Beauveria bassiana Balsamo

Beauveria bassiana Balsamo

Menurut Barnett (1960) cendawan B. bassiana dapat diklasifikan sebagai berikut :

Divisio : Amastigomycota
Sub divisio : Deutromycotina
Kelas : Deutromycetes
Ordo :Moniliales
Family : Moniliaciae
Genus : Beauveria
Spesies : Beauveria bassiana Balsamo

B. bassiana adalah cendawan entomopatogen yang terbukti memiliki daya bunuh tinggi terhadap serangga hama terutama ordo Lepidoptera, Hemiptera dan Coleoptera. Pertumbuhan dalam media berbentuk koloni putih seperti kapas, konidiofor yang fertile bercabang-cabang secara zig-zag dan pada bagian ujungnya terbentuk konidia. Konidia bersel satu berbentuk bulat sampai oval, hialin, berukuran 2-3 mikron (Haryono et al., 1993).

B. bassiana mengadakan penetrasi ke dalam tubuh serangga melalui kulit luar di antara ruas-ruas. Mekanisme penetrasi dimulai dengan pertumbuhan konidia pada kutikula serangga dan mebentuk apresoria yang akhirnya membentuk hifa. Selanjutnya hifa cendawan tersebut mengeluarkan enzim kitinase, lipase, dan proteinase yang mampu menguraikan komponen menyusun kutikula serangga. Di samping itu cendawan ini juga memproduksi racun beauvericin (Barnet and Hunter, 1972 dalam Kusnadi dan Sanjaya, 2003) yang dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan maupun organ haemocoel serangga seperti saluran pencernaan, otot, sistem syaraf, dan system pernafasan. Akibat dari keseluruhan system di atas maka akan berakhir dengan kematian serangga (Haryono, et al., 1993). Tanda dan gejala hama yang terinfeksi cendawan B. bassiana ditunjukkan dengan adanya perubahan perilaku seperti kehilangan nafsu makan, tubuh memucat dan mengeras selanjutnya seluruh permukaan tubuh penuh dengan miselia dan spora cendawan yang berwarna putih (Steinhaus, 1949).

B. bassiana telah digunakan secara rutin dan meluas untuk mengendalikan berbagai jenis hama pada tanaman (Sudarmaji, 1994). Cendawan B. bassiana banyak digunakan untuk mengendalikan hama bubuk buah kopi hypotenomus hampei, penggerek dan penghisap buah kakao Helopeltis, hama kelapa sawit, dan akhir-akhir ini cendawan B. bassiana juga digunakan dalam mengendalikan hama wereng (Suharto et al., 1998) dan hama utama kubis Plutella xylostella di Malaysia (Ibrahim and Law, 1993 dalam Suharto et al., 2003).

B. bassiana sebagai salah satu agen pengendali hayati memiliki banyak keunggulan di antaranya aman bagi lingkungan, biaya dalam aplikasi rendah juga mudah diperbanyak dengan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *