Pengertian Garengpung (Dundubia manifera)

Pengertian Garengpung (Dundubia manifera)

Dundubia manifera memiliki nama daerah yang berbeda-beda di Indonesia. Di setiap daerah, serangga ini memiliki panggilan masing-masing. Orang Sunda menyebutnya dengan Tonggeret, orang Jawa menyebutnya Gerangpung atau Uir-iur ada pula yang menyebut Kijeng Tangis dikarenakan suaranya yang seperti tangisan orang, sedangkan di Makasar disebut dengan Nyennyeng. Suara Garengpung mampu menandai bau getah. Mereka mampu membedakan usia pohon yang ditumpangi. Oleh karena itu, banyaknya pohon yang ditebang menyebabkan kepunahan secara langsung bagi serangga ini (Endang, 2012).

Masa hidup Garengpung dipengaruhi oleh pergantian musim. Di Indonesia, Garengpung akan berbunyi nyaring pada akhir musim penghujan yakni saat serangga masuk ke musim kawin. Garengpung memiliki fase metamorfosa lama, selama 17 tahun ia hidup sebagai larva, kemudian dalam 3 hari menjadi serangga dewasa dan memasuki fase reproduksi. Setelah melakukan perkawinan, Garengpung akan mati. Di dunia ada sekitar 3.000 spesies Garengpung dan dikelompokkan menjadi 2 familia yakni Tettigarctidae dan Cicadidae. Garengpung menyebar di semua benua kecuali Antartika.

Garengpung dengan genus Dundubia, Platylomia dan Orientopsaltria banyak ditemukan pada wilayah Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Bentuk badan Garengpung menyerupai lalat besar. Biasanya Garengpung mengeluarkan suara di pagi menjelang siang. Suara tersebut dihasilkan dari menggesekkan kedua sayapnya. Garengpung dianggap sebagai penanda datangnya musim kemarau dikarenakan hanya muncul ketika musim hujan telah berakhir dan musim kemarau yakni sekitar bulan April dan Mei (Trubus, 2010).

Garengpung memiliki klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Arthopoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Family : Cicadidea
Genus : Dundubia
Spesies : Dundubia manifera

Menurut Endang (2012) sebelum dewasa, Garengpung hidup di dalam tanah dan menghisap nutrisi dari akar pepohonan sebagai sumber makanan. Ketika dewasa, Garengpung hidup dengan hinggap di batang pohon. Garengpung jantan mengeluarkan suara guna menarik lawan jenisnya. Setelah melakukan proses fertilisasi, betina akan bertelur di celah daun. Jumlahnya mencapai ratusan telur. Kemudian telur akan menetas dan garengpung muda akan masuk kembali ke dalam tanah. Garengpung memiliki panjang tubuh sekitar 4 cm dan selebar ibu jari orang dewasa. Suara Garengpung menghasilkan gelombang suara yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber suara teknologi sonic bloom. Suara yang dihasilkan Garengpung menghasilkan gelombang yang mampu mengganggu turgiditas sel sehingga sel menyerap banyak air dan menyebabkan stomata membesar dan terbukanya celah stomata lebih maksimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *