Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti

Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti

Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) yaitu dengan bentuk siklus hidup berupa telur, larva, pupa dan dewasa. Larva Ae. aegypti terdiri dari empat stadium yaitu larva instar I, II, III, dan IV.

a. Telur

Telur yang baru dikeluarkan berwarna putih tetapi sesudah 1 – 2 jam berubah menjadi hitam. Telur Aedes berbentuk bulat panjang (oval) menyerupai torpedo, mempunyai dinding yang bergaris-garis yang menyerupai sarang lebah. Telur tidak berpelampung dan diletakkan satu persatu terpisah di atas permukaan air dalam keadaan menempel pada dinding tempat perindukannya (Depkes RI, 2004).

Judarwanto (2007) menyatakan bahwa telur tersebut diletakkan secara terpisah di permukaan air agar mudah menyebar dan berkembang menjadi larva di dalam media air. Media air yang dipilih untuk tempat peneluran itu adalah air bersih yang stagnant (tidak mengalir) dan tidak berisi spesies lain sebelumnya. Sejauh ini, informasi mengenai pemilihan air bersih yang stagnant sebagai habitat bertelur Aedes aegypti banyak dilaporkan oleh peneliti serangga vektor tersebut dari berbagai negeri.

Selanjutnya dinyatakan oleh Saryono (2008) bahwa telur Ae. aegypti dapat bertahan pada kondisi kering. Jika air tergenang beberapa telur mungkin menetas dalam beberapa menit, sedangkan yang lain mugkin membutuhkan waktu lama terbenam dalam air, kemudian penetasan berlangsung dalam beberapa hari atau minggu. Seekor nyamuk betina meletakkan telurnya rata-rata sebanyak 100 butir setiap kali bertelur. Telur dapat bertahan sampai berbulan-bulan dalam suhu 2-24°C, namun akan menetas dalam waktu 1-2 hari pada kelembaban rendah. Telur diletakkan di air menetas menjadi larva dalam waktu 2-7 hari pada suhu 16°C (Depkes RI, 2004).

b. Larva atau Jentik

Larva Aedes memiliki sifon yang pendek dan hanya ada sepasang sisir subventral yang jaraknya tidak lebih dari ¼ bagian dari pangkal sifon dengan satu kumpulan rambut. Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar. Keempat instar itu dapat diselesaikan dalam waktu 4 hari – 2 minggu tergantung keadaan lingkungan seperti suhu air dan persediaan makanan (Depkes RI, 2005).

c. Pupa

Menurut Nadesul (2007) pupa adalah fase inaktif yang tidak membutuhkan makan, namun tetap membutuhkan oksigen untuk bernafas. Untuk keperluan pernafasannya pupa berada di dekat permukaan air. Lama fase pupa bergantung pada suhu air dan spesies nyamuk yang lamanya dapat berkisar antara satu hari sampai beberapa minggu. Setelah melewati waktu itu maka pupa membuka dan melepaskan kulitnya, kemudian imago keluar ke permukaan air yang dalam waktu singkat siap terbang. Pupa sangat sensitif terhadap pergerakan air dan belum dapat dibedakan antara jantan dan betina.

d. Nyamuk dewasa

Nyamuk dewasa yang baru saja keluar dari pupa akan istirahat di permukaan air untuk sementara waktu menunggu sayapnya kering dan tubuhnya menjadi lebih kuat. Nyamuk akan segera melakukan perkawinan dan yang betina akan menghisap darah untuk perkembangan telur yang akan dihasilkannya sedangkan nyamuk jantan akan mencari nektar. Pada umumnya umur nyamuk adalah 7-20 hari (Sayono dan Sumanto, 2012).

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!