Klasifikasi Dan Morfologi Timun Suri

Klasifikasi Dan Morfologi Timun Suri

Jika dulu dikenal blewah sekarang ada lagi timun suri untuk bahan minuman atau es buah yang lezat. Timun Suri banyak manfaatnya dengan kandungan vitamin A yang tinggi, anti kanker, penyerap racun dan sumber energi. Buah timun suri mudah dikenal dengan warnanya kuning dengan bentuk mirip timun namun berukuran lebih besar dan agak membulat (Astawan, 2008).

Klasifikasi Timun Suri

Menurut Zulkarnain (2013) kedudukan tanaman timun suri dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis lativus

Morfologi Timun Suri

a. Batang Timun Suri

Timun suri merupakan tanaman semusim (annual) yang bersifat menjalar atau memanjat dengan perantaraan pemegang yang berbentuk pilin (spiral). Batangnya basah, berbuluh kasar serta berbuku-buku. Dan mempunyai panjang 0,5-2,5 meter, bercabang dan bersulur yang tumbuh di sisi tangkai daun. agar pertumbuhannya baik, batang tanaman ditegakkan sehingga lurus perkembangannya. Dengan cara seperti ini, diharapkan pangkal batang dapat tumbuh kokoh lurus sehingga dapat mamacu pertumbuhan tunas dibagian atasnya dan mengurangi kerimbunan di bagian bawah (Imdad dan Nawangsih, 1995).

b. Daun Timun Suri

Daun timun suri berbentuk bulat lebar dan daun tunggal dengan bagian ujung yang runcing menyerupai bentuk jantung, tepi bergerigi. Kedudukan daun pada batang tanaman berselang seling antara satu daun dengan daun diatasnya, bertangkai panjang dan berwarna hijau.

Panjang 7-18 cm dan lebar 7-15 cm daun ini tumbuh berselang-seling keluar dari buku-buku (ruas) batang (Padmiarso, 2012).

c. Bunga Timun Suri

Bunga tanaman Cucumis lativus ada yang jantan berwarna putih kekuningan dan bunga betinanya berbentuk seperti terompet yang ditutupi oleh bulu-bulu. Perbungaannya berumah satu (monoecious) dengan tipe bunga jantan dan bunga hermafrodit (banci). Bunga pertama yang dihasilkan, biasanya pada usia 4-5 minggu, adalah bunga jantan. Bunga-bunga selanjutnya adalah bunga banci apabila pertumbuhannya baik. Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya biasanya jumlah buah dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik (Padmiarso, 2012).

Bunga timun suri bersifat tidak mantap, karena sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Menurut Sunaryono, (1981) “dalam” Padmiarso, (2012) terutama untuk jenis tanaman timun suri yang berada di Indonesia, letak bunga jantan dan bunga betina berpisah, tetapi masi dalam satu tanaman (pohon) atau disebut “Monoecious”. Pada variasi kelamin bunga monoceeus, persentase bunga jantan dan betina hampir sama jumlahnya. Di daerah yang panjang penyinaran sinar mataharinya lebih dari 12 jam/hari, intensitasnya tinggi dan suhu udaranya panas, tanaman timun suri cenderung memperlihatkan lebih banyak bunga jantan (gynoecious) dari pada bunga betina.

d. Buah Timun Suri

Buah timun suri letaknya di bawah dari ketiak antara daun dan batang. Bentuk dan ukurannya bermacam-macam, tetapi umumnya bulat panjang atau bulat pendek (Padmiarso, 2012). Kulit buah ada yang berbintil-bintil, ada pula yang halus. Warna kulit buah antara hijau keputih-putihan, hijau muda dan hijau gelap (Soewito, 1990).

Kulit buah sangat tipis, basah dan berduri halus yang tersebar secara tidak beraturan di bagian tengah buah. Kulit berwarna hijau gelap, terdapat strip membujur berwarna hijau muda yang dimulai dari pangkal buah hingga ujung buah. Daging buah berwarna putih, lunak, dan mengandung air dalam jumlah besar. Lapisan paling dalam berupa lender dan biji dapat dimakan (Imdad dan Nawangsih, 1995).

e. Biji Timun Suri

Apabila buah timun suri dibelah memanjang maka akan tampak biji timun suri yang tersusun teratur dibagian tengah buahnya, berjumlah banyak dengan bentuk lonjong meruncing (pipih), kulitnya berwarna putih atau putih kekuning-kuningan sampai coklat. Pada permukaan bijinya terdapat lendir, sehingga bila digunakan sebagai benih harus dikeringkan terlebih dahulu. Biji ini dapat digunakan sebagai alat perbanyakan tanaman (Padmiarso, 2012).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.