Pembengkakan Payudara (Breast Engorgement)

Pembengkakan Payudara (Breast Engorgement)

1. Pengertian pembengkakan payudara

Pembengkakan payudara adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus lakteferi atau oleh kelenjar-kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu.

Pembengkakan payudara diartikan peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara dalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi. Hal ini bukan disebabkan overdistensi dari saluran laktasi4,30 sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan.

2. Patofisiologi pembengkakan payudara

Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi keluarnya pituitary lactogenic hormone (prolaktin) waktu hamil, dan sangat dipengaruhi oleh estrogen, tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus- alveolus kelenjar payudara terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkannya dibutuhkan refleks yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitelial yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut. Refleks ini timbul jika bayi menyusu. Pada permulaan nifas apabila bayi belum menyusu dengan baik, atau kemudian apabila kelenjar- kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna, maka dapat terjadi pembendungan air susu.

Sejak hari ketiga sampai keenam setelah persalinan, ketika ASI secara normal dihasilkan, payudara menjadi sangat penuh. Hal ini bersifat fisiologis, dan dengan penghisapan yang efektif dan pengeluaran ASI oleh bayi, rasa tersebut pulih dengan cepat. Namun dapat berkembang menjadi bendungan, payudara terasa penuh dengan ASI dan cairan jaringan. Aliran vena dan limfatik tersumbat, aliran susu menjadi terhambat dan tekanan pada saluran ASI dan alveoli meningkat. Payudara menjadi bengkak dan edematous.

3. Etiologi pembengkakan payudara

Selama 24 hingga 48 jam pertama sesudah terlihatnya sekresi lakteal, payudara sering mengalami distensi menjadi keras dan berbenjol- benjol. Keadaan ini menggambarkan aliran darah vena normal yang berlebihan dan pengembungan limfatik dalam payudara, yang merupakan prekusor reguler untuk terjadinya laktasi. Keadaan ini bukan merupakan overdistensi sistem lakteal oleh air susu.

Menurut Suradi dan Kristina32 payudara yang terbendung terjadi karena hambatan aliran darah vena atau saluran getah bening akibat ASI terkumpul pada payudara. Kejadian ini timbul karena produksi ASI yang berlebihan, bayi disusui terjadwal, bayi tidak menyusu dengan adekuat, posisi menyusui yang salah, atau karena puting susu yang datar/terbenam. Hal ini bisa juga terjadi karena terlambat menyusui dini, perlekatan yang kurang baik, atau mungkin kurang seringnya ASI dikeluarkan.

Penyebab terjadinya pembengkakan payudara menurut Bobak adalah

1) Posisi menyusui yang tidak benar
2) Pengosongan payudara yang tidak baik
3) Pemakaian BH yang terlalu ketat
4) Tekanan jari ibu pada waktu menyusui
5) Kurangnya pengetahuan cara perawatan payudara dan cara pencegahan pembengkakan payudara (bendungan ASI)

4. Tanda dan gejala pembengkakan payudara

Pada payudara penuh dengan ASI, terasa berat, panas, dan keras. Bila diperiksa ASI keluar, dan tidak demam. Pada payudara bengkak, payudara oedem dan sakit, puting kencang, kulit mengkilat walau tidak merah, dan bila diperiksa atau dihisap ASI tidak keluar. Badan bisa demam setelah 24 jam.

Menurut Winknjosastro, tanda dan gejala pembengkakan payudara adalah:

a. Payudara terasa panas
b. Payudara terasa nyeri
c. Payudara bengkak
d. Suhu badan tidak naik

5. Komplikasi

Tindakan untuk meringankan gejala pembengkakan payudara sangat dibutuhkan. Apabila tidak ada intervensi yang baik maka akan menimbulkan :

a. Infeksi akut kelenjar susu
b. Mastitis
c. Abses payudara sampai dengan septicemia

6. Pencegahan

Menurut Suradi & Kristina untuk mencegah pembengkakan payudara maka diperlukan menyusui dini, perlekatan yang baik, menyusui “ on demand” bayi lebih sering disusui, apabila payudara terasa tegang, atau bayi tidak dapat menyusui maka sebaiknya ASI dikeluarkan terlebih dahulu sebelum menyusui, agar ketegangan menurun.

