Pengertian Jisi (Sembahyang) Bagi Agama Khonghucu

Pengertian Jisi (Sembahyang) Bagi Agama Khonghucu

1. Pengertian Sembahyang

Sembahyang adalah suatu perbuatan yang menyangkut ritual, yang dilakukan secara sadar-tulus dalam rangka menyampaikan sembah/ sujud dan hormat kepada Tian, dengan aturan-aturan tertentu yang diwajibkan, diatur, dan ditetapkan oleh suatu agama.

Secara harfiah, sembahyang berasal dari bahasa sansekerta, yang terdiri dari kata Sembah dan Hyang. Sembah berarti sujud, hormat atau memuja sesuatu sebagai Hyang, yaitu sesuatu yang dianggap mulia atau dimuliakan. Sembahyang biasanya dilakukan dengan cara menundukkan kepala, membongkokkan badan atau bersimpuh/bersujud. Hyang berarti suatu Dzhat (baca: Zat) Yang Mahatinggi, Yang Mencipta, Mengatur (dengan Hukum-Nya) dan menguasai dunia beserta segala isinya, yaitu Tian.

Manusia dalam hidupnya secara rohaniah terpanggil untuk mengabdi kepada Tian, oleh karena itulah maka secara imani manusia terdorong (ada kecenderungan) untuk mengadakan persembahyangan dengan segala ritualnya untuk mencurahkan rasa pengabdiannya kepada Dia (Tian Yang Mahakuasa).

Persembahyangan biasanya disertai dengan bersuci diri agar persembahyangan itu berkenan kepada Tian. Hal ini sudah ada sama lamanya dengan sejarah kemanusiaan itu sendiri, hanya kemudian karena disesuaikan dengan alam pikiran manusia maka persembahyangan itu pada perkembangannya selalu disertai dengan macam-macam tata cara ditambah dengan pengorbanan dan persembahan sebagai pelengkap dari ungkapan pengabdiannya itu.

Tetapi sayangnya, hal itu terkadang dapat merubah panggilan imani yang awalnya secara murni ke luar dari hati nurani manusia untuk mengadakan persembahyangan berdasarkan kesucian lahir bathin. Hal ini menjadi suatu tradisi pantulan dari pemikiran manusia yang pada akhirnya melupakan pokok dari pengabdian itu sendiri. Sesungguhnya, yang menjadi syarat utama dalam persembahyangan adalah: “Kesucian diri lahir bhatin agar semua dapat berkenan kepada-Nya.”

2. Persiapan Sembahyang

a. Zhai-Jie (Berpantang)

Zhai adalah pantang dalam kaitan dengan makanan, sedangkan Jie adalah pantang dalam kaitan dengan perilaku.

Zhai dalam kaitan berpantang makan ada empat macam, yaitu:

  • Pantang makanan yang berpenyedap, yang menunjukan keprihatinan.
  • Pantang makan makanan yang diolah, yang menunjukan apa adanya (kesederhanaan).
  • Pantang makan makanan yang berjiwa, yang menunjukan kebersihan/kesucian.
  • Pantang makan makanan yang dapat merusak lingkungan. (Pantang-pantangan di atas dapat dilakukan secara berkala dengan tenggang waktu tertentu, sehingga dapat melatih kita dalam mengontrol dan mengendalikan diri). Jie dalam kaitan berpantang perilaku adalah menjaga ucapan dan kelakuan (sikap), seperti:
  • menjaga ucapan: tidak berkata-kata kotor, kasar, mengumpat, mencaci maki, fitnah, dll.
  • menjaga kelakuan (sikap): tidak melanggar kesusilaan, norma-norma kesopanan, bersikap ramah, dan santun.

b. Ming (Bersuci)

Jila zhai itu berhubungan dengan mengendalikan keinginan makan dan Jie mengendalikan perilaku, bersuci itu lebih kepada kesucian hati dan pikiran. Mengendalikan kekalutan pikiran dan keresahan atau semua gejolak rasa yang ada di hati.

c. Shengfu (Berpakaian Lengkap)

Berpakaian lengkap dalam konteks ini berarti menggunakan jubah khusus sembahyang, serta alas kaki (sepatu). Lengkap berarti juga rapi, layak, dan terutama bersih.

d. Muyu (Mandi Keramas)

Mandi keramas terkait dengan kebersihan jasmani yang melengkapi Zhai-Jie, Ming, dan Shengfu.

