Habitat Burung Perkutut

Habitat Burung Perkutut

Satwa liar menempati habitat sesuai dengan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupannya. Habitat yang sesuai bagi satu jenis satwa liar tertentu belum tentu sesuai untuk jenis lainnya karena setiap jenis satwa liar menghendaki kondisi habitat yang berbeda-beda. Burung sebagai salah satu komponen ekosistem hutan, dimana kehadirannya dalam ekosistem hutan memiliki arti penting bagi kelangsungan siklus kehidupan dalam hutan tersebut. Burung memerlukan tempat atau ruang yang digunakan untuk mencari makan, minum, berlindung, bermain dan tempat berkembang biak (Wikipedia Indonesia, 2012 dalam Pergola, 2013).

Habitat merupakan tempat makhluk hidup berada secara alami. Menurut Alikodra, 2002 dalam Syafrudin, 2011), habitat didefinisikan sebagai kawasan yang terdiri dari berbagai komponen, baik fisik maupun biotik, yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembangbiaknya satwaliar. Menurut (Odum, 1993 dalam Syafrudin, 2011), habitat adalah tempat organisme itu hidup, atau tempat ke mana seseorang harus pergi untuk menemukannya.

Habitat adalah tempat tinggal suatu mahluk hidup. Istilah habitat dapat juga dipakai untuk menunjukan tempat tumbuh sekelompok organisme dari berbagai spesies yang membentuk suatu komunitas. (Odum, 1993; Indriyanto, 2008 dalam Pratiwi, 2014). Habitat adalah suatu lingkungan dengan keadaan tertentu dimana suatu spesies atau komunitas hidup. Habitat yang baik akan mendukung perkembangbiakan organisme hidup didalamnya secara normal. Habitat memilki kapasitas tertentu untuk mendukung pertumbuhan suatu organisme. Kapasitas untuk mendukung suatu organisme disebut daya dukung habitat (Irwanto, 2006 dalam Pratiwi, 2014).

Burung dapat menempati tipe habitat yang beranekaragam, baik habitat hutan maupun habitat bukan hutan seperti tanaman perkebunan, tanaman pertanian, pekarangan, gua, padang rumput, savana dan habitat perairan (Alikodra, 2002; Syafrudin, 2011). Penyebaran jenis burung dipengaruhi oleh kesesuaian lingkungan tempat hidup burung, meliputi adaptasi burung terhadap perubahan lingkungan, kompetisi dan seleksi alam (Welty, 1982).

Hernowo (1985) dalam Putra (2014), mengatakan bahwa habitat yang baik harus dapat menyediakan pakan, air, tempat berlindung, tempat beristirahat dan tidur malam, serta tempat untuk berkembangbiak baik ditinjau dari segi kuantitas dan kualitas. Habitat secara sederhana dapat dikatakan sebagai tempat hidup burung itu berada. Pada prinsipnya burung memerlukan tempat untuk mencari pakan, berlindung, berkembang biak dan bermain. Tempat yang menyediakan keadaan yang sesuai dengan kepentingan diatas disebut dengan habitat (Odum, 1993), karena habitat merupakan bagian penting bagi distribusi dan jumlah burung (Bibby et al., 2000 dalam Rahmandani 2013).

Habitat perkutut berupa hutan, perkebunan (sawit/karet), agroforest, pemukiman dan umum dijumpai di dataran rendah sampai ketinggian 900 m. Jenis ini berasal dari Jawa, Bali, Lombok dan Sumatera. Perkutut belang asli yaitu perkutut lokal dan bangkok yang umum dipelihara, penyebaran lokal di Sumatera yaitu Simalungun, Batang Toru, dan Sumberjaya (Ayat, 2011).

Di seluruh dunia, tercatat 41 marga suku merpati-merpatian. Penyebarannya sentris, yakni hanya di Australia dan Asia Tenggara. Columbidae adalah suku yang tidak berpoligami/poliandri dalam berpasangan, dalam satu musim pembiakan, mereka cuma bertelur 2 butir, ciri umumnya yang lain, burung betina jarang berbunyi dan tidak semerdu yang jantan. Suku ini mempunyai keistimewaan, di antaranya mampu menghisap air sehingga tidak perlu mengangkat kepalanya saat minum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.