Nafsu Yang Tidak Terkendali Menurut Agama Khonghucu

Nafsu yang Tidak Terkendali Menurut Agama Khonghucu

Seperti halnya watak sejati yang di dalamnya terkandung benihbenih kebajikan: Cinta kasih, kebenaran, kesusilaan, dan kebijaksanaan yang mutlak dimiliki oleh semua orang (tanpa kecuali), begipun halnya dengan nafsu (daya rasa) yang terdiri dari perasaan: gembira, marah, sedih, dan senang/suka adalah juga hal yang pasti dimiliki oleh semua orang.

Nafsu (daya rasa) yang disebutkan itu dapat terjadi kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja, dan manusia sering kali atau tidak mempunyai kendali atas kapan ia dilanda emosi, juga emosi apa yang akan melandanya, tetapi paling tidak manusia dapat memperkirakan berapa lama emosi itu akan berlangsung menguasai dirinya.

Banyak pengaruh-pengaruh dari luar diri yang dapat memicu timbulnya nafsu yang ada di dalam diri. Bila ‘nafsu’ di dalam diri itu telah terpicu, maka bersamaan dengan itu tubuh akan bergerak melakukan sesuatu, dan hal ini akan berakibat tidak baik bila berlebihan atau tidak dapat dikendalikan. Pada kondisi seperti inilah harus ada sesuatu yang dapat meredam atau mengendalikan nafsu-nafsu tersebut, inilah fungsi watak sejati.

Nafsu, dengan kuat menggerakan tubuh untuk melakukan hal-hal tertentu sampai sepuas-puasnya (melampaui batas-batas kewajaran). Hal ini tentu saja berbahaya, sangat berbahaya! Watak sejati meredam, membendung, mengendalikan agar semuanya tetap berada pada batas kewajaran yang tidak melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Dapat mengendalikan nafsu-nafsu yang timbul tetap berada pada batas kewajaran (batas tengah) inilah dimaksud harmonis.

Nafsu apabila dapat dikendalikan, akan menjadikan orang memiliki kedewasaan sikap. Nafsu akan mampu membimbing, menggerakan pikiran, menciptakan nilai-nilai bagi kelangsungan hidup kita. Tetapi nafsu dengan mudah menjadi tidak terkendali, dan hal itu memang sering kali terjadi. Masalahnya bukanlah karena nafsu itu sendiri, melainkan mengenai keselarasan antara nafsu dan cara mengekpresikannya, maka pertanyaannya adalah, “Bagaimana kita membawa kecerdasan ke dalam emosi kita? Mengzi berkata;

  1.  “Pohon di gunung Giu, mula-mula indah dan rimbun, tetapi karena letaknya dekat dengan sebuah negeri yang besar lalu dengan semena-mena ditebang, masih indahkah kini?”
    Benar, dengan istirahat tiap hari tiap malam, disegarkan oleh hujan dan embun, tiada yang tidak bersemi dan bertunas kembali, tetapi lembu-sapi dan kambingdomba digembalakan di sana, maka menjadi gundullah dia. Orang melihat keadaan yang gundul itu lalu menganggap memang selamanya belum pernah ada pohon-pohon di sana.”
  2. “Tetapi benarkah itu hakikat sifat gunung? Cinta kasih dan kebenaran yang dijaga di dalam hati manusia kalau sampai tiada lagi, tentulah karena sudah terlepas hati nuraninya (liangxing), hal itu seperti pohon-pohon yang ditebang dengan kapak, kalau tiap-tiap hari ditebang, dapatkah menunjukkan keindahannya?”
    Dengan bergantinya siang dan malam orang dapat beristirahat, lalu pagi harinya beroleh kesegaran kembali; tetapi karena kegemarannya akan hal-hal yang buruk dan kurangnya kehendak saling mengerti dengan orang lain, maka perbuatan pada siang harinya itu memusnahkan kembali yang sudah diperolehnya. Kalau kemusnahan ini berulang-ulang terjadi, kesengsaraan yang diperoleh karena hawa malam itu, tidak cukup untuk menjaganya. Kalau kemusnahan ini berulang-ulang terjadi, kesegaran yang diperoleh karena hawa malam itu tidak cukup untuk menjaganya.
    Kalau kesegaran yang diperoleh karena hawa malam itu tidak cukup untuk menjaganya, bedanya dengan burung atau hewan sudah tidak jauh lagi. Kalau orang melihat keadaan yang sudah menyerupai burung atau hewan itu, ia lalu menyangka bahwa memang demikian watak dasarnya. Tetapi benarkah itu sungguhsungguh merupakan rasa hatinya?”
  3. Maka kalau dirawat baik-baik, tiada barang yang tidak akan berkembang, sebaliknya, kalau tidak dirawat baik-baik tiada barang yang tidak akan rusak.” (Mengzi. VI A: 8/1-3)

Ayat di atas menunjukan bahwa watak sejati manusia yang pada dasarnya baik itu dapat dirusakkan oleh nafsu-nafsu yang tidak terkendali, jadi bukan karena watak dasar (watak sejatinya) itu buruk adanya.

Sumber : Gunadi Js dan Hartono Js. 2017. Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.