Pengertian Phobia

Pengertian Phobia

Phobia adalah pengalaman yang mencekam bagi yang mengalaminya meskipun objek pemicu terkadang adalah sesuatu yang sangat biasa bagi orang lain. Ketakutan dan kecemasan yang muncul kemudian mendorong reaksi beragam, seperti tindakan menghindar yang berlebihan, lewat teriakan, tangis keras sebagai reaksi emosional, bahkan dapat mencapai reaksi somatik seperti ruam-ruam kemerahan yang muncul seketika saat seseorang yang mengalami ketakutan luar biasa pada hewan kecil seperti serangga. Berdasarkan gambaran di atas penulis akan mulai mendefinisikan keunikan pengalaman phobia. Phobia akan coba diangkat sebagai pengalaman manusia yang sangat menarik untuk dikaji lewat metode filsafat.

Phobia: Antara Ketakutan dan Kecemasan

Phobia berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata “Phobos” yang berarti takut (fear) serta teror. Menurut kisah di dalam mitologi Yunani, phobia berasal dari dewa Phobos sebagai dewa yang bertugas memunculkan pikiran-pikiran menakutkan serta menciptakan teror bagi para musuh Yunani. Phobia dalam sejarah sudah ada pada tulisan Mesir Kuno dalam penggambaran ketakutan manusia. Kata phobia muncul kemudian dalam arti takut akan sesuatu objek dan situasi mengancam. Selanjutnya phobia digunakan untuk menunjukan keadaan seseorang yang mengalami ketakutan luar biasa terhadap objek maupun situasi tertentu (Davey xiii).

Cemas (anxiety) adalah kekhawatiran yang berasal dari dalam diri manusia tanpa sebab yang jelas. Kecemasan merupakan bagian emosional manusia yang mendasar (Spielberger 3). Cemas menjadi salah satu unsur dasar dari keberadaan manusia serta menjadi sumber bagi penjelasan tentang phobia, yakni proses cemas yang ada dalam diri manusia menjadi bentuk takut berlebihan atas objek atau situasi. Cemas dan takut menjadi tantangan bagi manusia sebagai eksistensi individual. Namun, dalam phobia maka kecemasan dan ketakutan menjadi dorongan yang berkuasa mempengaruhi perilaku sekaligus membawa manusia pada kondisi terbatas.

Phobia menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dikaji, karena melibatkan pikiran dan pengalaman yang subjektif. Phobia merupakan keadaan antara takut dan cemas, di satu sisi phobia dapat menunjukkan ketakutan akan objek nyata seperti takut pada seekor laba-laba. Sebaliknya phobia dapat berwujud kecemasan ketika muncul perasaan tak terjelaskan, pikiran yang mengerikan, memunculkan reaksi panik tanpa perlu hadirnya objek maupun situasi tertentu. Phobia menimbulkan penilaian-penilaian subjektif atas ancaman serta kekhawatiran terjadinya keadaan yang buruk dan tidak menyenangkan pada seseorang.

Manusia memahami phobia sebagai ketakutan dan kecemasan akan ancaman. Phobia telah banyak didefinisikan oleh filsuf. Para eksistensialis menganggap ketakutan adalah keterpaksaan manusia akan kenyataan yang bisa didekati dan dialaminya sebagai individu melalui perasaan dan tindakan seperti halnya organisme yang berpikir. Kecemasan dan ketakutan merupakan pondasi dasar keberadaan manusia. Takut merupakan afirmasi manusia atas keberadaannya. Keberadaan manusia di dunia penuh ketidakpastian namun merindukan kepastian, seperti kepastian untuk mampu menunjukan eksistensi diri. Dalam buku Being and Time, Heidegger menjelaskan bahwa cemas adalah bukti Befindlichkeit (baca: kepekaan) perasaan dan emosi manusia. Manusia memang terlempar dan dikuasai nasib. Cemas dan takut adalah kepekaan suasana batin yang paling dasariah dimiliki manusia. Cemas (Angst) menunjukkan keberadaan manusia di dunia. Tidak sama seperti takut (Furcht) yang jelas objek pemicunya, seperti ketakutan yang muncul saat disergap oleh seorang penjahat yang siap menodongkan pisau lipat. Angst merupakan perasaan yang datang tiba-tiba, cemas mengenai diri sendiri yang menyergap datang dan pergi. Meskipun tidak ada peristiwa konkret yang patut memunculkan kebingungan. Kecemasan memang tidak berwujud tapi ada dekat sekali dan membuat diri merasa kosong. Hidup kadang tidak berarti ketika kecemasan muncul nyata pada ketakutan atas sesuatu yang ada di dunia. Tapi manusia lebih mengutamakan ketakutan atas dunia itu sendiri. Ancaman yang muncul dalam phobia membuat segalanya tidak berarti dan bukan apa-apa lagi (Hadiwijono 154).

