Gejala serangan Maruca testulalis Geyer

Gejala serangan Maruca testulalis Geyer

Gejala serangan hama ini tampak pada bunga dan bakal polong yang rusak dan kemudian gugur. Satu ekor larva selama hidupnya dapat merusak 4-6 bunga per tanaman. Gerekan pada polong menyebabkan biji-biji di dalam polong menjadi rusak, kulit polong berlubang, dan dari lubang ini keluar serbuk gerek yang basah bercampur kotoran larva yang berwarna cokelat (Harahap, 1994).

Gejala serangan penggerek polong pada bunga akan mengalami kerusakan dan berwarna pucat. Bunga tidak berproduksi dengan baik. Polong juga mengalami penurunan produksi. Polong kacang hijau berlubang dan berbercak kecil berwarna gelap ( Parker dkk, 1995).

Larva menggerek daun, tunas, dan biji dan merusak pada bagian dalam. Ulat juga melubangi polong dan memakan biji yang telah matang. Pada polong terdapat kotoran larva (Ministry of Science & Technology, 2008).

M. testulalis (Gey.) menyerang bunga, tunas, dan buah polong dar sejumlah tanaman kacangan. Penyebarannya berada di kawasan tropis. Larva muda lebih suka pada kuncup bunga tempat dia makan. Larva ini juga memakan tunas, dan buah polong muda, dan memakan daunnya. Larva berwarna kehijauan dengan kepala yang berwarna cokelat dan hitam dan panjangnya mencapai 16 mm. Pupa ditemukan di tanah dengan kokon sutera (Kalshoven, 1981).

Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh faktor faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan foroperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap hama. Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, falvonoid yang berpengaruh terhadap ketahanannya terhadap hama. Pengaruh tidak langsungnya adalah kaitannya dengan musuh alami hama baik predator, parasitoid dan patogen (Wiyono, 2007).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.