Ekologi Timun Suri (Cucumis lativus)

Ekologi Timun Suri (Cucumis lativus)

Daya adaptasi tanaman timun suri terhadap berbagai iklim (lingkungan tumbuhnya) cukup tinggi dan tidak memerlukan persyaratan khusus karena dapat ditanam dengan baik didataran tinggi maupun dataran rendah. Namun untuk memperoleh produksi optimal perlu diperhatikan beberapa persyaratan tertentu Menurut Sunaryono, (1981) “dalam” Padmiarso, (2012). Tanaman timun suri akan tumbuh dan memproduksi dengan baik apabila ditanam pada kondisi tanah dan iklim yang cocok dengan tanaman mentimun tersebut. Di Indonesia yang iklimnya tropis mentimun dapat di tanam dari dataran rendah hingga dataran tinggi +1.000 meter diatas permukaan laut (Zulkarnain, 2013).

Selama pertumbuhannya, tanaman timun suri membutuhkan iklim kering, sinar matahari yangn cukup (tempat terbuka), dan temperature berkisar antara 21,10C – 26,70C panjang atau lama penyinaran, intesitas cahaya, dan suhu udara, merupakan faktor yang sangat penting, karena berpengaruh terhadap munculnya bunga betina. Tanaman timun suri kurang baik ditanam dimusim penghujan, karena bunganya dapat berguguran, sehingga berkurang hasil buahnya (Padmiarso, 2012).

Tanaman timun suri tumbuh dengan baik di tanah lempung, yang subur dan gembur, banyak mengandung humus, tidak menggenang (becek), dan pH-nya berkisar antara 6-7, serta memiliki drainase yang baik. Jenis tanah yang cocok untuk penanaman timun suri adalah tanaman alluvial, latosol, dan andosol. Keasaman tanah yang dikehendaki berkisar antara 5,5-6,5. Suhu tanah hendaknya 20 derajat C atau lebih, suhu tanah yang optimum untuk perkecambahan benih adalah 25-35 derajat C. Pada suhu tanah sekitar 20 derajat C, dibutuhkan waktu 6-7 hari untuk munculnya kecambah, sedangkan suhu tanah 25 derajat C, dibutuhkan waktu perkecambahan yang lebih singkat, yaitu antara 3-4 hari (Zulkarnain, 2013).

Meskipun timun suri termasuk golongan tanaman dengan sistem perakaran yang dangkal, tanaman ini membutuhkan kelembaban tanah yang memadai untuk berproduksi dengan baik. Pada musim hujan, ketika suhu udara cenderung dingin, umumnya kelembaban tanah sudah cukup memadai untuk penanaman timun. Pada prinsipnya, pertumbuhan tanaman akan lebih baik dan hasil panen akan meningkat bila tanaman diberi air tambahan selama musim tumbuhnya. Di daerah yang beriklim kering, dibutuhkan setidaknya 400 mm air, selama musim tanam timun untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi yang baik (Zulkarnain, 2013).

Tanah-tanah yang sifat fisik, kimia dan biologinya kurang baik sering kali menghambat pertumbuhan tanaman timun suri, sehingga produksinya menurun dan kualitasnya rendah, misalnya, keadaan pH tanah terlalu rendah atau masam (di bawah 5) dapat menyebabkan tanaman timun suri kekurangan unsur hara, dan garam-garam mineral seperti Alumunium bersifat racun bagi tanaman. Tanah yang becek dapat memudahkan berjangkitnya serangan penyakit. Oleh karena itu dalam pengelolahan lahan untuk kebun timun suri perlu diperhatikan perbaikan drainase, pengolahan tanah secara sempurna, pemberian bahan organik, dan pengapuran (Padmiarso, 2012).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.