Kierkegaard menjelaskan kecemasan membentuk pilihan serta kemungkinan dalam keberadaan manusia. Manusia ada dalam proses menjadi dan mengalami perpindahan dari kemungkinan menuju kenyataan. Kemungkinan yang bersifat partikular dan menuju pada kemungkinan kebebasan sebagai pilihan. Manusia melakukan tindakan bagi dirinya dan menentukan hidup. Konsep kecemasan yang menggambarkan kepusingan manusia akan kebebasannya (the dizziness of freedom) yang bersifat individual (Audi 26). Ada pertentangan antara hasrat dan kewajiban, yakni mempertahankan eksistensi sebagai individu dan aturan yang menjadi kewajiban individu. Kebebasan menjadi kunci pencapaian tahapan- tahapan hidup yang kemudian membuat manusia pusing menghadapi kenyataan serta ancaman dan mulai mengalami rasa takut yang berlebihan (Wolman and Stricker 59). Resolusi positif menjalani latihan kesadaran diri menjadi jalan yang etis karena manusia yang cemas tetap dapat memilih dalam keterbatasan serta mungkin melakukan kesalahan.

Esensi takut bagi Spinoza adalah pikiran-pikiran atau sikap serta kondisi subjektif dari ketidakpastian akan harapan. Ketidakpastian hidup membuat orang merasa menjadi air dalam oase harapan. Harapan tentang sesuatu yang menyakitkan atau tidak menyenangkan yang mungkin terjadi. Spinoza kemudian menghibur lewat pernyataan bahwa takut adalah kelemahan pikiran. Takut dapat dihindari oleh seseorang yang memiliki dedikasi dan keberanian untuk berpikir, kemudian Spinoza menuliskannya dalam sejarah modern (May 24). Takut dan cemas menjadi tantangan yang jelas dalam kondisi pikiran manusia.

Teori Terkait Phobia

Freud dalam The Problem of Anxiety menjelaskan takut dan cemas sebagai sesuatu yang dirasakan tubuh lewat gangguan pada pikiran. Kecemasan menjadi masalah mendasar dalam setiap gejala formasi syaraf. Sesuatu yang muncul dari dalam diri manusia berupa emosi tidak menyenangkan lewat perilaku yang dialami bersamaan dengan tekanan. Esensi dari tingkah laku manusia yang diliputi rasa tidak aman. Ketakutan manusia selalu berkembang dan mengalami modifikasi hingga Freud menyebut gagasan abstrak yang tepat adalah neurosis lewat teori Psikoanalisa.

Bagi Freud rasa takut berlebihan yang dialami penderita phobia adalah represi pada Id. Kecemasan timbul pertama dalam hidup manusia saat lahir dan merasakan lapar yang pertama kali. Saat itu dalam kondisi masih lemah, sehingga belum mampu memberikan respon terhadap kedinginan dan kelaparan, maka lahirlah kecemasan pertama. Phobia merupakan upaya pertahanan untuk melawan pengalaman menakutkan dalam impuls syaraf. Dorongan takut dan harapan membawa seseorang pada perasaan terancam. Selain itu tidak disadari sering terjadi kemarahan, rasa bersalah, atau phobia sebagai kehausan manusia akan penerimaan dan cinta (Wolman and Stricker 17). Pernyataan tentang konsep kecemasan adalah:

“Anxiety (or dread) itself needs no description: everyone has personally experienced this sensation, or to speak more correctly this affective condition, at some time or other. But in my opinion not enough serious consideration has been given to the question why nervous persons in particular suffer from anxiety so much more intensely, and so much more altogether, than others……one thing is certain, that the problem of anxiety is a nodal point, linking up all kinds of most important questions: a riddle of which the solution must cast a flood of light upon our whole mental life” (Freud 341).

Kecemasan (juga ketakutan) itu sendiri tidak memerlukan deskripsi, setiap orang memiliki pengalaman tersendiri tentang rasa mengalaminya, atau untuk bicara lebih tepat tentang kondisi afektif ini. Akan tetapi, menurut penulis tidak cukup pertimbangan serius untuk menjawab kenapa orang secara khusus menderita kecemasan begitu banyak lagi dari yang lain. Satu hal yang pasti bahwa masalah kecemasan menjadi titik yang menghubungkan segala macam pertanyaan penting, yakni sebuah teka-teki yang solusinya harus memasukkan banyak cahaya terhadap keseluruhan hidup mental kita. Dalam pernyataan Freud dapat dipahami bahwa kecemasan dan ketakutan berhubungan dengan kehidupan mental seseorang.

