Prinsip Hukum Alam Di Dalam Agama Khonghucu

Prinsip Hukum Alam Di Dalam Agama Khonghucu

Hukum Alam tidak menawarkan imbalan bersyarat untuk perilaku baik atau buruk, ia selalu mendukung setiap perilaku, tidak peduli apapun akibat yang terjadi. Ia selalu netral terhadap penilaian, seperti air yang menyegarkan semua benda yang ada tanpa membeda-bedakan.

Ia juga tidak pernah memilih siapapun untuk diutamakan. Hukum Alam tidak menawarkan kompromi untuk semua perilaku, dan ia tidak pernah berubah, karena ia adalah hukum yang mengatur perubahan itu sendiri. “Tidak ada yang tetap, segala sesuatu berubah dan sedang berubah, tetapi hukum yang mengatur perubahan itu tidak berubah.” (Tidak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri).

Prinsip-prinsip hukum alam bersifat universal, seperti halnya hukum gravitasi, begitupun prinsip rasa hormat, kebaikan (murah hati), kejujuran, keiklasan, dan kerja keras, berlaku umum dan dan terus berlaku selamanya.

Prinsip-prinsip itu juga tidak bisa diperdebatkan. Serupa dengan hal itu, maka kita tidak bisa terus percaya, kalau yang kita percaya itu tidak layak untuk dipercaya. Misalkan, kita tidak bisa terus percaya bahwa kita dapat melakukan sesuatu ketika tubuh kita memang secara alamiah sudah tidak lagi mendukung keyakinan kita tentang kemampuan untuk melakukannya.

Penting:

Yang berlaku hormat niscaya tidak terhina, yang lapang hati niscaya mendapat simpati umum, yang dapat dipercaya niscaya mendapat kepercayaan, yang cekatan niscaya berhasil pekerjaannya, yang murah hati niscaya diturut perintahnya. (Lunyu. XVII: 6)

Penting:

Hakikat menjadi manusia adalah mampu mengarahkan kehidupan kita sendiri, dan kemampuan kita memilih arah kehidupan memungkinkan kita menemukan kembali diri kita untuk menjadikan masa depan kita menjadi lebih baik.”

Tubuh kita merupakan sistem alamiah yang diatur oleh hukum alam. Sikap mental positip untuk menyakini bahwa kita tetap mampu tidak akan ada gunanya ketika otot kita sudah berada pada ambang batas kekuatannya.

Bila demikian, manusia harus bertindak dalam cara tertentu, dan tidak bisa benar-benar menghindar darinya. Jika kita tetap melanggarnya (tidak bertindak dengan cara yang sesuai dengam prinsip hukum alam), maka kita akan menanggung akibat sebagai kosekuensi dari tindakkan kita itu.

Semua tindakan memiliki akibat. Suka atau tidak, ketika kita mengangkat satu ujung tongkat, kita juga mengangkat ujung yang lainnya. Ketika kita lompat dari lantai 24 sebuah gedung, kita tak bisa lagi mengatur/memilih akibat dari tindakan kita itu, gravitasi bumilah yang akan mengontrol dan menentukan akibat tindakan kita. Maka tahulah kita, bahwa meskipun manusia bebas memilih tindakkantindakkannya, tetapi menusia tidak dapat bebas menentukan kosekuensi dari tindakkannya itu.

Tiap benda dan wujud diciptakan Tian memiliki hukumnya sendirisendiri, jantung bekerja memompa darah, dan bila jantung berhenti memompa darah dalam tubuh (tidak bekerja sesuai hukumnya), maka akan berakibat kematian pada manusia, apapun penyebabnya, akibatnya tetap sama.

Bumi memiliki gaya tarik (gravitasi), maka tidak perduli siapapun ia (orang baik atau orang jahat), dan apapun yang menjadi penyebabnya, bila ia jatuh dari lantai 24 sebuah gedung, maka ia akan menumbuk tanah. Hal ini menunjukkan kepada kita sebuah hukum penting tentang kehidupan, bahwa setiap wujud memiliki hukumnya sendiri-sendiri.

Tian Yang Maha Esa menetukan kita menjadi manusia dan menganugerahkan manusia watak sejati (xing) yang di dalamnya terkandung benih-benih kebajikan sebagai kemampuan luhur untuk berbuat bajik, ini kehendak Tian atas manusia. Hal ini ditegaskan dalam ayat suci yang terdapat dalam kitab Zhongyong Bab Utama Pasal I: “Firman Tian itulah dinamai Watak Sejati. Berbuat mengikuti Watak Sejati itulah dinamai menempuh Jalan Suci. Bimbingan menempuh Jalan Suci itulah dinamai agama.”

Tian Yang Maha Esa tentu menghendaki manusia untuk taat dan lurus sesuai dengan kodrat yang Firmankan-Nya (Shuntian), namun, manusia bisa menjadi ingkar atau melawan kodrat suci yang di Firmankan Tian itu (Nitian). Maka dinyatakan (tertulis di dalam Kong-gao): ”Firman itu sesunggvuhnya tidak berlaku selamanya. Maka dikatakan, ‘yang berbuat baik akan mendapatkan dan yang berbuat tidak baik akan kehilangan.” (Daxue. X:11)

Sumber : Gunadi Js dan Hartono Js. 2017. Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.