Hama Pada Tanaman Timun Suri

Hama Pada Tanaman Timun Suri (Cucumis lativus)

Keberadaan binatang pada ekosistem pertanian sangat penting peranannya dalam menjaga kestabilan ekosistem. Mengingat tidak semua binatang merugikan kepentingan manusia maka perlu dibuat suatu batasan yang jelas tentang istilah hama (Suyanto, 1994).

Hama adalah hewan atau binatang yang merusak pertanaman dengan cara memakan, menghisap, menggerek, atau mencemari organ penting tanaman. Pada tanaman timun suri, sebagian besar hama rusak berupa serangga atau insekta, misalnya jenis kepik, kumbang, ulat, oteng-oteng dan kutu daun. Kerugian secara ekonomi oleh serangan hama dapat terjadi karena tanaman atau bagian tanaman yang dibudidayakan manusia di rusak oleh hama dengan cara menggit dan mengunyah secara langsung, menusuk dan menghisap serta menggerek. Keberadaannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Apabila lingkungan kering atau panas, populasi hama ini berkembang cepat, sebaliknya di musim hujan jumlahnya berkurang (Imdad dan Nawangsih, 1995).

Jenis serangga pengganggu yang ditemukan di kebun biasanya banyak dipengaruhi oleh pertanaman lain yang ada disekitarnya. Namun, ada beberapa jenis serangga hama yang dianggap penting dan bisa merusak tanaman timun suri atau tanaman lain dari family Solanaceae (Suyanto, 1994).

Adapun jenis hama yang terdapat pada timn suri Cucumis lativus yaitu :

1. Lalat Singgat (Dacus cucurbitae Ceq)

Lalat buah ini menyerang buah yang masih muda dan yang tua. lalat buah dewasa memliki ciri-ciri tubuh yang berwarna kuning, berukuran 1 mm–2 mm, dan bersayap. Pada bagian tepi sayap terdapat bercak berwarna coklat kekuningan, dan ovipositornya terdiri atas tiga ruas. Telur lalat buah dapat berjumlah ± 120 butir yang diletakkan dibawah kulit buah dengan bantuan ovipositornya. Telur tersebut akan meletas dalam waktu 2- 3 hari, sehingga menjadi berenga. Satu daur hidupnya berlangsung antara 23-34 hari, sehingga dalam waktu satu tahun maupun berkembang biak sebnyak 8-10 generasi (Samadi, 2002).

Serangan pada buah mentimun dilakukan oleh lalat betina dengan menusukkan ovipositornya pada buah mentimun muda dan meletakkan telurnya kedalam lapisan epidermis buah tersebut. Dalam waktu 2-3 hari, telur akan meletas menjadi berenga (larva). Larva inilah yang akan memakan daging buah hingga akhirnya buah membusuk (Samadi, 2002).

2. Oteng-Oteng (Aulocophora similis Oliver)

Kumbang ini termasuk dalam ordo coleopteran, penyerangannya dengan cara meletakan telur ketanah dekat tanaman, larva memakan jaringan akar, kumbang memakan daun dan bunga, kumbang ini berwarna kuning kecoklatan, dan juga merupakan vector penyakit virus dan layu (Rukmana, 1994).

Hama kumbang ini bertubuh kecil dan bersayapnya berwarna kuning mengkilap. Hama oteng-oteng bersifat polipag (pemakan segala jenis tanaman), aktif menyerang tanaman pada malam hari, dan berlindung di balik daun pada siang hari. Hama oteng-oteng dapat bergerak cepat karena memiliki sayap untuk terbang. Serangan hama oteng-oteng ditandai dengan adanya lubang pada daun karena daging daun dimakan, sehingga pada serangan yang cukup berat hanya akan tersisa tulang-tulang daunnya saja (Samadi, 2002).

3. Kutu Daun (Aphis gossypii Glow)

Kutu daun merupakan hama yang tersebar hampir di seluruh dunia. Kutu daun merupakan hama utama pada tanaman kapas dan timun- timunan (Famili Cucurbitaseae), dan merupakan hama minorb pada berbagai tanaman lain seperti bawang, okra, tembakau, kakao, dan lain lain. A. gossypii berukuran 1 mm -2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Menyerang pucuk dtanaman sehingga daun keriput, keritting dan menggulung, selain itu kutu ini juga merupakan vektor virus (Samadi, 2002).

4. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

Ulat ini berwarna hitam atau coklat gelap dan menyerang tanaman terutama yang masih muda. ulat dibentuk di permukaan bawah tanah dengan kokon terbuat dari tanah. Fase pupa adalah 5–6 hari. Daur hidup A. ipsilon dari telur sampai dewasa adalah 36–42 hari. Lamanya daur hidup tergantung pada tinggi rendahnya suhu udara. Gejala serangan ditandai dengan terpotongnya tanaman pada pangkal batang atau tangkai daun. Pangkal batang yang digigit akan mudah patah dan mati. Kerusakan berat biasanya terjadi pada awal musim kemarau. Pengendalian: mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida (Soewito, 1990).

5. Ulat Daun (Diaphania indica)

Ulat daun Diaphania indica merupakan salah satu hama serius pada tanaman timun di Asia dan Afrika. ulat ini juga menyerang timun di Indonesia. Lavar ulat berwarna hijau gelap dengan dua garis putih sepanjang tubuh. Larva memakan daun, batang muda yang lunak dan menggerak buah. Kerusakan yang paling merugikan adalah jika larva menyerang buah timun suri. Pada buah yang terserang terlihat lubang pada permukaan buah, menyebabkan buah menjadi tidak layak untuk dikomsumsi dan dijual serta menyebabkan buah menjadi cepat busuk (Brown, 2003).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.