and we see our mental images projected on a mental screen, where we make our decisions and initiate action: where we agonise about life, love, and meaning. The Cartesian theater doesn’t exist.3 (Blackmore, Meme 225)

Tetap saja dualisme tidak cukup menjelaskan tentang asal-muasal hubungan itu, seperti membayangkan lewat proyeksi film dalam pikiran. Dennet salah seorang pemikir yang menolak dualisme Cartesian, yaitu imajinasi bahwa di suatu tempat di dalam kepala kita merupakan tempat asal setiap pikiran. Kesadaran berada ketika gambaran mental diproyeksikan dalam pikiran kita seperti melihat sebuah film, dimana kita kemudian memutuskan untuk berperilaku. Tapi teater pikiran ini tidak ada (sekedar ilusi) ketika manusia mengalami penderitaan atas hidup, cinta, dan makna. Kenyataan tentang teater pikiran dimana terjadi penyederhanaan bahwa otak menjadi tempat segalanya berasal (everything comes together) tidaklah cukup. Tidak ada konstruksi nyata dalam teater pikiran karena teori ini hanya menjadi metafora untuk memikirkan pikiran (Baars x).

Meskipun begitu tetap saja pemisahan tubuh dan jiwa mampu memperkuat perhatian pada satu bagian lewat pemisahan kesatuan. Pandangan dualisme banyak menjadi pembahasan karena keunikan dan misteri jawaban yang tetap menarik melalui pemisahan pikiran dan tubuh. Tubuh seseorang punya keterkaitan dengan mental atau jiwa sehingga seseorang memahami segala macam hal termasuk phobia sebagai suatu keutuhan pengalaman. Dalam pengalaman phobia maka pikiran yang menakutkan akan menimbulkan reaksi tubuh berupa tindakan antisipasi sebagai putusan dari pikiran-pikiran seseorang yang diliputi takut dan cemas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.