Penyakit Tanaman Stroberi

Penyakit Tanaman Stroberi

Penyakit Pada Buah

Kapang Kelabu (Botrytis cinerea)

a. Biologi

Konidiofor muncul tidak teratur tanpa pembengkakan basal mempunyai panjang 750 µm hingga lebih dari 2 mm, mempunyai lebar 16 – 30 µm, pada bagian basis berwarna cokelat, berdinding halus dan pada bagian apical terdapat percabangan konidia berbentuk abovoid, berwarna cokelat pucat, berdinding halus dan berukuran (8 – 16) x (6 – 9) µm. Pembentukan konidia umumnya terjadi pada pembengkakan dari ujung percabangan konidiofor (Gandjar dkk, 1999).

b. Gejala Penyakit

Sasaran bagian tanaman ini adalah bagian atas tanaman. Bagian yang terserang akan menunjukkan noda cokelat yang kemudian tertutup oleh lapisan yang agak tebal berwarna abu-abu kecokelatan. Bagian tanaman yang paling banyak terserang adalah buahnya, baik buah muda maupun buah yang sudah masak (Gunawan, 2003). Pada buah yang setengah berkembang pembusukan dapat dimulai dari kelopak yang terinfeksi (Semangun, 2003). Buah yang sudah membusuk dan berwarna coklat akan mengering (Anonimus, 2005).

c. Daur Hidup

Organisme ini muncul pada musim dingin yang berkepanjangan miselia hidup pada bahan tanaman yang busuk. Sklerotia keras, bentuknya pendek dan gemuk. Miselium terlepas dari jamur dan akan berkecambah pada musim dingin dan berkembang lagi. Pertumbuhan jamur yang baru akan menghasilkan konidiofor. Konidiofor bercabang tiga dan langsung berhubungan dengan konidia atau spora. Konidia dewasa memisah dan terbawa oleh angin atau percikan air dan pada kondisi yang baik patogen ini akan menemukan dan membunuh inang yang baru. Dalam banyak kasus konidia masuk ke tanaman yang rusak atau jaringan yang rentan. Spora yang turun menghasilkan mycelium baru yang akan menyerang jaringan, menyebabkan gagal dan hancurnya sel, melunakkan jaringan dan akhirnya busuk (Anonimus, 2007b ).

Busuk rizopus (Rhizopus stolonifer)

a. Biologi

Sporangiofor memiliki panjang 1,5 – 3 µm, dapat tunggal atau berkelompok 2 – 7 (umumnya 3 – 4), muncul dari stolon yang tidak berwarna hingga berwarna cokelat gelap, berdinding halus atau agak kasar, dan berlawanan arah dengan percabangan rhizoid. Sporangia berbentuk bulat hingga oval berdiameter 150 – 360 µm, dan berwarna cokelat kehitaman saat matang. Kolumela berbentuk bulat, oval dan berdiameter 70 – 160 µm. Sporangiospora berbentuk tidak teratur, seringkali polygonal atau avoid, bulat, elips dan memiliki garis pada permukaannya dan berukuran 7 – 15 x 6 – 8 µm. Klamidospora tidak terbentuk pada stolon, kadang-kadang dapat ditemukan pada hifa yang lebat pada medium (submerged) (Gandjar dkk, 1999).

b. Gejala Penyakit

1. buah busuk, berair, berwarna coklat muda dan bila ditekan akan mengeluarkan cairan keruh.
2. ditempat penyimpanan, buah yang terinfeksi akan tertutup miselium jamur berwarna putih dan spora hitam. (Anonimus, 2005).

Jamur ini dilaporkan berasal dari Pakistan dan India. Jamur ini cepat berkembang dan menghasilkan biakan berwarna abu-abu sampai hitam apabila disporulasi. Hifa menghasilkan enzim pectinolytic yang merusak lamella tengah, menginfeksi jaringan dan menjadikannya lunak, busuk berair (Nishijima, 1993).

c. Daur Hidup

Spora dari rhizopus menyebar dengan bantuan udara dan dapat dijumpai pada buah dan di penyimpanan karena patogen ini tidak dapat melakukan penetrasi pada tanaman sehat, tanpa mengalami pelukaan pada permukaan buah. Patogen ini hanya dapat masuk melalui luka yang terjadi pada waktu pemanenan, transportasi, perawatan hasil panen, dan pemeliharaan tanaman (Nishijima, 1993).

