Klasifikasi Dan Morfologi Sengon

Klasifikasi Dan Morfologi Sengon

Berikut adalah klasifikasi ilmiah dari tanaman sengon (warisno, 2009):

Klasifikasi Sengon

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Sub kingdom : Tracheobionta (tanaman vasculer)
Super division : Spermatophyta (tanaman berbiji)
Division : Magnoliophyta (tanaman berbunga)
Classis : Magnoliopsida (dikotil)
Sub classis : Rosidae
Ordo : Fabales
Familia : Fabaceae (leguminoceae)
Genus : Paraserianthes
Spesies : Paraserianthes falcataria L. Nielsen.

Nama ilmiah tanaman sengon adalah Paraserianthes falcataria, namun juga sering disebut Albizzia falcataria. Kedua nama ilmiah ini dibenarkan secara ilmiah, namun Paraserianthes falcataria lebih dianjurkan penggunaannya (warisno, 2009).

Morfologi Sengon

a. Batang Sengon

Sengon (Paraserianthes falcataria) adalah salah satu pohon yang tercepat pertumbuhannya di dunia. Pada umur 1 tahun dapat mencapai tinggi 7 m dan pada umur 12 tahun dapat mencapai tinggi 39 m dengan diameter lebih dari 60 cm dan tinggi cabang 10-30 m. Diameter pohon yang sudah tua dapat mencapai 1 m, bahkan kadang lebih. Batang umumnya tidak berbanir, tumbuh lurus, dan silindris. Pohon sengon memiliki kulit licin, berwarna abu-abu, atau kehijau-hijauan (Siregar, 2008).

Pohon sengon umumnya berukuran cukup besar dengan tinggi pohon total mencapai 40 m dan tinggi bebas cabang mencapai 20 m. Diameter pohon dewasa dapat mencapai 100 cm atau kadang-kadang lebih, dengan tajuk lebar mendatar. Apabila tumbuh ditempat terbuka sengon cenderung memiliki kanopi yang terbentuk seperti kubah atau payung. Pohon sengon pada umumnya tidak berbanir meskipun dilapangan kadang dijumpai pohon dengan banir kecil. Permukaan kulit batang berwarna putih, abu-abu atau kehijauan, halus, kadang-kadang sedikit beralur dengan garis-garis lentisel memanjang (Krisnawati, 2011) Menurut Santoso (1992), Batang sengon tumbuh tegak lurus. Kulit luar batangnya licin dan berwarna kelabu keputih-putihan. Kayu sengon mempunyai serat membujur dan berwarna putih. Dapat dilihat pada. Oleh karena itu, orang melayu menyebut kayu sengon dengan nama kayu salawaku putih.

b. Daun Sengon

Daun sengon, sebagaimana famili Leguminoceae lainnya, merupakan pakan ternak yang sangat baik dan mengandung protein tinggi.pakan ternak yang sangat baik dan mengandung protein tinggi. Jenis ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing menyukai daun sengon tersebut. Selain sebagai pakan ternak, daun sengon yang berguguran akan menjadi pupuk hijau yang baik bagi tanah dan tanaman disekitarnya. Sementara itu, tajuk pohonnya yang berrbentuk perisai serta pohonnya yang besar dan rindang sudah sejak lama dimanfaatkan sebagai pohon penaung dibeberapa area perkebunan (Siregar, 2008)

Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda dengan panjang sekitar 23-30 cm. Anak daunnya kecil-kecil, banyak dan berpasangan, terdiri dari 15-20 pasang pada setiap sumbu (tangkai), berbentuk lonjong (panjang 6-12mm, lebar 3-5 mm) dan pendek kearah ujung. Dapat dilihat pada gambar 2.2. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau pupus dan tidak berbulu sedangkan permukaan daun bagian bawah lebih pucat dengan rambut-rambut halus (Krisnawati, 2011).

Tajuknya berbentuk perisai, jarang dan selalu hijau. Pohon sengon memiliki daun majemuk dengan panjang bisa mencapai 40 cm. Dalam satu tangkai daun terdiri dari 15-25 daun dengan daun berbentuk lonjong (Siregar, 2008).

