Kanker Payudara

Kanker Payudara

Kanker payudara muncul sebagai akibat sel-sel yang abnormal terbentuk pada payudara dengan kecepatan tidak terkontrol dan tidak beraturan. Sel tersebut merupakan hasil mutasi gen dengan perubahan bentuk, ukuran maupun fungsinya (Lippman, 1998). Lebih dari 70% penderita kanker payudara ditemukan sudah dalam stadium lanjut (Moningkey, 2000).

Epidemiologi

Di Indonesia setiap tahunnya diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru setiap 100.000 penduduk seiring peningkatan angka harapan hidup, sosial ekonomi serta perubahan pola penyakit (Tjindarbumi, 2000). Kasus baru kanker payudara pada wanita di Amerika Serikat tahun 2005 adalah 211.240 dengan kematian 40.410, di Indonesia terdapat 114.649 penderita (National Cancer Institute, 2005). Di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta pasien kanker payudara yang dirawat ada 252 orang pada tahun 2005. Pada tahun 2006 di Amerika Serikat, kasus kanker payudara (wanita saja) menempati urutan pertama (32%) dan penyebab kematian kedua setelah kanker paru (Anonim, 2007).

Etiologi

Penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti. Faktor risiko yang sangat berpengaruh terhadap timbulnya kanker payudara antara lain genetik, faktor endokrin, dan faktor lingkungan.

a. Faktor Endokrin

Faktor endokrin akan mempengaruhi insidensi pada kanker payudara, diantaranya adalah total durasi lamanya menstruasi, early menarche (menstruasi di umur dini), nulliparity (wanita yang tidak memiliki anak) dan melahirkan anak pertama di umur >30 tahun akan meningkatkan risiko lama hidup pada perkembangan kanker payudara (Dipiro, 2003).

b. Faktor Genetik

Sekitar 5-10% kanker payudara terjadi akibat adanya kelainan genetik yang diturunkan anggota keluarga. Hal ini akan meningkatkan risiko timbulnya kanker tipe tertentu misalnya sindroma Li-Fraumeni, mutasi pada kromosom 1q, 3p, 13q, 17p menimbulkan kanker payudara pada umur lebih muda. Lebih dari 50- 85% wanita dengan mutasi gen BRCA-1 atau BRCA-2 akan terkena kanker payudara (Anonim, 2003b).

c. Faktor Lingkungan

Makanan, nutrisi, dan terpapar senyawa radioaktif dapat memicu timbulnya kanker payudara (Anonim, 2003b).

Patofisiologi

Identifikasi subtipe histopatologi kanker payudara penting karena ada hubungannya dengan aspek klinik yaitu prediksi metastasis, terapi dan prognosis.

a. Dasar klasifikasi subtipe histopatologi kanker payudara yang sering digunakan adalah WHO tahun 1981. Menurut WHO subtipe histopatologi kanker payudara ada 2 macam yaitu :

1). carcinoma noninvasive

Carcinoma noninvasive artinya sel yang membahayakan mengikat kelenjar lain pada lobus, dengan tidak ada bukti penetrasi pada sel tumor menyambung dengan dasar membran di sekitar 2 tipe pada struktur yang dikelilingi jaringan fibrous. Umumnya kanker payudara adalah adenocarcinoma yang berasal dari sel epitel pada pembuluh atau kelenjar. Ada dua bentuk pada carcinoma noninvasive yaitu ductal carcinoma insitu dan lobular carcinoma insitu.

2). carcinoma invasif

Carcinoma invasif adalah sel yang rusaknya melewati dasar membran di sekeliling struktur payudara, dimana sel tersebut muncul dan menyebar di sekeliling jaringan. Ukuran carcinoma bermacam-macam, kurang dari 10mm dan kedalaman lebih dari 80mm, namun yang sering dijumpai yakni kedalaman 20-30mm. Secara klinis akan terlihat kuat dan jelas serta kulit nampak bersisik dengan punting susu tertarik ke dalam (Underwood, 2001).

b. Anatomi payudara

Payudara manusia berbentuk kerucut tetapi sering kali berukuran tidak sama. Payudara memanjang dari tulang rusuk kedua atau ketiga sampai tulang rusuk keenam atau ketujuh, dari tepi sentral ke garis aksilaris anterior. “Ekor” payudara memanjang sampai ke aksila dan cenderung lebih tebal ketimbang daerah payudara lainnya. Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot penyokong, lemak, pembuluh darah, saraf, dan pembuluh limfe (Guiliano, 2001).

Tanda dan Gejala Klinis

Berupa benjolan pada payudara, eksema punting susu atau pendarahan pada punting susu, tetapi umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri. Benjolan itu mula-mula kecil, makin lama makin besar lalu melekat pada kulit dan menimbulkan perubahan kulit payudara atau punting susu. Kulit atau punting susu akan tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah kecoklatan sampai menjadi udema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk, mengkerut dan timbul ulkus. Ulkus tersebut makin lama akan semakin membesar dan akhirnya akan menghancurkan seluruh payudara dengan bau yang busuk dan menjadi mudah berdarah (Anonim, 2000a).

Diagnosis

Secara umum diagnosis kanker payudara dibedakan menjadi 2 yaitu skrining dan diagnostik. Yang termasuk skrining antara lain :

a. pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) yang dilakukan setahun sekali setelah umur 20 tahun,
b. pemeriksaan payudara oleh dokter yang dimulai pada umur 20 tahun, setiap 3 tahun sekali pada umur 20-39 tahun dan setiap tahun sekali setelah umur 40 tahun,
c. mammografi skrining yang dilakukan pada pasien tanpa gejala untuk mendeteksi adanya kanker payudara yang samar (Ramli, 2000).

Yang termasuk diagnostik (Ramli, 2000) :

a. anamnesa meliputi tanda, gejala dan faktor risiko,
b. pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, dan tanda metastasis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.