Penyakit Akar

Empulur Merah (Phytophthora fragariae Hickman)

a. Biologi

Oogonia dewasa biasanya berwarna cokelat keemasan dengan diameter 28 – 46 µm dan berisi oospora tunggal yang diameternya 22 – 44 µm. Bentuknya spherical tetapi ada yang berbentuk tong. Tidak memiliki papillia, sporangia

b. Gejala Penyakit

Jamur menyerang akar sehingga tanaman tumbuh kerdil, daun tidak segar, kadang-kadang layu terutama siang hari (Anonimus, 2005). Tanaman layu dan mati karena kekurangan air dan makanan akibat dari rusaknya jaringan xylem dan floem. Daun tanaman yang layu masih menunjukkan warna hijau (Gunawan, 2003). Penyakit ini adalah penyakit yang serius pada stroberi yang sering terjadi pada musim dingin dan musim semi. Jamur ini hanya menyerang tanaman stroberi, penyebarannya dari satu areal ke areal yang lain dan menyebabkan penyakit pada tanaman. Pada akar tanaman yang sakit bagian tengah atau pusat berwarna coklat merah (Phylley, 1995).

c. Daur Hidup

Jamur dapat bertahan selama beberapa tahun di tanah sebagai oospora yang resisten. Hasil penelitian memuat fakta bahwa jamur dapat bertahan selama 4 tahun dan dari hasil laporan jamur ini dapat bertahan selama 13 – 15 tahun dilapangan setelah pemanenan stroberi. Tidak ada yang diketahui inang dari patogen ini selain stroberi. Perkembangan oospora untuk membentuk satu atau beberapa sporangia temperatur yang optimum adalah 10 – 15 derajat selius tetapi pertumbuhan sporangia terjadi pada 20 derajat selsius dan pertumbuhannya akan lambat pada suhu 5 derajat selsius. Sporangia melepaskan zoospora dan membentuk kecambah yang akan melakukan penetrasi pada akar. Jamur masuk melintasi korteks bagian dalam dan masuk pada stele batang, intinya yaitu zoospora ini akan berkolonisasi pada perisikel dan pada floem. Pertumbuhan terutama dipusatkan di stele, dengan demikian jamur berkembang di dalamnya tetapi hifa tumbuh diluar akar untuk membentuk sporangia yang baru yang akan melepaskan lebih banyak lagi zoospora dan menimbulkan infeksi baru pada akar tumbuhan yang lain (Anonimus, 2003).

Penyakit Pada Daun

Daun Gosong (Diplocarpon earliana atau Marssonina fragariae)

a. Biologi

Aservulus terletak sub-epidermal dan berwarna pucat. Konidia bersel 2, oval sampai memanjang (Streets, 1980).

b. Gejala Penyakit

Daun memeliki bercak bulat telur sampai bersudut tidak teratur, berwarna ungu tua (Anonimus, 2005). Gejala pada daun berupa becak atau luka yang memiliki 2 bentuk yaitu dengan luka yang besar atau kecil tetapi banyak dan luka seperti bisul. Luka berwarna kemerahan sampai ungu tipis, menyatu dan menjadikan tanaman kelihatan hangus atau terbakar. Luka ini tampak banyak dan tidak teratur, berwarna keunguan sampai coklat, diameternya 1 – 5 mm, berkembang pada permukaan daun. Pusat becak menjadi abu-abu seperti becak Mycosphaerella fragariae becak berupa jerawat (bisul) berubah menjadi keunguan sampai merah terang. Perkembangan penyakit yaitu perubahan daun menjadi coklat, pengeringan dan menaiknya tepi daun, penyakit ini sering dikatakan penyakit terbakar atau gosong (Heidenreich and Turechek, 2001a ).

c. Daur Hidup

Dalam suasana lembab patogen membentuk banyak konidium pada becak daun, maupun sisa-sisa tanaman sakit. Infeksi terjadi melalui mulut kulit (Semangun, 2003). Penyakit ini dapat meningkat sepanjang tahun tetapi pada kondisi kering dan suhu diatas 35 derajat selsius dan dibawah titik beku mengurangi tingkat penyakit. Gejala tampak dengan cepat pada daun dan cepat berkembang pada musim semi. Infeksi oleh askospora, aservulus dapat tetap istirahat dalam periode yang lama pada suhu dingin (Phylley, 1995).