Tajuk tanaman sengon berbentuk menyerupai payung yang tidak rimbun daunnya. Kita ketahui, daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda, sedangkan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok, daunnya yang rontok itu justru cepat meningkatkan kesuburan tanah. Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen (N2) dan karbon doksida (CO2) dari udara bebas (Santoso, 1992).

c. Bunga Sengon

Bunga sengon tersusun dalam malai berukuran panjang 12 mm, berwarna putih kekuningan dan sedikit berbulu, berbentuk seperti saluran atau lonceng. Dapat dilihat pada gambar 2.3. Bunganya biseksual, terdiri dari bunga jantan dan bunga betina( Krisnawati, 2011).

Perbungaan tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai. Bunganya kecil sekitar 0,5-1 cm, dan sedikit berbulu. Setiap kuntum bunga yang mekar berisi bunga jantan dan betina. Adapun cara penyerbukannya dibantu dengan perantara angin atau serangga (Santoso, 1992).

Tanaman sengon mulai belajar berbunga pada umur 3 tahun. Secara umum, bunga sengon berbentuk seperti kupu-kupu. Bunga sengon berkelamin ganda, artinya dalam satu bunga terdapat bunga jantan dan betina, namun penyerbukannya seringkali merupakan penyerbukan silang, bukan penyerbukan sendiri (Warisno, 2009).

Tanaman sengon biasanya berbunga pada bulan Maret-Juni dan Oktober-Desember, namun pola ini dapat berubah karena pengaruh iklim. Kondisi iklim, terutama curah hujan, sinar matahari, dan suhu udara mempengaruhi pembungaan tanaman sengon (Warisno, 2009).

d. Buah Sengon

Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, tidak bersekat-sekat dan berukuran panjang 10-13 dan lebar 2 cm. Setiap polong buah berisi 15-20 biji. Biji sengon berbentuk pipih, lonjong, tidak bersayap, berukuran panjang 6 mm, berwarna hijau ketika masih muda dan berubah menjadi kuning sampai coklat kehitaman jika sudah tua, agak keras dan berlilin (Krisnawati, 2011).

Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis dan panjangnya sekitar 6-12 cm. Setiap polong buah berisi 15-30 biji. Biji tersebut biasanya terlepas dari polongnya yang terbuka bila masak (Santoso, 1992).

e. Biji Sengon

Biji sengon berbentuk pipih dengan lebar sekitar 3-4 mm dan panjang 6-7 mm. Biji sengon termasuk biji ortodok, di mana biji mampu disimpan lama asalkan kadar airnya rendah (6-8%). Biji sengon memiliki daya kecambah yang cukup tinggi, hingga mencapai 80% (Warisno, 2009)

Biji berwarna hijau dan ketika sudah tua berwarna coklat tua kekuningan. Biji sengon berbentuk pipih dengan kulit tebal, tidak bersayap, tanpa endosperma dengan lebar 3-4 mm dan panjang 6-7 mm. Pada bagian tengah terdapat garis melingkar berwarna hijau dan coklat (Siregar, 2008). Ditambahkan Santoso (1992) Bentuk bijinya mirip perisai kecil, dan jika sudah tua biji tersebut berwarna coklat kehitam-hitaman, agak keras dan berlilin.

f. Akar Sengon

Akar dari pohon sengon berupa serabut atau sering disebut rambut akar. Akar-akar ini membantu menyerap air dan unsur hara. Selain itu, pada akar sengon juga terdapat bintil akar yang merupakan hasil simbiosis tanaman sengon dengan bakteri pengikat nitrogen. Dengan adanya bintil akar, tanaman sengon dapat mengikat nitrogen bebas sendiri (Warisno, 2009)

Akar sengon relatif menguntungkan dibandingkan akar pohon lainnya. Akar tunggangnya cukup kuat menembus kedalam tanah. Semakin besar pohonnya semakin dalam akar tunggangnya menembus ke dalam tanah. Sementara itu, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun atau semrawut, dan tidak menonjol kepermukaan tanah. Akar rambut tersebut justru dimanfaatkan oleh pohon induknya untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon akan menjadi subur (Santoso, 1992).

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.