Penularan Cucumber Mosaic Virus (CMV) Pada Tumbuhan

Penularan Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada Tumbuhan

Virus sebagai penyebab penyakit tumbuhan, cara penularan dari tanaman ke tanaman bersifat pasif. Artinya virus hanya menular mengikuti kondisi inang dan lingkungan, salah satunya yakni virus CMV. Virus CMV dapat menular melalui tiga cara yakni secara mekanis, vektor, dan benih. Menurut Bos (1990) persyaratan untuk penularan adalah terjadinya secara bersama-sama perlukaan kecil dan hadirnya partikel virus yang infektif di tempat yang kecil pada sel inang yang mudah terinfeksi. Virus masuk ke dalam sel tanaman melalui berbagai cara yaitu secara mekanis melalui luka, dengan bantuan vektor atau melalui biji dan pollen. Infeksi akan terjadi apabila virus dapat memperbanyak diri di dalam sel inang.

Cucumber Mosaic Virus (CMV) Menular Secara Mekanis

CMV dapat menular ke tanaman inang secara mekanis, yaitu melalui kontak tanaman dengan cairan perasan. Penularan dapat terjadi berupa gesekan antar tanaman yakni tanaman yang terserang CMV dan sehat.

Menurut semangun (2000), virus mosaik mentimun dapat ditularkan secara mekanik dengan gesekan, maupun oleh Aphid sp. Gesekan tersebut harus bersifat abrasif, artinya gesekan tersebut harus menimbulkan luka atau patahnya trichoma (bulu daun), sehingga tanaman sakit mengeluarkan cairan perasan ke tanaman sehat. Penularan secara mekanis sering digunakan dalam metode penelitian karena lebih efisien waktu.

Menurut semangun (2000), infeksi virus pada permukaan daun terutama terjadi pada sel-sel epidermal. Untuk mendapatkan cairan perasan (SAP) tanaman sakit dilakukan pelumatan bagian tanaman yang sakit dengan menggunakan alat penumbuk.

Walker (1957) mengemukakan bahwa penularan virus secara mekanik dapat dilakukan dengan mengambil bagian tanaman yang mengandung virus dari daun, batang, atau akar tanaman. Bagian tanaman yang terinfeksi dan mengandung virus disebut inokulum. Bagian tanaman yang terinfeksi virus ditumbuk dengan mortar dan cairan dari tumbukan tersebut diinokulasikan ke tanaman sehat.

Menurut Abadi (2003) inokulum dibagi menjadi dua, yaitu inokulum primer dan inokulum sekunder. Inokulum primer yaitu inokulum yang menginfeksi setelah bertahan dalam keadaan tanpa tumbuhan inang. Inokulum sekunder merupakan perbanyakan dari infeksi primer. Pecahnya sel tumbuhan dapat membantu keluarnya virus dari sel ke cairan perasan. Penambahan larutan penyangga (buffer) fosfat sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan virus dalam cairan perasan, khususnya terhadap pengaruh keasaman larutan yang dapat mempengaruhi persistensi virus dalam cairan perasan.

Menurut Hadiastono (2010), terdapat beberapa virus yang dapat mengalami kemunduran sifat aktifasi (inaktif) apabila terjadi perubahan keasaman yang cukup drastis, perubahan sifat keasaman cairan perasan berpengaruh terhadap inaktifasi virus dalam cairan perasan (SAP). Beberapa tanaman indikator yang diinokulasi CMV secara mekanis menunjukkan gejala sistemik adalah Gomphrena globosa, N. benthamiana, N. glutinosa, N. occidentalis, N. rustica, N. tabacum cv.DR-1 (Harrison Special), N. tabacum Samsun NN, N. tabacum White Burley, N. xanthi, Cucumis melo, C. sativus, Pisum sativum, Capsicum annuum, Solanum lycopersicum, Lycopersicum esculentum, Petunia hybrida, Chenopodium album, C. amaranticolor, C. quinoa, Cucurbita pepo, Datura stramonium, D. inoxia, Glycine max, Solanum melongena, Vigna mungo and Solanum nigrum (Samad, 2008).

Cucumber Mosaic Virus (CMV) Menular Melalui Vektor

Serangga dengan tipe mulut menusuk-menghisap merupakan serangga yang mudah menjadi vektor virus. Sedangkan serangga dengan tipe mulut yang lain, pada umumnya sedikit yang menjadi vektor virus. Infeksi pada tanaman tergantung pada terjadinya perkembangan atau multiplikasi, serta penyebaran virus didalam sel inang tanaman karena infeksi tidak akan terjadi jika virus tidak dapat bermultiplikasi dalam sel tanaman (Hadiastono, 2010).

Aphid merupakan serangga yang memiliki tipe mulut menusuk-menghisap, sehingga Aphid sering menjadi vektor virus pada tanaman hortikultura. Proses penularan virus oleh kutu putih dibagi beberapa periode, yaitu periode sebelum akuisisi (preliminary fasting), akuisisi, posakuisisi dan inokulasi.

Kesempatan kutu putih untuk mengambil virus (akuisisi) dari tanaman tergantung pada ketersediaan virus dalam jaringan tanaman, lamanya inokulasi dan periode laten pada tanaman serta banyaknya kutu yang infektif yang digunakan dapat menentukan keberhasilan penularan (Rovainen,1980 dalam Balfas, 2009).

CMV dapat disebarkan melalui vektor serangga yaitu melalui Aphid. Lebih dari 60 spesies Aphid dapat menularkan CMV. Beberapa spesies Aphid yang sering menularkan CMV yaitu Myzus persicae, Aphis craccivora, Rhopalosiphum padi, Lipaphis erysime, Aphis gossypii (Jones, 2010).

Menurut Ferreira et al. (1992), Aphid yang menyebarkan virus CMV bersifat nonpersistent yakni fase akuisisi CMV diperoleh dalam 5-10 detik dan dapat ditularkan dalam waktu kurang dari 1 menit, kemudian akan terjadi penurunan infektif setelah sekitar 2 menit dan biasanya hilang dalam waktu 2 jam. Beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi penularan oleh A. gossypii adalah temperatur, jenis tanaman inang sebagai sumber inokulum, lamanya tanaman sakit setelah inokulasi, konsentrasi CMV dalam daun (Perry, 2001 dalam Balfas, 2009).

Cucumber Mosaic Virus (CMV) Menular Melalui Benih

CMV merupakan virus yang bersifat sistemik, sehingga kemampuan untuk menginfeksi tanaman sampai ke buah dan biji sangat mungkin terjadi. Infeksi akan terjadi apabila virus dapat memperbanyak diri di dalam sel inang. Bagian yang aktif dari virus adalah asam nukleatnya, oleh karena itu agar dapat terjadi infeksi maka asam nukleat harus lepas dari protein pembungkusnya. Namun menurut Hadiastono (2010), hanya beberapa persen saja dari biji-biji yang dihasilkan oleh tiap individu tanaman sakit dapat terinfeksi dan menularkan tanaman virus (1-30%). Perbedaan besarnya persentase keberhasilan penularan virus melalui biji kemungkinan dipengaruhi juga oleh tingkat umur tanaman saat terjadinya infeksi. Dalam beberapa hal telah diketahui bahwa virus masuk kedalam biji melalui polen (benangsari) yang membuahi bunga betina. Hadiastono (2010) mengemukakan penyerbukan tanaman melalui polen yang terinfeksi dapat mempengaruhi buah-buah yang terbentuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.