Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Penyakit Antraknosa Pada Cabai

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Penyakit Antraknosa Pada Cabai

Antraknosa adalah penyakit terpenting yang menyerang cabai di Indonesia. Penyakit ini distimulir oleh kondisi lembab dan suhu relatif tinggi. Penyakit antraknosa dapat menyebabkan kerusakan sejak dari persemaian sampai sampai tanaman cabai berbuah, dan merupakan masalah utama pada buah masak, serta berakibat serius terhadap penurunan hasil dan penyebaran penyakit (Syamsuddin, 2007).

Penyakit kurang terdapat pada musim kemarau, di lahan yang mempunyai drainase baik, dan gulmanya terkendali dengan baik. Perkembangan becak dari kedua penyakit tersebut paling baik terjadi pada suhu 30 derajat selsius, sedang sporulasi jamur G. piperatum pada suhu 23 derajat selsius dan C. capsici pada suhu 30 derajat selsius. Buah yang muda cenderung lebih rentan dari pada yang setengah masak. Tetapi perkembangan becak karena C. capsici lebih cepat terjadi pada buah yang lebih tua, meskipun buah muda lebih cepat gugur karena infeksi ini (Semangun, 2004).

Serangan penyakit antraknosa pada buah masak lebih parah dibandingkan dengan buah yang belum masak (masih hijau). Buah cabai yang masak, selain mengandung glukosa dan sukrosa, juga mengandung fruktosa, sedangkan buah yang hijau hanya mengandung sukrosa dan glukosa. Dengan demikian, diduga fruktosa merupakan jenis gula mempunyai korelasi dengan penyakit antraknosa, sehingga fruktosa dalam buah dapat dijadikan karakter seleksi ketahanan tanaman cabai terhadap serangan antraknosa (Tenaya, 2001).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.