3. Macam-Macam Sembahyang

Dalam ajaran agama Khonghucu terdapat tiga macam sembahyang, yaitu:

• Sembahyang kepada Tian (Tuhan)
• Sembahyang kepada Di (Alam)
• Sembahyang kepada Ren (Manusia)

a. Sembahyang Kepada Tian

  1. Sembahyang Ci (Sujud dan Prastya). Yaitu sembahyang: Jing Tiangong, dilaksanakan setiap tanggal: 8 malam tanggal 9 bulan 1 Kongzili (Zheng Yue).
  2. Sembahyang Yue (Eling dan Taqwa). Yaitu sembahyang: Duanyang, dilaksanakan setiap Tanggal: 5 – 5 – Kongzili (Wuyue Chuwu).
  3. Sembahyang Chang (Doa dan Asa). Yaitu sembahyang: Zhongqiu, dilaksanakan setiap tanggal: 15 – 8 – Kongzili (Bayue Shiwu), dikenal juga sebagai saat puncak musim panen atau panen raya, maka saat itu juga dilaksanakan penghormatan kepada malaikat bumi (Fude Zhengshen).
  4. Sembahyang Zheng (Syukur dan Harapan). Yaitu sembahyang: Dongzhi, dilaksanakan setiap tanggal: 21 atau 22 Desember (Penanggalan Yangli atau kalender Masehi). Saat matahari di titik balik 23,5 derajat Lintang Selatan.

b. Sembahyang Kepada Alam

1) Sembahyang Shangyuan

Dikenal dengan sembahyang awal tanam, yaitu sembahyang Yuanxiao (Cap Go Me), dilaksanakan setiap tanggal: 15-1- Kongzili.

2) Sembahyang Zhongyuan

Zhongyuan adalah sembahyang atas berkah bumi yang dikaitkan dengan leluhur dan arwah umum, yaitu sembahyang Jing Heping. Zhongyuan dikenal juga dengan sembahyang panen raya yang berlanjut sampai ke puncak musin panen yaitu tanggal 15 bulan 8 Kongzili bersamaan dengan sembahyang Zhongqiu (sembahyang Zhang yang dikaitkan dengan malaikat Fude Zhengshen). Sebenarnya, antara Zhongyuan (sembahyang atas berkah bumi atau dikenal dengan panen raya) dengan sembahyang Zhongqiu adalah dua hal yang berbeda, hanya waktunya yang bersamaan.

3) Sembahyang Xiayuan

Dilaksanakan setiap tanggal 15 bulan 10 Kongzili, yaitu Sebagai sembahyang panen akhir menjelang musim dingin. Sembahyang ini juga berhubungan dengan Sangyuan yakni Tianyuan/Diyuan/Shuiyuan yang dihubungkan pula dengan pengertian iman yang sangat diwarnai oleh sejarah agama Khonghucu, yakni: Pribudi bajik, Tata Masyarakat, dan Pengelolaan Alam.

c. Sembahyang Kepada Manusia

Sembahyang kepada manusia dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu sembahyang kepada leluhur (Zuzong), kepada nabi (Shengren), dan kepada para suci (Shenming).

1) Sembahyang Kepada Leluhur

a) Qingming

Dikenal dengan sembahyang sadranan/jiarah ke makam, dilaksanakan setiap tanggal: 4 atau 5 April (penanggalan Yangli/ Kalender Masehi).

b) Ershi Shengan

Sembahyang dilaksanakan pada tanggal 24 bulan 12 Kongzili atau Shi Er Yue Er Shi Si, sehingga disebut juga Ershi Shangan. Pada saat sembahyang Ershi Shengan ada spirit bahwa:

“Sembahyang kepada yang telah tiada ingat kepada yang masih hidup.” Karena spririt ini maka pada saat sembahyang Ershi Shengan juga lakukan bakti sosial untuk membantu orang-orang yang kurang mampu. Selanjutnya hari ini juga dikennal dengan nama ‘hari persaudaraan.’