Id mengalami represi di masa kecil, ketakutan menjadi suatu keadaan salah menempatkan rasa tertekan atas objek atau situasi yang secara simbolis terhubung dengan pembentukan diri. Phobia menjadi upaya menjauhi konflik yang menekan diri manusia dengan menghindari simbol tertentu yang menjadi penghubung pada pengalaman di masa kecil. Kondisi ini memicu kegugupan lebih khusus pertama pada kualitas tidak menyenangkan (unpleasureable quality), kedua pada fenomena penghentian (efferent or discharge phenomena), dan ketiga persepsi (perception). Phobia dengan pikiran yang tidak menyenangkan merupakan tanda kecemasan. Gambaran kenyataan menjadi tidak lengkap akibat provokasi pikiran lewat dorongan takut dan cemas. Kecemasan manusia bersifat afektif dan dapat dibedakan dengan keadaan tidak menyenangkan lain seperti marah, duka cita, dan kesedihan.

Pemikir evolusi seperti Darwin dalam buku The Expression of Emotion in Man and Animals juga ikut menjelaskan tentang takut dan cemas melalui penekanan pada proses evolusi berikut perubahan biologis dalam seleksi alam. Masalah mengalami takut sudah menjadi kemampuan turunan manusia serta hewan yang berkembang sebagai mekanisme adaptif dari generasi ke generasi yang tak terhitung jumlahnya. Reaksi takut yang alami adalah proses seleksi alam saat makhluk harus bertahan dari bahaya sebagai ancaman bagi hidupnya (Darwin 306). Darwin memberikan gambaran yang nyata dan jelas tentang manifestasi takut dan cemas, misalnya detak jantung yang meningkat, tubuh gemetar, meningkatnya desah napas, rambut berdiri, mulut kering, suara bergetar, mata membesar, serta reaksi lain yang bersifat somatik.

Ketakutan dan kecemasan dalam penelusuran pustaka adalah berbeda namun saling berhubungan seperti dalam phobia. Takut atau fear adalah upaya menghindari objek atau situasi yang menyeramkan dan akan menyakitkan lewat pengaturan tindakan. Motif tindakan seseorang yang mengalami phobia bersifat spontan tanpa proses pertimbangan akibat ketakutan luar biasa yang menjadi penyebab munculnya reaksi berlebihan. Cemas adalah suatu upaya menghindari ancaman dari kecemasan yang tidak terpecahkan tanpa memerlukan kehadiran objek atau situasi nyata. Namun, kecemasan muncul dari dalam diri manusia bersamaan dengan keberadaannya di dunia.

Phobia adalah reaksi yang mendorong optimalisasi cemas dan takut untuk menciptakan keadaan serba terbatas. Penilaian ancaman yang sifatnya simbolis dan ketidakpastian prediksi sama dengan reaksi seorang penderita phobia ketika merasakan takut. Phobia menjadi pengalaman yang sifatnya subjektif dan privat dalam situasi cemas ancaman disertai takut objek tertentu akan bersifat variatif bagi tiap diri. Ekspresi ataupun reaksi yang timbul ketika seseorang mengalami phobia menunjukkan kepekaan dan keyakinan keberadaan ancaman.

Dorongan cemas dan takut menempatkan penderita phobia pada objek maupun situasi yang mampu menciptakan kebingungan, kekhawatiran, tekanan, keprihatinan berlebihan serta kesulitan melepaskan diri kemudian berusaha menghindar dengan melakukan perilaku tertentu. Kondisi nyata manusia ketika mengalami phobia menjadi kabur saat hal-hal yang tidak diinginkan menjadi teror dalam pikiran dan menciptakan kepanikan. Kepanikan bukan satu-satunya reaksi penderita phobia, ketakutan yang berlebihan juga dapat menciptakan delusi dan halusinasi. Delusi serta halusinasi merupakan kemampuan imajinasi yang mampu menipu seseorang ketika mengalaminya, delusi berupa khayalan dalam pikiran manusia sedangkan halusinasi adalah bayangan tentang objek yang terlihat begitu konkret (Casey 83).

Phobia dalam Neurologi

Neurologi membahas masalah kecemasan dan ketakutan melalui penelitian kondisi sistem syaraf beserta reaksi impuls syaraf yang menegang atau tertekan ketika seseorang mengalami phobia. Beberapa bagian otak menjadi kunci dalam produksi rasa takut serta cemas di dalam penelusuran masalah phobia. Melalui penelitian syaraf dapat ditemukan peranan berarti amygdala dan hippocampus ketika manusia mengalami kecemasan maupun ketakutan. Amygdala adalah bagian dalam otak manusia dengan bentuk menyerupai almond yang dipercaya berfungsi komunikasi untuk menghubungkan bagian penerimaan isyarat atau tanda-tanda dari panca indera dengan bagian penafsiran isyarat pada otak manusia (National Institute of Mental Health 21-22).

