Tumbuhan Mahoni Sebagai Pestisida Nabati

Tumbuhan Mahoni Sebagai Pestisida Nabati

Mahoni (Swietenia sp.)

Indonesia sangat kaya akan jenis tanaman, termasuk tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan insektisida botani, salah satunya adalah tanaman Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq). Biji Mahoni mengandung senyawa flavonoid dan saponin yang berfungsi sebagai larvasida. Senyawa-senyawa itu juga mampu menghambat pertumbuhan larva, terutama tiga hormon utama dalam serangga, yait hormon otak (brain hormon), hormon edikson, dan hormon pertumbuhan (juvenil hormon). Tidak berkembangnya hormon tersebut dapat mencegah pergerakan larva (Karimah, 2006).

Selain kayunya, buah mahoni juga mengandung senyawa yang mirip dengan BHC (Butane Hexane Chlor) sebesar 0,005 ppm. Senyawa BHC atau nama barunya HCH (Hexa Chlorosiclo Hexana) merupakan insektisida organoklorida yang bersifat racun perut dan racun pernapasan (Ahmed, dkk. 2009).

Pembuatan insektisida dari biji Mahoni dengan jalan merendam 150 g biji mahoni dalam 1 liter air selama 24 jam. Insektisida nabati ini dapat digunakan untuk mengendalikan ulat kupu kuning (Agrotis ipsilon) dan ulat kantong (Mahasena corbetti, Metisa plana) yang banyak menyerang persemaian dan tanaman muda sengon (Litbangtan, 2007).

Senyawa dan bahan aktif yang terdapat pada tumbuhan yaitu glikosida flavonoid dengan aglikon queresetin, thymodidrokinon, nematisida dan kumarin serta senyawa BHC atau nama barunya HCH (Hexa Chlorosiclo Hexana) yang bersifat racun perut semakin banyak terdapat pada tubuh serangga maka dapat menghambat pertumbuhan dan menyebabkan kematian serangga lebih banyak (Nandini, 1989 dalam Sastrodiharjo, 1990).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.