Bercak Daun Mycosphaerella fragariae

a. Biologi

Konidiofor berkelompok pada stomata hialin atau berwarna gelap. Konidia hialin, pada umumnya bersel 2 berbentuk tabung (cylindrical), dan kadang-kadang berada dalam rangkaian yang pendek (Streets, 1980).

b. Gejala Penyakit

Bercak kecil ungu tua pada daun, pusat bercak berwarna coklat yang akan berubah menjadi putih (Anonimus, 2005). Sisi bawah tulang daun yang bersinggungan dengan bercak berwarna ungu kemerahan. Seluruh daun dapat mati. Infeksi dapat terjadi pada tangkai daun, tangkai buah dan buah (Semangun, 2003)

c. Daur Hidup

Perithesia dan sklerotia keluar, spora (konidia) menghasilkan fruiting bodi yang kecil dan gelap pada bagian daun yang luka, dan menjadi sumber inokulum. Konidia menempel pada permukaan daun dan menghasilkan tabung kecambah yang terus melakukan penetrasi melalui lubang alami daun (stomata). Konidia yang baru menghasilkan kelompok konidifor yang tumbuh pada stomata. Konidia ini dibawa oleh percikan air hujan ke daun baru, konidia menghasilkan pada daun muda dan waktu yang diperlukan adalah 12 – 96 jam (Heindenreich and Turechek, 2001b ).

Busuk Daun (Phomopsis obscurans).

a. Biologi

Ada 2 tipe konidia yaitu bulat telur sampai berbentuk seperti kelos (fusoid), ramping dan melengkung (stylospora). Piknidia terletak tidak terlalu dalam pada jaringan (Streets, 1980).

b. Gejala Penyakit

Penyakit daun ini dimulai dengan 1 sampai 6 noda bulat (Gunawan, 2003). Noda bulat berwarna abu-abu dikelilingi warna merah ungu, kemudian noda membentuk luka mirip huruf V (Anonimus, 2005). Phomopsis obscurans menyerang daun, petiole, stolon, buah, tangkai buah. Gejala pada daun berupa bercak ungu diatas permukaan daun. Satu sampai enam bercak dapat terjadi pada daun. Luka terjadi dekat lapisan utama yang berbentuk bulat panjang. Becak ini memiliki 3 perubahan warna yaitu merah, ungu atau pinggirnya kekuningan dan yang berikutnya adalah coklat terang dengan pusat becak coklat tua. Piknidia berkembang di pusat luka dan kelihatan tersebar berupa titik hitam yang kecil (Partridge, 2003)

c. Daur Hidup

Jamur ini dapat bertahan setelah musim dingin dengan terlebih dahulu menginfeksi bagian dari tanaman. Jamur ini menghasilkan piknidia di dalam jaringan yang telah lama terserang. Setiap piknidia mengandung ribuan spora (konidia) yang terlempar keluar pada keadaan lembab dan disebarkan pada bagian musim semi konidia ini menginfeksi daun atau bagian tanaman yang lain dan menyebabkan infeksi baru. Air yang ada pada permukaan tanaman adalah termasuk tempat konidia untuk berkembang biak dan menginfeksi tanaman (Ellis and Nita, 2002).

Bercak daun (Rhizoctonia solani)

a. Biologi

Dalam biakan murni miselium muda tidak berwarna, yang tua berwarna cokelat. Pada waktu masih muda percabangan hifa membentuk sudut runcing dan di dekat sambungan terdapat lekukan. Setelah tua percabangan membentuk sudut siku-siku terbagi menjadi sel-sel pendek, jorong, dan dapat membentuk sklerotium berwarna cokelat (Semangun, 2003).

b. Gejala Penyakit

Penyakit bercak daun rhizoctonia dapat dilihat dengan gejala adanya bercak pada daun berwarna coklat kehitaman yang besar (Anonimus, 2005).

c. Daur Hidup

Rhizoctonia solani dapat mempertahankan diri dari musim ke musim di dalam tanah atau sebagai sklerotium. Patogen ini berkembang dalam tanah dengan pH 5.8 – 8.1 dan suhu tanah 15 – 18 derajat selsius. Pada suhu 21 – 24 derajat selsius penyakit tidak merugikan (Semangun, 2003).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.