Sedangkan pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terjadi pembengkakan payudara adalah:

a. Bila memungkinkan, susui bayi segera setelah lahir.
b. Susui bayi tanpa dijadwal.
c. Keluarkan ASI secara manual atau dengan pompa, bila produksi ASI melebihi kebutuhan bayi.
d. Lakukan perawatan payudara masa nifas secara teratur.

Menurut Varney untuk mencegah pembengkakan payudara, ibu harus dianjurkan untuk menyusui bayinya menurut isyarat bayi, dengan posisi yang nyaman.

7. Penatalaksanaan

Pengobatan secara farmakologis yang dilakukan oleh Snowden et al 2001. Analisa ini mengidentifikasi delapan percobaan dengan responden 424 orang. Didapatkan bahwa terapi farmakologis lebih baik daripada non farmakologis. Terapi farmakologis yang digunakan adalah obat anti inflamasi serrapeptase (danzen) yang merupakan agen enzim anti inflamasi 10 mg tiga kali sehari atau Bromelain 2500 unit dan tablet yang mengandum enzim protease 20.000 unit. Sedangkan menurut Amru terapi pembengkakan payudara diberikan secara simtomatis yaitu mengurangi rasa sakitnya (analgetik) seperti paracetamol atau ibuprofen.

Penelitian Kee WH tentang Pengobatan pembengkakan payudara dengan Serrapeptase ( Danzen ) : uji coba terkontrol double-blind acak . pada 70 pasien yang mengalami pembengkakan payudara. Diambil secara acak dibagi menjadi dua kelompok, kelompok perlakuan dan kelompok placebo. Didapatkan hasil ada perbedaan yang signifikan secara statistik. Tidak ada efek samping yang dilaporkan dari penggunaan obat danzen. Danzen adalah metode yang aman dan efektif untuk pengobatan secara farmakologi pembengkakan payudara.

Penggunaan terapi non farmakologis untuk mengurangi rasa sakit dari pembengkakan payudara adalah sebagai berikut akupuntur, (perawatan payudara tradisional) yaitu kompres panas dikombinasikan dengan pijatan, kompres panas dan dingin secara bergantian, kompres dingin, daun kubis dan terapi ultrasound.

Menurut Bahiyatun, penatalaksanaan pembengkakan payudara adalah sebagai berikut:

  • Masase payudara dan ASI diperas dengan tangan sebelum menyusui.
  • Kompres dingin untuk mengurangi statis pembuluh darah vena dan rasa nyeri. Dapat dilakukan secara bergantian dengan kompres hangat untuk melancarkan pembuluh darah pada payudara.
  • Menyusui lebih sering dan lebih lama untuk melancarkan aliran ASI dan menurunkan tegangan payudara.

Menurut Suradi dan Kristina, penanganan pembengkakan payudara adalah:

  • Kompres payudara dengan air hangat, lalu masase ke arah puting payudara agar terasa lebih lemas dan ASI dapat dikeluarkan melalui puting.
  • Susukan bayi tanpa terjadwal sampai payudara terasa kosong
  • Urutlah payudara mulai dari tengah, lalu kedua telapak tangan ke samping, ke bawah, dengan sedikit ditekan ke atas dan lepaskan tiba- tiba.
  • Keluarkan ASI sedikit dengan tangan agar puting susu menonjol keluar.
  • Susukan bayi lebih sering.
  • Ibu harus rileks.
  • Pijat leher dan punggung belakang (sejajar dengan payudara).
  • Stimulasi payudara dan puting.
  • Kompres payudara dengan air dingin setelah menyusui, untuk mengurangi oedem.
  • Pakailah BH atau bra yang sesuai.
  • Bila terlalu sakit dapat diberikan obat analgetik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.