Selain dua sembahyang disebutkan di atas, sembahyang kepada leluhur yang umum dilaksanakan di antaranya:

(1) Zhongyuan dan Jing Heping

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa Zhongyuan adalah sembahyang atas berkah bumi yang dikaitkan dengan leluhur dan arwah umum. Jadi pada saat Zhongyuan juga dilaksanakan sembahyang kepada leluhur tepatnya tanggal 15 bulan 7, dan sembahyag kepada arwah umum (Jing Heping) tanggal 29 bulan 7 Kongzili.

(2) Chuyi dan Shiwu

Sembahyang pada saat Chuyi dan Shiwu adalah saat sembahyang kepada Tian, hanya pada waktu yang sama juga dilaksanakan sembahyang kepada leluhur. Sembahyang dilaksanakan pada petang hari di rumah masing-masing, yakni pada altar leluhur atau di Miao Leluhur (Zumiao). Selain itu juga dilaksanakan sebahyang kepada, Shenming, dan Shengren (nabi).

3) Chuxi

Seperti halnya sembahyang pada saat Chuyi dan Shiwu, sembahyang Chuxi juga termasuk sembahyang kepada Tian yang dilaksanakan pada malam menjelang Tahun Baru (tanggal 29/30 bulan 12 Kongzili), namun pada saat yang sama juga dilaksanakan sembahyang kepada leluhur.

4) Zuji

Zuji adalah sembahyang peringatan hari wafat leluhur, oleh karenanya waktu pelaksanaan sembahyang sesuai dengan hari wafat leluhur masing-masing. Artinya, Zuji adalah sembahyang kepada leluhur yang bersifat khusus.

2) Sembahyang Kepada Nabi

a) Lahir Nabi Kongzi (Zhisheng Dan)

Sembahyang, peringatan dan perayaan yang diselenggarakan baik secara sederhana maupun dengan berbagai kegiatan adalah sangat baik kalau semuanya itu bukan sekadar kegiatan rutin melainkan juga mampu memahami dan menghayati nyala Kebajikan, pesan-pesan suci Beliau selaku Genta Rohani yang membawakan Firman Tian Yang Maha Esa, yang menjadi pembimbing hidup manusia.

b) Wafat Nabi Kongzi (Zhisheng Jichen)

Pada setiap tanggal 18 bulan 2 Kongzili, umat Khonghucu memperingati Hari Wafat Nabi Kongzi. Pelaksanaan upacara seperti halnya dengan upacara Hari Kelahiran Nabi Kongzi), hanya penyelenggaraanya lebih sederhana serta lebih ditekankan pada suasana khidmat. Pada saat upacara sembahyang hari wafat Nabi Kongzi, kita mengenang pribadi Beliau, suri tauladan bagi sikap batin dan penghidupan kita.

3) Sembahyang Kepada Shenming

Selain bersembahyang kepada leluhur, umat Khonghucu melakukan sembahyang kepada para suci (Shengming). Adapun yang menjadi spirit dan landasan sembahyang kepada para Shenming adalah, sebagai berikut:

  • Nabi Kongzi bersabda, “Seorang Junzi memuliakan tiga hal, Memuliakan Firman Tian, Memuliakan Orang-Orang Besar dan memuliakan Sabda Para Nabi.”
  • Berdasarkan peraturan para ‘raja suci’ (Shengwang) tentang upacara sembahyang, sembahyang dilakukan kepada orang yang menegakkan hukum bagi rakyat, kepada orang yang gugur menunaikan tugas kepada orang yang telah berjerih-payah membangun kemantapan dan kejayaan negara kepada orang yang dengan gagah berhasil menghadapi serta mengatasi bencana besar dan kepada yang mampu mencegah terjadinya kejahatan/penyesalan besar.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa ada orang-orang yang karena Kebajikannya (keteladanan semasa hidupnya), membuat masyarakat luas yang merasakan ‘manfaat’ dari kebaikan tersebut. Karena dasar itulah maka orang melakukan ibadah (menghormat/menyatakan syukur) kepadanya. Bahkan karena begitu besarnya penghormatan itu, sampaisampai bermigrasipun dibawa dan mentradisi sampai anak-cucunya dan akhirnya men-dunia. Inilah yang kemudian menjadi Shenming yang kita kenal. Atas dasar iman yang sama, hal ini juga dilakukan oleh umat Khonghucu dimanapun ia berada, termasuk di Indonesia, sehingga juga dikenal Shenming lokal (Indonesia).

