Teknik Budidaya Tanaman Stroberi

Teknik Budidaya Tanaman Stroberi

Teknik Budidaya di Lapangan

Budidaya stroberi di lapangan dapat dilakukan di kebun maupun sawah. Budidaya di lapangan diawali dengan penyiapan dan pengolahan untuk mengkondisikan tanah menjadi gembur, subur, berhumus, memiliki drainase yang baik serta pH yang ideal. Tanah diolah dengan cara dibajak dan dibalik kemudian kering anginkan selama 2-3 minggu agar residu tanaman, materi organik tanah dan nutrisi tanah menjadi lebih merata. Tanah kemudian digaru dan dibuat bedengan dengan lebar 80 x 120 cm, tinggi 30-40 cm, dan jarak antar bedengan 50-60 cm. Pembuatan parit keliling perlu dilakukan untuk mengatur drainase supaya ketika hujan air tidak tergenang (Livy, 1996).

Pemupukan merupakan langkah penting dalam budidaya stroberi . pemupukan yang umum dilakukan adalah dengan 200 kg/ha urea , 250 kg/ha SP-36 dan 100 kg/ha KCl. Stroberi adalah adalah tanaman yang buahnya dikonsumsi dalam bentuk segar, oleh karena itu kecendrungan budidaya yang berkembang adalah budidaya secara organik. Pada budidaya secara organik pupuk kandang merupakan sumber utama nutrisi sehingga diberikan dalam jumlah yang cukup banyak. Pupuk kandang diberikan dengan dosisi 23 ton/ha. Selain pemupukan, pengukuran pH tanah perlu dilakukan untuk mengetahui apakah pH dalam keadaan basa maupun asam. Apabila pH tanah asam maka dilakukan pengapuran untuk menetralkan pH tanah. Bedengan perlu diari terlebih dahulu setelah dilakukan pempupukan dasar dan pemasangan mulsa. Mulsa plastik dipasang pada saat udara panas dan plastik sedang memuai, warna hitam pada plastik menghadap ketanah, sedangkan bagian yang berwarna perak menghadap keatas (Budiman, 2006).

Penanaman stroberi dilakukan setelah bedengan siap. Lubang tanam dibuat satu minggu sebelum penanaman bibit. Lubang tanam dibuat dengan jarak 40 x 30 cm, 50 x 50 cm atau 50 x 40 cm tergantung varietas tanaman. Sebelum ditanam sebaiknya dilakukan seleksi bibit terlebih dahulu agar tanaman tumbuh seragam, subur, tegak dan sehat. Bibit ditanam, dan bagian perakaran dipadatkan kemudian tanaman disiram. Pemeliharaan tanaman yang dilakukan adalah penyulaman tanaman yang mati dengan tanaman yang baru, pemangkasan, penyiraman dan pengendalian OPT. Penyiangan dilakukan pada tanaman stroberi tanpa ataupun dengan mulsa. Pada saat penyiangan, mulsa yang berada diantara barisan/bedengan dicabut atau dibenamkan ke dalam tanah. Waktu penyiangan tergantung dari pertumbuhan gulma. Gulma merupakan tumbuhan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan kesehatan tanaman (Rukmana, 1998).

Pemangkasan dilakukan terhadap tanaman yang daunnya terlalu rimbun atau terkena penyakit. Pemangkasan dilakukan secara teratur untuk mengarahkan pertumbuhan ke produksi (Aswita, 2007). Pengairan dan penyiraman dilakukan apabila tanah kering. Pengairan bisa dilakukan dengan penyiraman tau menjenuhi parit antar bedengan dengan air. Pemberatasan hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara manual atau menggunakan pestisida. Beberapa hama yang menyerang tanaman stroberi yaitu seperti kutu daun, tungau, kumbang penggerek, kutu putih, nematode dan kutu putih. Adapula penyakit yang menyerang tanaman stroberi yaitu seperti kapang kelabu, busuk buah matang, busuk rizopus, empulur merah, embun tepung, daun gosong, dan bercak daun (Balijestro, 2014).

Tanaman asal stolon dan anakan mulai berbunga ketika umur 2 bulan setelah tanam. Bunga pertama sebaiknya dibuang agar buahnya memiliki kualitas yang bagus, seperti bentuk/fisik yang lebih besar . Setelah tanaman berumur 4 bulan, bunga dibiarkan tumbuh menjadi buah. Buah dapat dipanen setelah berumur 2 minggu sejak pembungaan atau 10 hari setelah awal pembentukan buah. Buah yang siap panen ditandai dengan warna kulit buah yang didominasi warna merah: hijau kemerahan hingga kuning kemerahan, serta buah sudah agak kenyal dan agak empuk. Dalam satu tanaman buah yang dapat berproduksi atau dipanen yaitu 1-2 buah (Rukmana, 1998).

Teknik Budidaya di Pekarangan

Budidaya tanaman stroberi tidak harus di lakukan dilapangan,seperti sawah maupun kebun yang luas. Lahan yang terbatas, seperti pekarangan juga dapat dimanfaaatkan sebagai tempat budidaya stroberi. Budidaya stroberi di pekarangan dapat menggunakan wadah seperti polibag maupun pot. Salah satu faktor penting dalam penyediaan dan pemilihan pot adalah ukurannya yang sesuai dengan ukuran tanaman stroberi. Wadah yang digunakan harus dapat menampung media tanah yang cukup agar perakaran stroberi tumbuh dengan leluasa (Rukmana, 1998).

Media tanam yang digunakan adalah, campuran tanah : pasir : humus (1 : 1 : 1), campuran tanah : arang sekam : pupuk kandang (1 : 1 : 1) karena dapat meningkatkan daya simpan air dan kation-kation tanah semakin meningkat serta mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (Nusyamsi, 1997).

Media tanam dicampur merata dan diisi kewadah yang telah dipersiapkan. Seleksi bibit dilakukan untuk memperoleh tanaman yang tumbuh dengan sehat dan baik. Bibit stroberi beserta tanahnya dikeluarkan lalu ditanam ke dalam polibag/pot yang telah dibuatkan lubang tanam. Pada saat penanaman, posisi bibit stroberi harus diatur agar tanaman tegak dan posisinya sesuai dengan bibir pot. Pot atau polibag diatur dengan jarak antara tanaman yaitu 40 x 40 cm atau 40 x 50 cm. setelah penanaman, dilakukan penyiraman secara perlahan-lahan agar media tanam memadat dan tanaman segar kembali. Pemeliharaan tanaman stroberi yang dibudidayakan di pot/polibag tidak jauh berbeda dengan tanaman yang dibudidayakan di lapangan. Tanaman perlu dipangkas, disiangi, disiram secara teratur serta dilakukan pemupukan susulan dan pengedalian hama dan penyakit (Edy, 1989).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.