Amygdala mengirim perintah kewaspadaan pada seluruh bagian otak atas kehadiran ancaman. Perintah dari amygdala kemudian mampu memicu reaksi berupa rasa cemas serta takut yang berlebihan atas ancaman yang telah diprediksi terjadi dalam pikiran. Kepekaan amygdala serta tempo dalam merespon kehadiran ancaman akan berbeda dan sifatnya genetis berikut reaksi tubuh misalnya meningkatnya tekanan darah (Ballenger and Tylee 62). Keadaan ini menunjukkan bahwa memori emosional disimpan pada pusat amygdala jelas berperan dalam kecemasan serta ketakutan yang berlebihan seperti jenis phobia khusus, yakni takut pada laba-laba (spiderphobia), takut pada anjing (dogphobia), takut pada ruang tertutup (claustrophobia) dan sebagainya.

Hippocampus adalah bagian dalam otak yang mengisyaratkan ingatan peristiwa-peristiwa mengancam ke dalam memori manusia. Hippocampus berfungsi mis-match detection, yakni menemukan ketidaksesuaian dan segera mengisyaratkan perhatian dalam pikiran seseorang (Baars 107). Perasaan takut dan cemas menganggu pikiran dan seketika hippocampus berikut bagian otak membangun mekanisme perhatian untuk menyiapkan diri dari peristiwa langsung yang tiba-tiba dapat memasuki kesadaran. Bagian otak yang istimewa ini menjadi lebih kecil pada orang yang mengalami phobia atau memang mengecil ketika manusia merasakan ancaman dapat ditelusuri juga lewat kasus lain sebagai perbandingan.

Ukuran hippocampus dapat mengecil dalam kasus nyata tertentu, seperti orang yang menjadi korban penyiksaan di masa kecil, atau orang yang menjalani pelatihan kemiliteran. Kemauan untuk membatasi dan membuat ketentuan menjadi penyebab reduksi ukuran hippocampus. Penggambaran sorot balik, kurang jelasnya ingatan, dan potongan memori tentang peristiwa traumatis yang mampu menghadirkan goncangan jiwa serta penegangan syaraf lebih jelas pada pengalaman Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) (National Institute of Mental Health 7).

Sekilas penjelasan bahwa PTSD muncul setelah mengalami peristiwa perampokan, perkosaan, penculikan, penawanan, pencabulan, kecelakaan, dan bencana alam. Telah ada kenangan menyakitkan yang bisa terus datang dan menyiksa seseorang dengan rasa takut akan terjadinya pengulangan peristiwa menyakitkan tersebut. Sementara itu, kondisi trauma memang dapat menjadi penyebab phobia meskipun tidak selalu akibat peristiwa traumatis. Trauma lebih sering terjadi akibat pengalaman buruk kemudian melakukan prediksi bahaya sementara phobia cenderung memprediksi ancaman setelah ada kehadiran objek yang menakutkan.

Rasa takut serta kecemasan berlebihan yang dialami seseorang tidak cukup terjelaskan lewat gejala fisik. Meskipun gejala fisik dapat menjadi penjelasan sementara yang nyata untuk menunjukkan keadaan seseorang yang mengalami rasa takut maupun cemas yang tidak terkendali. Dalam kajian psikologi pengenduran syaraf otak dapat dikendalikan lewat terapi dan konsumsi obat antidepresan sehingga reaksi fisik tidak akan muncul. Phobia memiliki keunikan tersendiri untuk dibahas lebih jauh. Gejala-gejala yang dialami penderita phobia berbeda-beda disertai akibat-akibat ketakutan yang juga variatif. Persoalan subjek lagi-lagi menjadi jawaban sementara seperti sifat yang dapat diturunkan genetis atau sikap perseorangan ketika menghadapi kecemasan dan ketakutan.

Kadar kecemasan dan rasa takut proposisional dalam tiap pengalaman phobia tergantung pada keadaan pikiran seseorang serta tingkat ancaman yang menjadi alasan terjadinya phobia. Ancaman dalam phobia berupa tampilan nyata, suara, gerakan, sentuhan dan penyebab lain yang memicu munculnya perasaan takut yang berlebihan. Phobia dapat mengakibatkan peningkatan kewaspadaan mengingat manusia merupakan makhluk yang berpikir dan cenderung memiliki persiapan untuk menghadapi ancaman berupa objek atau situasi.

Akibat ketakutan dan cemas berlebihan yang dialami penderita phobia memiliki tingkatan yang juga berbeda-beda. Tingkat ringan seperti berkeringat, pusing, gelisah, bingung, gemetar, serta merasa mual. Tingkat berat seperti luka- luka, serangan fisik, depresi, panik, kegilaan, pembengkakan pembuluh darah di otak bahkan serangan jantung. Kecemasan atas akibat phobia sekalipun dapat menjadi suatu tekanan yang memperburuk kondisi penderitanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.