4. Peralatan dan Sajian Sembahyang

a. Peralatan Sembahyang

Ziyou bertanya tentang peralatan yang wajib disediakan untuk upacara perkabungan. Nabi bersabda, “Wajib disediakan sesuai kemampuan keluarga.” Ziyou berkata, “bagaimanakah keluarga yang mampu dan tidak mampu dapat melakukan hal yang sama?” Nabi menjawab, yang mampu janganlah melampaui ketentuan kesusilaan, yang tidak mampu cukup sekedar tubuhnya ditutupi dari kepala sampai kaki dan selanjutnya dimakamkan. Peti jenazah cukup diturunkan dengan tali. Dengan demikian siapakah yang akan menyalahkan?” (Liji. II A. III: 17)

Zilu berkata, “Saya mendengar Hu Cu (Nabi Kongzi) bersabda bahwa di dalam upacara berkabung adanya rasa sedih sekalipun kurang di dalam perlengkapan upacara, itu lebih baik daripada memamerkan kesedihan dengan lengkapnya peralatan upacara. Dan di dalam sembahyang, adanya hormat khidmat, itu lebih baik daripada berlebihan peralatan upacara tetapi kurang ada rasa hormat khidmat.” (Liji. II A. II: 27)

b. Makna Simbolis Sajian Sembahyang

Sajian atau persembahan yang dikenal secara awan sebagai sesajen memang tidak bisa dilepaskan dalam sembahyang yang dilakukan umat Khonghucu. Namun demikian, jarang yang memperhatikan makna simbolis dari berbagai sajian dimaksud.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sesajen adalah sajian berupa makanan bunga dan sebagainya yang disajikan untuk roh yang telah meninggal. Sajian dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada yang meninggal, seperti disabdakan Nabi Kongzi, “Semua (sajian) itu untuk menunjukkan puncak rasa hormat. Akan rasanya tidak diutamakan, yang penting ialah semangatnya.”

Hal sajian sembahyang ini sering menjadi perdebatan bahkan pelecehan dari pihak luar. Untuk apa orang yang telah meninggal dunia diberikan sajian (makanan), adakah yang mengerti kalau yang meninggal itu akan makan sajian yang dipersembahkan? Kecaman semacam ini bukan baru sekarang, namu sejak dahulu sudah ada. Nabi Kongzi menyatakan bahwa semua sajian itu hanya untuk menunjukka rasa hormat kepada almarhum. Beliau bersabda, “Adakah ia mengerti, bahwa roh yang meninggal itu akan menikmatinya? Yang berkabung itu hanya terdorong oleh ketulusan dan rasa hormat di dalam hatinya.”

“Orang mati itu tidak makan, tetapi dari jaman yang paling kuno sampai sekarang hal (sajian) itu tidak pernah dialpakan. Maka kecaman terhadap kesusilaan (sajian) itu, sesungguhnya adalah kajian yang tidak susila.

Berikut adalah macam-macam sajian yang umum digunakan oleh umat Khonghucu sebagai persembahan dalam upacara sembahyang baik kepada Tian, kepada Alam, dan kepada manusia (nabi dan leluhur) beserta makna simbolisnya.

c. Buah-Buahan Sajian Sembahyang

• Pisang

Xiangjiao (香 蕉 ) pisang, diidentikan dengan lafal/bunyi Xiangjiu (香 久) artinya Langgeng. Dalam persembahyangan, yang lazim digunakan adalah jenis pisang raja atau pisang mas. Penyajiaan pisang di meja altar biasanya diletakan di sebelah kiri altar.

• Jeruk

Juzi (橘 子) Jeruk, diidentikan dengan lafal/bunyi Jixiang (吉 祥) artinya Kebaikan. Jenis Jeruk yang biasanya digunakan untuk sesajian sembahyang adalah jenis jeruk bali atau jenis jeruk garut atau jeruk siam. Biasanya diletakan di sebelah kanan altar.

• Apel

Pingguo (苹 果) artinya Apel, diidentikan dengan lafal/bunyi Pingan (平 安) artinya Tentram.

• Pear

Liguo (莉 果) Pear, diidentikan dengan lafal/bunyi Liyi (利 益) artinya keberuntungan

• Nanas

Ong Lay bermana kejayaan datang. Sesuai juga dengan bentuk yang menghadap ke atas menandakan kejayaan.

• Semangka

Semangka (Citrullus Vaalgares). Dalam upacara pemberangkatan jenazah, biasanya buah ini dibanting sampai pecah berkeping-keping. Biji semangka yang berjumlah banyak bertebaran itu menunjukkan akan tumbuh sekian banyak pohon semangka yang berasal dari satu buah itu. Artinya, kita harus pandai mengembangkan peninggalan yang kita peroleh dari orang tua.

• Tebu

Tebu tumbuhan berumpun, tidak pernah ada yang tumbuh hanya sebatang. Maknanya ialah agar kita hidup tidak menyendiri. Dalam kehidupan rumah tangga hendaknya hidup harmonis, masing-masing mengenal batas dan pandai mengendalikan diri dan ada rasa kebersamaan.

Air tebu terasa manis, batang tebu beruas-ruas tumbuh lurus dan tidak bercabang. Manis adalah lambang kebajikan dan cinta kasih. Tebu tumbuhnya beruas-ruas diibaratkan manusia yang dalam tumbuh kembangnya sejak bayi hingga mencapai usia tua harus selalu tumbuh pula cinta kasih dan kebajikan.

Sepasang tebu dengan daun dan akarnya diikat di sebelah kanan dan kiri meja altar, hal ini sebagai petanda rasa syukur ke hadirat Tian Yang Maha Esa’

Kue Sajian Sembahyang

• Kue Ku

Guiguo (龜 粿) artinya Kue Ku, diidentikan dengan lafal/bunyi Shou (壽) artinya panjang umur. Bentuknya yang dibuat mirip batok kura-kura yang dipandang sebagai hewan yang usianya panjang, dapat mencapai kurang lebih 2000 tahun. Hidup melata di air dan darat. Kura-kura atau penyu merupakan salah satu dari empat jenis hewan yang suci, tiga hewan suci lainnya adalah Naga (Long), Qilin, dan burung Huang.

Makna sesajian kue Ku dalam persembahyangan merupakan harapandari para leluhur kita agar kita memiliki daya tahan hidup lama di dunia, supaya dapat menyelesaikan kewajiban dengan lebi sempurna.

• Kue Mangkok (Hwat Kue)

Fagao (苹 果) artinya Kue Mangkok, diidentikan dengan lafal/bunyi Fa (發) artinya berkembang Bentuk Kue Mangkok umumnya dianggap baik apabila permukaanya merekah seperti buah delima dan biasanya berwarna merah. Makna dari kue ini ialah agar hidup kita berkembang dan bahagia seperti yang disimbolkan oleh warna merah.

• Kue Wajik (Hwat Kue)

Migao (米 糕) artinya wajik, diidentikan dengan lafal/bunyi He (合) artinya bersatuharmonis.

5. Nama-nama Waktu Sembahyang

1. Zishi antara pukul 23.00 s.d. 01.00
2. Choushi antara pukul 01.00 s.d. 03.00
3. Yinshi antara pukul 03.00 s.d. 05.00
4. Maoshi antara pukul 05.00 s.d. 07.00
5. Chenshi antara pukul 07.00 s.d. 09.00
6. Sishi antara pukul 09.00 s.d. 11.00
7. Wushi antara pukul 11.00 s.d. 13.00
8. Weishi antara pukul 13.00 s.d. 15.00
9. Shenshi antara pukul 15.00 s.d. 17.00
10. Youshi antara pukul 17.00 s.d. 19.00
11. Youshi antara pukul 19.00 s.d. 21.00
12. Haishi antara pukul 21.00 s.d. 23.00

Sumber : Gunadi Js dan Hartono Js. 2017. Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.